Sabtu, 05 September 2020

Akhlak3

24. حَامِدٌ وَ جِيْرَانُهُ

حَامِدُ وَلَدٌ طَيِّبُ الْقَلْبِ، حَسَنُ اْلْآدَابِ، مَحْبُوْبٌؤعِنْدَ أُسْرَتِهِ وَجِيْرَانِهِ، لِأَنَّهُ مَا يُؤْذِى أَوْلَادَهُمْ وَلَا يَتَخَاصَمُ أَوْيَتَشَاتَمُ مَعَهُمْ، وَلَا يُقَاطِعُ أَحَدًا مَنْهُمْ. وَكَانَ يَتَعَلَّمُ مَعَ أَوْلَادِ جِيْرَانِهِ، فِي مَدْرَسَةٍ وَاحِدَةٍ، وَكُلَّ يَوْمٍ يَمْشِى مَعَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسِيْرَ إِلَى الْمَدْرَسَةِ، وَكَذَالِكَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ، وَفِي وَقْتِ اللَّعِبِ يَلْعَبُ مَعَهُمْ، وَكَانَ يُحِبَّ أَنْ يُسَاعِدَ الْمُحْتَاجِيْنَ مِنْهُمْ، وَإِذَا لَمْ يَرَ أَحَدَهُمْ، سَأَلَ عَنْهُ، وَإِذَا مَرِضَ زَارَهُ فِي بَيْتِهِ. وَهَكَذَا عَاشَ حَامِدٌ، مَعَ أَوْلَادِ جِيْرَانِهِ فِي أُنْسٍ وَسُرُوْرٍ، وَاتِّحَادٍ وَتَوَادٍّ، بِحُسْنِ آدَابِهِ، وَطِيْبِ قَلْبِهِ

حامد و جيرانهُ

Hamid  dan tetangganya

● Hamid adalah anak yang baik hati lagi baik adabnya, dicintai keluarga dan tetangganya. Karena dia tidak menyakiti anak-anak mereka, tidak berkelahi dan tidak mencela mereka, begitu juga ia tidak menyakiti seorangpun dari anak-anak mereka.

● Ia pun belajar bersama-sama dengan anak-anak tetangganya disekolah yang sama. Dan setiap hari ia berjalan bersama-sama dengan mereka, apabila ia hendak pergi kesekolah. Begitu juga ketika ia hendak pulang, dan ketika diwaktu bermain ia pun bermain  bersama mereka. Ia juga suka membantu orang-orang yang sedang memiliki hajat diantara mereka. Apabila ia tidak melihat anak-anak tetangganya itu ia pun menanyakannya. Apabila salah seorang dari mereka sakit ia pun berkunjung kerumahnya (untuk menjenguk).

● Demikian kehidupan hamid bersama anak-anak tetangganya dalam kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan, persatuan dan rasa cinta, dengan baiknya adab dan baiknya hati.

قبل الذهاب إلى المدرسةِ

1. يَجِبُ عَلَى التِّلْمِيْذِ أَنْ يُحِبَّ التَّرْتِيْبَ وَالنَّظَافَةَ دَائِمًا: يَقُوْمُ مِنْ نَوْمِهِ كُلَّ صَبَاحٍ مُبَكِّرًا، فًيَغْتَسِلُ بِالصَّابُوْنِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى الصُّبْحَ جَمَاعَةً، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ بُصَافِحُ وَالِدَيْهِ، ثُمَّ يَلْبَسُ مَلَابِسَ الْمَدْرَسَةِ، نَظِيْفَةً مُرَتَّبَةً، ثُمَّ يَنْظُرُ دُرُوْسَهُ، الَّتِى قَدْ طَالَعَهَا قَبْلَ النَّوْمِ. 2. وَبَعْدَ أَنْ يُفْطِرَ، يُرَتِّبُ أَدَوَاتِهِ فِي الْمَحْفَظَةِ، فَيَسْتَأْذِنُ وَالِدَيْهِ، لِلذَّهَابِ إِلَى الْمَدْرَسَةِ

Sebelum berangkat kesekolah

●Wajib bagi seorang murid untuk selalu menyukai kerapian dan kebersihan.  bangun dari tidurnya setiap pagi lebih cepat, kemudian ia mandi dengan sabun, kemudian ia berwudhu’ dan shalat subuh berjamaah, dan setelah shalat ia bersalaman dengan kedua orang tuanya. Kemudian ia memakai pakaian sekolah yang bersih dan rapi, kemudian ia memperhatikan pelajaran-pelajarannya yang ia telah pelajari sebelum tidur.
●Dan setelah ia sarapan dan merapikan alat-alat tulisnya ditas, kemudian ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berangkat kesekolah.

آدب المشي في الطريقِ

1.يَنْبَغِى لِلتِّلْمِيْذِ أَنْ يَمْشِيَ مُسْتَقِيْمًا: لَايَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلَاشِمَالًا بِغَيْرِ حَاجَةٍ، وَلَا يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَةٍ لَاتَلِيْقُ بِهِ، وَلَايُسْرِعُ جِدًّا فِي مَشْيِهِ وَلَايُبْطِئُ، وَلَايَأْكُلُ أَوْيُغَنِّى، أَوْ يَقْرَأُ كِتَابَهُ وَهُوُيَمْشِى.
2.وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ الْوَحَلِ وَاْلْأَوْسَاخِ، لِكَيْلَا يَسْقُطَ أَوْ يَتَوَسَّخَ ثَوْبُهُ، وَيَبْتَعِدَ أَيْضًا عَنِ الزِّحَامِ، لِكَيْلَا يَصْطَدِمَ بِأَحَدٍ، أَوْيَضِيْعَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَدَوَاتِهِ، وَأَنْ لَايَقِفَ فِي الطَّرِيْقِ، لِأَجْلِ الْفُضُوْلِ،أَوْيَسْتَوْقِفَ أَحَدَ زُمَلَائِهِ، حَتَّى لَا يَتَأَخَّرَ عَنْ مِيْعَادِ الْمَدْرَسَةِ.
3.إِذَا مَشَى مَعَ زُمَلَائِهِ، فَلَا يَمْزَحْ مَعَهُمْ، وَلَا يَرْفَعْ صَوْتَهُ إِذَاتَكَلَّمَ، أَوْضَحِيْكَ، وَلَايَسْتَهْزِئْ بِأَحَدٍ، فَكُلُّ ذَالِكَ قَبِيْحٌ جِدًّا، وَلَا يَلِيْقُ بِالتِّلْمِيْذِ الْمُهَذَّبِ.
4.وَلَا يَنْسَ السَّلَامَ عَلَى مَنْ يُصَادِفُهُ فِي طَرِيْقِهِ وَخُصُوْصًا إِذَا كَانَ وَالِدَهُ أَوْ أُسْتَاذَهُ
Adab berjalan dijalanan

●Selayaknya bagi seorang pelajar ia berjalan dengan lurus artinya ia tidak menoleh kekanan dan kekiri jika tidak ada keperluannya. tidak bergerak dengan gerakan yang tidak pantas. Tidak mempercepat jalannya dan tidak pula lamban . Juga ia tidak makan (sambil berjalan) ataupun bernyanyi-nyanyi atau  membaca bukunya sedangkan ia sedang berjalan.

●Hendaknya ia menjauhi lumpur dan kotoran agar ia tidak terjatuh ataupun akan mengotori pakaiannya, hendaknya pula ia menjauhi dari berdesak-desakan agar tidak terjadi tabrakan atau benturan dengan seorangpun atau kehilangan sesuatu dari peralatan-peralatan sekolahnya. Hendaknya seorang pelajar juga tidak berdiri ditengah jalan karena perkara yang sia-sia atau tidak bermanfaat (fudhul). Atau memberhentikan salah seorang kawannya sehingga ia terlambat dari waktu yang telah ditetapkan sekolah.

●Jika seorang pelajar berjalan bersama kawan-kawannya maka jangannya ia mengajak bercanda mereka, atau mengeraskan suaranya ketika berbicara atau tertawa, dan janganlah ia mengolok-olok seorang pun karena semua itu adalah perbuatan yang buruk dan tidak pantas hal itu bagi seorang murid yang terdidik.

●Janganlah juga ia lupa mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya dijalan, lebih khususnya lagi jika yang ditemuinya adalah orang tuanya atau gurunya.
آداب التلميذ في المدرسةِ

1.إِذَاوَصَلَ التِّلْمِيْذُ إِلَى مَدْرَسَتِهِ يَمْسَحُ حِذَاءَهُ بِالْمِمْسَحَةِ، ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى قِسْمِهِ، فَيَفْتَحُ بَابَهُ بِلُطْفٍ، وَيَدْخُلُ بِأَدَبٍ، وَيُسَلِّمُ عَلَى زُمَلَائِهِ وَيُصَافِحُهُمْ، وَهُوَ مُبْتَسِمٌ، قَائِلًا: صَبَاحُ الْخَيْرِوَالسُّرُوْرِ، ثُمَّ يَضَعُ مَحْفَظَتَهُ فِي دُرْجِ مَقْعَدِهِ، وَإِذَاجَاءَ أُسْتَاذُهُ، يَقُوْمُ مِنْ مَحَلِّهِ، وَيَسْتَقْبِلُهُ بِكُلِّ أَدَبٍ وَاْحْتِرَامِ، وَيُصَافِحُهُ. 2.وَإِذَا دَقَّ الْجَرَسُ وَقَفَ مَعَ إِخْوَانِهِ فِي الصَّفِّ مُعْتَدِلًا، وَلَايَتَكَلَّمُ أَوْ يَلْعَبُ مَعَهُمْ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَصْلَهُ بَعْدَ إِشَارَةِ الْمُعَلِّمِ، بِكُلِّ هُدُوْءٍ وَسُكُوْنٍ، فَيَقْصِدُ مَقْعَدَهُ وَيَجْلِسُ جِلْسَةً طَيِّبَةً: بِأَنْ يَسْتَقِيْمَ، وَلَا يُعَوِّجَ ظَهْرَهُ، وَلَايُحَرِّكَ رِجْلَيْهِ، وَلَا يُزَاحِمَ غَيْرَهُ، وَلَا يَضَعَ رِجْلًا عَلَى رِجْلٍ، وَلَايَبْعَثَ بِيَدَيْهِ، وَلَايَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ. 3.وَأَنْ يُنْصِتَ لِلدَّرْسِ، وَلَايَلْتَفِتَ يَمِيْنًا وَلَاشِمَالًا، بَلْ يُقَابِلَ أُسْتَاذَهُ، وَلَايُكَلِّمَ أَحَدًا أَوْيُضْحِكَهُ، لِأَنَّ ذَالِكَ يَمْنَعُهُ عَنْ فَهْمِ الدَّرْسِ، وَيَمْنَعُ غَيْرَهُ أَيْضًا عَنْ فَهْمِهِ، فَيَغْضَبُ عَلَيْهِ الْأُسْتَاذُ، وَإِذَا لَمْ يَفْهَمْ دُرُوْسَهُ، فَلَابُدَّ أَنْ يَسْقُطَ فِي الْإِمْتِحَانِ

Adab seorang pelajar disekolah

●Apabila seorang pelajar telah sampai kesekolahnya, ia akan membersihkan sepatunya dengan alat pembersih, kemudian ia pergi ke kelasnya, dan ia membuka pintu dengan perlahan, masuk dengan penuh adab dan memberi salam kepada kawan-kawannya dan bersalaman dengan mereka semua dan wajahnya dalam keadaan tersenyum. Seraya berkata, “ Pagi gembira dan penuh bahagia” , kemudian ia meletakkan tasnya di laci tempat duduknya. Dan apabila gurunya datang ia berdiri dari tempatnya dan menghadap kearahnya dengan penuh adab dan penghormatan, serta bersalaman dengan gurunya.

●Dan apabila bel telah berbunyi ia berdiri bersama saudara-saudaranya di barisan secara lurus dan rapi, dan tidak berbicara ataupun bercanda dengan mereka, kemudian ia masuk kedalam kelas setelah ada isyarat (aba-aba) dari pengajarnya, ia masuk dengan sangat perlahan dan tenang. Kemudian ia mengarah ke tempat duduknya dan duduk dengan cara duduk yang baik, yaitu dengan tegak dan tidak membengkokkan punggungnya (ini adalah cara duduk yang salah) dan tidak menggerak-gerakkan kakinya dan tidak berdesakd-desakan dengan orang lain, dan tidak meletakkan kakinya diatas kaki orang lain (yang dimaksud adalah menginjak), dan tidak mendorong-dorong (orang lain) dengan tangannya. Dan tidak meletakkan tangannya dipipinya.

●Hendaknya seorang pelajar itu tenang dan memperhatikan pelajaran, tidak menoleh kekanan maupun kiri, akan tetapi ia harus  menghadap kegurunya, dan tidak mengajak berbicara siapapun atau menertawainya karena yang demikian itu akan menahannya dari memahami pelajaran (membuatnya tak paham pelajaran), dan mencegah yang lain juga untuk memahami pelajaran. Sehingga gurunya akan marah, ketika ia tidak paham akan pelajarannya, maka mengakibatkan ia tidak lulus ketika ujian.
كيف يحافظ التلميذ على أدواته؟

1.يَجِبُ أَنْ يُحَافِظَ التِّلْمِيْذُ عَلَى أَدَوَاتِهِ:  بِأَنْ يُرَتِّبَهَا جَمِيْعًا فِي مَحَلِّهَا، كَيْلَا تَتَغَيَّرَ، أَوْتَضِيْعَ، أَوْتَتَوَسَّخَ، وَإِذَالَمْ يُرَتِّبْهَا، فَلَابُدَّ أَنْ يَتْعَبَ إِذَا أَرَادَ شَيْئًامِنْهَا، وَيَذْهَبَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ فِي التَّفْتِيْشِ، وَيَنْبَغِى لَهُ أَنْ يُغَلِّفَ كُتُبَهُ وَدَفَاتِرَهُ، حَتَّى لَاتَتَمَزَّقَ أَوْ تَتَوَسَّخَ، وَلْيَحْذَرْ أَنْ يَلْحَسَ أَصَابِعَهُ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقَلِّبَ أَوْرَاقَ كُتُبِهِ وَدَفَاتِرِهِ، فَإِنْ ذَالِكَ عَادَةٌ قَبِيْحَةٌ، مُخَالِفَةٌ لِلْأَدَبِ، وَمُضِرَّةٌ بِالصِّحَّةِ. 2.وَيَلْزَمُ التِّلْمِيْذَ أَيْضًا أَنْ يُحَافِظَ عَلَى مِرْسَمِهِ، حَتَّى لَايَسْقُطَ فَيَنْكَسِرَ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسُنَّهُ، فَلَا يَسُنَّهُ بِالْمَقْعَدِ أَوِالْقَاعَةِ، أَوْ بِغِلَافِ دَفْتَرِهِ وَكِتَابِهِ، وَلَكِنْ يَسْتَعْمِلَ الْمِقْلَمَةَ أَوِالْمِبْرَاةَ، وَالْيَحْذَرْ أَنْ يَمَصَّ الْقَلَمَ بِشَفَتَيْهِ، أَوْ يَمْسَحَ كِتَابَتَهُ بِرِيْقِهِ، وَلَكِنْ بِالْمِمْسَحَةِ، أَوْ يُنَشِّفَ الْحِبْرَ بِثَوْبِهِ، بَلْ يَسْتَعْمِلَ الْمِنْشَفَةَ

Bagaimana seorang pelajar menjaga peralatan sekolahnya?

●Wajib bagi seorang pelajar menjaga peralatan sekolahnya, dengan merapikan semuanya ditempatnya yang benar, agar tidak berubah (mungkin yang dimaksud adalah tercecer), atau hilang atau kotor. Dan jika ia tidak merapikannya maka kelak ia harus berletih-letih (mencarinya) ketika menginginkan sesuatu dari peralatan tersebut. Sehingga hilanglah waktu (sia-sialah waktu) untuk mencari (barang tersebut). Dan selayaknya bagi pelajar itu memberi sampul pada kitab-kitabnya dan buku tulisnya agar tidak mudah robek ataupun kotor. Dan hendaknya seorang pelajar itu berwaspada jangan sampai ia menjilat jari-jemarinya ketika ia hendak membolak-balik lembaran kitab atau buku tulisnya, karena hal tersebut merupakan kebiasaan yang buruk, berlawanan dengan adab yang baik dan berbahaya bagi kesehatan.

●Dan seorang pelajar wajib atasnya juga menjaga pensilnya, sehingga tidak jatuh dan hancur. Dan apabila ia ingin menajamkannya maka jangan menajamkannnya dengan kursi ataupun dilantai, atau juga dengan sampul buku dan kitabnya, akan tetapi hendaknya ia menggunakan gunting atau rautan. Dan hendaknya ia selalu waspada dari menghisap pulpen dengan kedua bibirnya atau ia mengusap kitabnya dengan air keringatnya, akan tetapi hendaklah ia menggunakan alat untuk mengelap (sarung tangan), atau (waspadalah juga dari) mengeringkan tinta dengan pakaiannya, akan tetapi hendaknya ia menggunakan handuk.

كيف يحافظ التلميذ على أدوات المدرسةِ

1.كَمَا يَجِبُ عَلَى التِّلْمِيْذِ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى أَدَوَاتِهِ، كَذَالِكَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى اَدَوَاتِ الْمَدْرَسَةِ: بِأَنْ لَا يُغَيِّرَ أَوْ يُوَسِّخَ شَيْئًا مِنَ الْمَقَاعِدِ وَالطَّاوِلَاتِ وَالْكَرَاسِيِّ، وَلَا يَكْتُبَ عَلَى جُدْرَانِ الْمَدْرَسَةِ وَأَبْوَابِهَا، وَلَايَكْسِرَ زُجَاجَاتِهَا، وَأَنْ لَا يُوَسِّخَ الْقَاعَةِ: بِأَنْ يَبْصُقَ أَوْ يَتَمَخَّطَ عَلَيْهَا، أَوْيَرْمِيَ بُرَايَةَ الْمِرْسَمِ، وَقِطَعَ الْأَوْرَاقِ عَلَيْهَا، وَلَكِنْ يَطْرَحَهَا فِي السَّلَّةِ الْخَاصَّةِ بِهَا، وَأَنْ لَا يَلْعَبَ بِجَرَسِ الْمَدْرَسَةِ، وَلَايَكْتُبَ فِي سَبُّوْرَتِهَا، أَوْيُغَيِّرَ مِمْسَحَتَهَا
Bagaimana seorang pelajar menjaga peralatan milik sekolahnya

Sebagaimana wajib bagi seorang pelajar menjaga peralatan-peralatannya, begitu juga wajib atasnya menjaga peralatan-peralatan milik sekolahnya, dengan tidak merusaknya atau mengotori sesuatu darinya seperti tempat duduk, meja-meja dan kursi-kursi. Dan juga selayaknya ia tidak mencoret-coret tembok sekolah dan pintu-pintunya, tidak menghancurkan kaca sekolah, tidak mengotori lantai dengan berludah dan membuang ingus diatasnya, atau melempar sampah rautan pensilnya, memotong dedaunan diatas lantai, akan tetapi ia harus membuangnya di keranjang sampah yang khusus. Hendaknya juga ia tidak bermain bel sekolah, tidak menulis-nulis dipapan tulisnya dan merusah penghapusnya.

آداب التلميذ مع أستاذهِ

1.أَيُّهَا التِّلْمِيْذُ الْأَدِيْبُ: إِنَّ أُسْتَاذَكَ يَتْعَبُ كَثِيْرًا فِي تَرْبِيَتِكَ: يُهَذِّبُ أَخْلَاقَكَ، وَيُعَلِّمُكَ الْعِلْمَ الَّذِي يَنْفَعُكَ، وَيَنْصَحُكَ بِنَصَائِحَ مُفِيْدَةٍ، وَكُلُّ ذَالِكَ لِأَنّهُ يُحِبُّكَ كَثِيْرًا، كَمَا يُحِبُّكَ أَبُوْكَ وَأُمُّكَ، وَيَرْجُوْ أَنْ تَكُوْنَ فِي مُسْتَقْبَلِكَ، رَجُلًا عَالِمًا مُهَذَّبًا. 2.فَاحْتَرِمْ أُسْتَاذَكَ، كَمَا تَحْتَرِمُ وَالِدَيْكَ: بِأَنْ تَجْلِسَ أَمَامَهُ بِأَدَبٍ، وَتَتَكَلَّمَ مَعَهُ بِأَدِبٍ، وَإِذَاتَكَلَّمَ فَلَا تَقْطَعَ كَلَامَهُ، وَلَكِنِ اْنْتَظِرْ إِلَى أَنْ يَفْرُغَ مِنْهُ، وَاْسْتَمِعْ إِلَى مَايُلْقِيْهِ مِنَ الدُّرُوْسِ، وَإِذَا لَمْ تَفْهَمْ شَيْئًا مِنْ دُرُوْسِكَ، فَاسْأَلْهُ بِلُطْفٍ وَاحْتِرَامِ: بِأَنْ تَرْفَعَ أُصْبُعَكَ أَوَّلًا، حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ فِي السُّؤَالِ، وَإِذَا سَأَلَكَ عَنْ شَيْءٍ، فَقُمْ وَأَجِبْ عَلَى سُؤَالِهِ بِجَوَابٍ حَسَنٍ، وَلَا يَجُوْزُ أَنْ تُجِيْبَ إِذَا سَأَلَ غَيْرَكَ، فَهَذَا لَيْسَ مِنَ الْأَدَبِ. 3.إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ أُسْتَاذُكَ، فَقُمْ بِوَاجِبَاتُكَ، وَهِيَ: أَنْ تُوَاظِبَ عَلَى الْحُضُوْرِ كُلَّ يَوْمٍ فِي الْوَقْتِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا تَغِيْبَ أَوْ تَجِئَ مُتَأَخِّرًا إِلَّا لِعُذْرٍ صَحِيْحٍ، وَأَنْ تُبَادِرَ أَيْضًا إِلَى الدُّخُوْلِ فِي الْفَصْلِ بَعْدَ الْإِسِتِرَاحَةِ، وَاْحْذَرْ أَنْ تُحِبَّ التَّأَخُّرَ فَإِذَا عَاتَبَكَ الْأُسْتَاُذ تَعْتَذِرُ أَمَامَهُ بِأَعْذَارٍ بَاطِلَةٍ، وَأَنْ تَفْهَمَ دُرُوْسَكَ كُلَّهَا، وَتُدَاوِمَ عَلَى حِفْظِهَا وَمُطَالَعَتِهَا، وَتَعْتَنِيَ بِنَظَافَةِ كُتُبِكَ وَأَدَوَاتِكَ وَتَرْتِيْبِهَا، وَتَخْضَعَ لِأَوَامِرِالْأُسْتَاذِ مِنْ قَبْلِكَ، لَاخَوْفًا مِنَ الْعِقَابِ، وَأَنْ لَاتَغْضَبَ إِذَا أَدَّبَكَ، لِأَنَّهُ مَايُؤَدِّبُكَ إِلَّا لِتُؤَدِّيَ وَاجِبَاتِكَ، وَسَوْفَ تَشْكُرُهُ عَلَى ذَالِكَ، إِذَا كَبِرْتَ. 4.وَأُسْتَاذُكَ مَعَ تَأْدِيْبِهِ لَكَ يُحِبُّكَ، وَيَرْجُوْ أَنْ يُفِيْدَكَ هَذَا التَّأْدِيْبُ، وَلِذَالِكَ فَاشْكُرْهُ عَلَى إِخْلَاصِهِ فِي تَرْبِيَتِكَ، وَلَا تَنْسَ جَمِيْلَهُ أَبَدًا، وَأَمَّا التِّلْمِيْذُ الْفَاسِدُ الْأَخْلَاقِ، فَإِنَّهُ يَغْضَبُ إِذَا أَدَّبَهُ أُسْتَاذُهُ، وَقَدْ يَشْتَكِى ذَالِكَ إِلَى وَالِدِهِ.

Adab seorang pelajar kepada gurunya
●Wahai murid yang beradab,  sesungguhnya gurumu sangat lelah dalam mendidikmu, ia didik akhlaqmu, dan mengajarkanmu ilmu yan yang bermanfaat bagimu, dan menasehatimu dengan nasihat yang bermanfaat, dan kesemuanya itu dilakukan karena ia sangat mencintaimu, sebagaimana ayah dan ibumu mencintaimu. Gurumu berharap kelak engkau dimasa yang akan datang menjadi seorang lelaki yang pintar dan terdidik.

●Maka hormatilah gurumu, sebagaimana kau menghormati kedua orang tuamu, dengan engaku duduk didepannya dengan penuh adab, dan berbicara dengannya dengan adab, dan apabila ia berkata maka jangan potong pembicaraannya, akan tetapi tunggulah sampai ia telah selesai berbicara, dan dengarkanlah dengan seksama sesuatu yang disampaikannya dari pelajaran-pelajaran. Dan apabila engkau tidak memahami sesuatu dari pelajaran-pelajaranmu, maka bertanyalah kepadanya dengan lembut dan penuh rasa hormat, dengan cara kau angkat jarimu pertama-tama, sampai ia mengizinkanmu untuk bertanya, dan apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu maka berdirilah dan jawablah semua pertanyaannya dengan jawaban yang baik, dan tidak boleh ia menjawab apabila gurunya bertanya kepada yang lain, karena perbuatan itu bukanlah adab  (yang baik).

●Apabila engkau ingin guru mencintaimu, maka kerjakanlah kewajiban-kewajibanmu, yaitu kau tekun untuk hadir seitap hari diwaktu yang telah ditentukan, maka janganlah engkau ghaib ataupun datang terlambat kecuali dengan udzur yang benar, hendaknya engkau juga harus bersegera masuk kedalam kelas setelah jam istirahat (berlalu), dan berhati-hatilah jangan sampai engkau suka terlambat, maka apabila gurumu menyalahkanmu maka engkau meminta udzu dengan udzur-udzur yang batil, dan engkau pahami seluruh pelajaranmu, kau harus konsisten dalam menghapal dan belajar, kau perhatikan kebersihan kitab, peralatan, dan kerapiannya. Kau tunduk atas perintah guru, bukan karena takut hukumannya. Dan hendaknya engkau tak marah apabila gurumu mendidikmu, karena bahwasanya tidaklah ia mendidikmu kecuali agar engkau menunaikan kewajiban-kewajibanmu, dan kelak kau akan bersyukur atas hal itu apabila engkau telah dewasa.

●Dan gurumu bersama didikannya untukmu ia mencintaimu, ia mengharapkan pendidikan itu kelak akan bermanfaat bagimu, oleh sebab itulah bersyukurlah atas keikhlasannya dalam mendidikmu. Jangan kau lupakan kebaikannya selamanya. Adapun pelajar yang buruk akhlaqnya, ia akan selalu marah apabila dididik oleh gurunya, dan mengeluhkannya kepada orang tuanya.

آداب التلميذ مع زملا ئهِ

1.أَيُّهَا التِّلْمِيْذُ النَّجِيْبُ: أَنْتَ تَتَعَلَّمُ مَعَ زُمَلَائِكَ فِي مَدْرَسَةٍ وَاحِدَةٍ، كَمَا أَنَّكَ تَعِيْشُ مَعَ إِخْوَاتِكَ فِي بَيْتٍ وَاحِدٍ، فَلِذَالِكَ أَحِبَّهُمْ كَمَا تُحِبُّ إِخْوَاتَكَ، وَاْحْتَرِمْ مِنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْكَ، وَاْرْحَمْ مَنْ هُوَ أَصْغَرُ مِنْكَ، وَتَسَاعَدْ مَعَ زُمَلَائِكَ وَقْتَ الدَّرْسِ، عَلَى اْسْتِمَاعِ كَلَامِ الْأُسْتَاذِ، وَعَلَى حِفْظِ النِّظَامِ، وَالْعَبْ مَعَهُمْ فِي وَقْتِ الْإِسْتِرَاحَةِ فِي السَّاحَةِ، لَافِي الْقِسْمِ، وَاْبْتَعِدْ عَنِ الْمُقَاطَعَةِ وَالْمُنَازَعَةِ، وَالصِّيَاحِ، وَعَنِ اللَّعَبِ الَّذِي لَايَلِيْقُ بِكَ. 2.إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُوْنَ مَحْبُوْبًا بَيْنَ زُمَلَائِكَ، فَلَا تَبْخَلْ عَلَيْهِمْ، إِذَا اْسْتَعَارُوا مِنْكَ شَيْئًا، لِأَنَّ الْبُخْلَ قَبِيْحٌ جِدًّا، وَلَا تَتَكَبَّرْ عَلَيْهِمْ، إِذَا كُنْتَ ذَكِيًّا، أَوْمُجْتَهِدًا، أَوْ غَنِيًّا، لِأَنَّ الْكِبْرَ لَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَوْلَادِ الطَّيِّبِيْنَ، وَلَكِنْ إِذَا رَأَيْتَ تِلْمِيْذًا كَيْلَانْ، فَانْصَحْهُ لِيَجْتَهِدَ، وَيَتْرُكَ الْكَسَلَ، أَوْبَلِيْدًا، فَسَاعِدْهُ عَلَى فَهْمِ دُرُوْسَهُ، أَوْ فَقِيْرًا فَاْرْحَمْهُ، وَسَاعِدْهُ بِمَا قَدَرْتَ مِنَ الْمُسَاعَدَةِ. 3.لَا تُؤْذِ زَمِيْلَكَ: بِأَنْ تُضَايِقَهُ فِي مَكَانِهِ، أَوْتَخْبَأَ بَعْدَ أَدَوَاتِهِ، أَوْتُصَعِّرَلَهُ خَدَّكَ، أَوْتَنْظُرَ إَلَيْهِ بِعَيْنٍ حَادَّةٍ، أَوْتُسِئَ الظَّنَّ بِهِ، وَلَا تُؤْذِهِ أَيْضًا: بِأَنْ تَصِيْحَ عَلَيْهِ مِنَ الْوَرَاءِ، لِكَيْ يَنْدَهِشَ، أَوْ تَنْفُخَ فِي أُذَنِهِ، أَوْتُصَوِّتَ فِيْهَا، وَإِذَا اْسْتَعَرْتَ مِنْهُ شَيْئًا، فَلَا تُغَيِّرْهُ، أَوْتُضَيِّعْهُ، أَوْتُوَسِّخْهُ، وَأَرْجِعْهُ إِلَيْهِ بِسُرْعَةٍ، وَاْشْكُرْهُ عَلَى إِحْسَانِهِ. 4.إِذَاتَكَلَّمْتَ مَعَ زَمِيْلِكَ، فَتَكَلَّمْ بِلُطْفٍ وَاْبْتِسَامٍ، وَلَا تَرْفَعْ صَوْتَكَ، أَوْتُعَبِّسْ بِوَجْهِكَ، وَاْحْذَرْ مِنَ الْغَضَبِ وَالْحَسَدِ، وَالْكَلَامِ الْقَبِيْحِ، وَمِنَ الْكَذِبِ وَالشَّتْمِ وَالنَّمِيْمَةِ، وَلَا تَحْلِفْ فِي كَلَامِكَ، وَلَوْكُنْتَ صَادِقًا

●Wahai murid yang mulia, engkau belajar bersama kawan-kawanmu disekolah yang sama. Sebagaimana engkau hidup bersama saudara-saudaramu dirumah yang sama. Oleh karena itu cintailah mereka sebagaimana engkau mencintai saudara-saudaramu, dan hormatilah orang yang lebih tua darimu, dan sayangilah orang yang lebih muda darimu, saling bantu membantulah kamu bersama kawan-kawanmu diwaktu belajar, untuk mendengarkan perkataan guru dan untuk menghapal aturan dan bermainlah bersama mereka diwaktu istirahat dihalaman, bukan didalam kelas, jauhilah dari saling menyakiti dan berkelahi, berteriak dan dari bermain akan suatu hal yangtidak layak bagimu.

●Jika engkau ingin menjadi orang yang dicintai diantara kawanmu maka jangan pelit kepada mreka, apabila mereka meminjam sesuatu kepadamu. Karena pelit adalah perbuatan yang sangat buruk sekali. Dan juga jangan sombong kepada mereka, apabila engkau pintar atau bersungguh-sungguh atau kaya, karena perbuatan sombong bukanlah termasuk dari prilakunya anak-anak yang baik. Akan tetapi ketika engkau melihat seorang murid malas maka nasihatilah ia agar ia bersungguh-sungguh, agar ia meninggalkan kemalasannya, atau kebodohannya, bantulah ia untuk memahami pelajaran atau dia itu faqir, maka sayangilah ia, dan bantulah ia dengan apa yang kau mampu dari bantuan.

●Janganlah engkau menyakiti temanmu, dengan engkau mempersempit tempatnya, atau engkau menyembuunyikan sebagian peralatan sekolahnya, atau engkau atau kau memandangnya dengan pandangan yang tajam , atau kamu berburuk sangka dengannya , dan jangan lah kamu menyakitinya juga : dengan berteriak kepadanya dari belakang agar ia terkejut atau kau meniup di telinganya , atau bersuara di telinganya , dan jika kamu meminjam sesuatu darinya , maka jangan lah kamu rubah , atau kamu hilangkan , atau kamu mengotorinya , dan kembalikan itu kepadanya dengan segerab, dan berterima kasihlah atas kebaikannya ..

●dan jika kau berbicara dengan temanmu , maka berbicarlah dengan lembut dan senyuman , dan janganlah kamu meninggikan suaramu , atau memasamkan wajahmu , dan hati hatilah dari kemarahan dan Hasad , dan perkataan yang jelek , dan berbohong menghina dan adu domba , dan jangan lah kamu bersumpa di perkataanmu meskipun kamu jujur.
(نصائح عامة (1

1.أَيُّهَا الْوَلَدُ النَّجِيْبُ: إِذَا طَلَبْتَ مِنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَلَا تَقُلْ لَهُ: هَاتِ ذَالِكَ، إِفْعَلْ كَذَا، مَثَلًا، وَلَكَنِ اسْتَعْمِلِ الْأَدَبَ وَقُلْ: تَفَضَّلْ، أَوْمِنْ فَضْلِكَ افْعَلْ كَذَا، ثُمَّ اشْكُرْهُ عَلَى مُسَاعَدَتِهِ لَكَ، قَائِلًا: مُتَشَكِّرُ، أَوْأَشْكُرُكَ، أَوْجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. 2.إِذَا كَلَّمَكَ أَحَدٌ فَأَصْغِ إِلَيْهِ، وَلَا تَقْطَعْ عَلَيْهِ كَلَامَهُ، وَلَكِنِ انْتَظِرْ إِلَى أَنْ يَفْرُغَ مِنْهُ، وَإِذَا أَتَى لَكَ بِكَلَامٍ أَوْحِكَايَةٍ، قَدْ سَمِعْتَهَا، فَلَا تَقُلْ لَهُ: إِنِّى قَدْ سَمِعْتُ هَذِهِ الْحِكَايَةِ، كَيْلَا يَنْكَسِرَ قَلْبُهُ. 3.حَافِظْ عَلَى نَظَافَةِ أَسْنَانِكَ: بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ السِّوَاكَ أَوْالْفُرْشَاةَ، كُلَّ يَوْمٍ، حَتَّى تَبْقَى نَظِيْفَةً، لَا تَتَغَيَّرُ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَمَصَّ أُصْبُعَكَ، أَوْ تَقْرِضَ أَظْفَارَكَ بِأَسْنَانِكَ، أَوْ تُدْخِلَ أُصْبُعَكَ فِي أَنْفِكَ، أَوْفِي أُذُنِكَ، وَلَا سِيَّمَا أَمَامَ النَّاسِ. 4.مِنَ الْعَادَاتِ الْقَبِيْحَةِ: أَنْ يَتَطَلَّعَ الْوَلَدُ إِلَى أَسْرَارِ غَيْرِهِ، فَإِذَا رَآى رِسَالَةً لَيْسَتْ لَهُ قَرَأَهَا، أَوْنَظَرَ أَحَدًا يَقْرَأُ رِسَالَةً، سَأَلَهُ: مِنْ أَيْنَ جَاءَتْ هَذِهِ الرِّسَالَةُ، وَمَاذَافِيْهَا؟ أَوْوَجَدَ اثْنَيْنِ يَتَكَلَّمَانِ، قَرُبَ مِنْهُمَا، لِيَسْمَعَ كَلَامَهُمَا

●Duhai anak yang Mulia : jika kamu meminta sesuatu dari seseorang .. Maka jangan lah engkau berkata kepadanya : "Ambilkan itu" , atau "lakukan ini" contohnya , akan gunakanlah etika mu dan katakan : silahkan , atau mungkin kah kamu melakukan ini, kemudian berterima kasihlah atas bantuannya untukmu. dengan berkata : Aku berterima kasih , atau Allah membalasmu dengan kebaikan.

●jika seseorang berbicara kepadamu maka dengarkan lah dengan baik kepadanya, dan jangan kau potong pembicaraannya , akan tetapi tunggulah sampai ia selesai berbicara , dan jika ia datang kepadamu dengan perkataan atau cerita yang sudah engkau dengar maka jangan katakan padanya : "aku sudah mendengar cerita ini agar tak patah hatinya .

●Jagalah atas kebersihan gigimu : dengan menggunakan siwak atau sikat gigi , setiap hari sehingga ia selalu bersih dan tidak berubah . dan janganlah engkau menghisap jarimu atau memotong kukumu dengan gigimu atau memasukkan jarimu kehidungmu atau telingamu apalagi didepan manusia

●dan diantara kebiasaan yang buruk adalah : adanya seseorang mencari cari rahasia orang lain , jika ia melihat surat yang bukan miliknya ia membacanya atau jika melihat seseorang membaca surat ia bertanya : dari mana datangnya surat ini , dan apa isinya ? atau menemukan 2 orang sedang berbicara maka ia mendekati mereka agar mendengar pembicaraan mereka

(نصائح عامة (2

5.وَمِنْ قَبَائِحِ الْعَادَاتِ أَيْضًا: أَنْ يَسْتَعْمِلَ التِّلْمِيْذُ كِتَابَ غَيْرِهِ أَوْمِرْسَمَهُ، بِغَيْرِإِذْنِهِ، أَوْيَجِدَ فِي الطَّرِيْقِ شَيْئًا ضَائِعًا، فَيَتَمَلَّكَهُ، وَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى مَالِكِهِ، وَأَيْضًا أَنْ يَسْتَعِيْرَ شَيْئًا، فَيُغَيِّرَهُ، أَوْلَايُحِبَّ أَنْ يُعِيْدَهُ إِلَى صَاحِبِهِ. 6.وَمِنَ الْعَادَتِ الْمَكْرُوْهَةِ أَيْضًا: إِذَا سُئِلَ الْوَلَدُ أَنْ يُجِيْبَ بِتَحْرِيْكِ رَأْسِهِ أَوْكَتِفِهِ، أَوْيُسَارِعَ إِلَى الْجَوَابِ، وَالْمَسْئُوْلُ غَيْرُهُ. 7.مِنَ الْعَيْبِ أَنْ يُهْمِلَ الْوَلَدُ قَضَّ شَعْرِهِ، أَوْحَلْقَهُ، أَوْتَمْشِيْطَهُ، حَتَّى يَطُوْلَ وَيَكُوْنَ مَنْظَرُهُ قَبِيْحًا، وَأَيْضًا أَنْ لَايُقَلِّمَ أَظْفَارَهُ، حَتَّى تَتَرَاكَمَ تَحْتَهَا الْأَوْسَاخُ، وَأَنْ لَا يَغْتَسِلَ، أَوْ لَا يُبَدِّلَ ثِيَابَهُ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْهُ رَائِحَةُ كَرِيْهَةٌ. 8.إِحْذَرْمِنَ اللَّعَبِ بِشَيْءٍ يَضُرُّكَ، كَاالتُّرَابِ وَالنَّارِ وَالْأَوْسَاخِ، فَقَدْ يَلْعَبُ الْوَلَدُ بِالثِّقَابِ (الشَّخْتِ) فَتَشْتَعِلُ النَّارُفِي مَلَابِسِهِ، وَيَحْتَرِقُ جِسْمُهُ، أَوْيَلْعَبُ بِالْأَوْسَاخِ فَيُصِيْبُهُ الْجَرَبُ وَالْحِكَّةُ، وَاحْذَرْ أَيْضًا أَنْ تَتَزَحْلَقَ فَوْقَ حَاجِزِ السُّلَّمِ، أَوْتَطْلَعَ الْقِرْمِيْدَ، أَوِالشَّجَرَةَ، حَتَّى لَا تَسْقُطَ، فَيَنْكَسِرَشَيْءٌ مِنْ أَعْضَائِكَ، أَوْيُجْرَحَ. 9.حَافِظْ عَلَى صِحَّتِكَ: بِأَنْ تَتَرَيَّضَ فِي الْهَوَاءِ النَّقِيِّ كُلَّ صَبَاحٍ لِيَصِحَّ جِسْمُكَ، فَالْعَقْلُ السَّلِيْمُ فِي الْجِسْمِ السَّلِيْمِ، وَاسْتَنْشِقِ الْهَوَاءَ بِأَنْفِكَ لَا بِفَمِكَ، وَابْتَعِدْ عَنِ الْهَوَاءِ الْوَخِيْمِ، وَلَاتَأْكُلْ طَعَامًا مَكْشُوْفًا، فَرُبَّمَا دَبَّتْ عَلَيْهِ وَزَغَةٌ أَوْ فَأْرَةٌ أَوْ غَيْرُهُمَا مِنَ الْحَشَرَاتِ، وَلَاتَأْكُلْ فَاكِهَةً فِجَّةً أَوْعَفِنَةً، وَكُلِ الْفَاكِهَةَ النَّاضِجَةَ بَعْدَ غَسْلِهَا جَيِّدًا، وَلَاتَشْرَبْ مَاءً كَدِرًا، وَلَا تَدَعِ الْبَعُوْضَ يَقْرِصُكَ، وَابْتَعِدْ عَنِ الذُّبَابِ، وَاطْرُدْهُ عَنْ وَجْهِكَ، وَلَا تَأْكُلْ طَعَامًا حَطَّ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُنْ مِثْلَ الْأَوْلَادِ الشَّرِهِيْنَ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ مِنَ الْأَطْعِمَةِ الَّتِى تُبَاعُ فِي الطُّرُقَاتِ، فِي آنِيَةٍ قَذِرَةٍ مُعَرَّضَةٍ لِلْأَتْرِبَةِ وَالذُّبَابِ. 10.وَمِنَ الْعَادَتِ الْمُضِرَّةِ أَيْضًا: اْلإِسْرَافُ وَالتَّبْذِيْرُ، فَمَثَلًا إِذَا أَعْطَى الْوَالِدُ وَلَدَهُ دَرَاهِمَ، اْشْتَرَى بِهَا أَشْيَاءَ لَا تُفِيْدُهُ، أَوْلَايَحْتَاجُ إِلَيْهَا حَاجَةً شَدِيْدَةً، فَيُضْطَرُّ إِلَى أَنْ يَسْتَدِيْنَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِذَا حْتَاجَ إِلَى شَيْءٍ، وَيَتَعَوَّدَ الدَّيْنَ مِنْ صِغَرِهِ. وَأَمَّا الْوَلَدُ الْعَاقِلُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ التَّوْفِيْرَ وَاْلْإِدِّخَارَ، وَلِذَالِكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى الدَّيْنِ فَيَعِيْشُ فِي هَنَاءٍ وَسُرُوْرٍ

●dan juga diantara adat yang buruk adalah : seorang murid menggunakan kitab orang lain atau pensilnya tanpa izin orang tersebut , atau menemukan barang hilang dijalan lalu ia memilikinya dan yang wajib adalah ia mengembalikannya pada pemiliknyaa atau meminjam sesuatu lalu ia merubahnya atau tidak mau mengembalikannya kepada pemiliknya
●dan kebiasaan yang makruh adalah jika seorang anak ditany lalu ia menjawab dengan menggerakkan kepala atau pundaknya , atau terburu buru dalam menjawab padahal yang ditanya orang lain.

●dan diantara keburukan adalah seorang anak menunda dalam memotong rambutnya atau mencukur dan menyisirnya , sampai memanjang dan menjadi pandangan yang jelek dan juga tidak menggunting kukunya hingga bertumpuk kotoran dibawahnya , dan tidak mandi atau tidak mengganti baju sehingga keluar dari nya bau yang tak sedap

●jauhilah dari bermain dengan sesuatu yang membahayakanmu sepertin debu,api dan kotoran .. maka terkadang seorang anak bermain dengan korek api maka api menyala di bajunya dan terbakar badannya , atau bermain dengan kotoran maka ia terserang dengan kudis dan rasa gatal , dan hindarilah kamu meluncur di atas pangkal tangga atau engkau memanjat tembok bata , atau pohon sehingga engkau tak terjatuh dan patah sesuatu dari badan mu atau terluka.

●9jagalah atas kesehatanmu dengan engkau berolahraga di udara yang bersih dipagi hari untuk menyrhatkan badanmu , karena otak yang sehat berada pada tubuh yang sehat , dan hiruplah udara dengan hidungmu tidak dengan mulutmu , dan menjauhlah dari udara yang berbahaya dan janganlah engkau makan makanan yang terbuka , karena barangkali terinjak oleh cicak atau tikus atau selainnya dari macam macam serangga , dan jangan lah kamu memakan buah yang belum matang atau busuk , dan makanlah buah yang matang setelah dicuci dengan baik , dan jangan meminum air yang keruh , dan jangan biarkan nyamuk menggigitmu dan menjauhlah dari lalat dan usir ia dari wajahmu , dan jangan memakan makanan yang dihinggapinya , dan jangan lah engkau seperti anak anak yang rakus yanh memakan semua makanan yang dijual dijalan di wadah yang kotor yang bisa terkena debu dan lalat

●dan dari kebiasaan yang membahayakan juga adalah : berlebihan dan mebuang buang , maka contohnya jika seorang ayah memberikan anaknya uang , maka ia membeli dengannya sesuatu yang tidak bermanfaat baginya atau ia tidak sangat membutuhkannya maka memaksanya untuk berhutang kepada temannya jika ia membutuhkan sesuatu dan terbiasa berhutang dari sejak kecil .

●adapun anak yang berakal maka sesungguhnya ia menyukai Menabung dan menyimpan , oleh karena itu ia tidak membutuhkan kepada berhutang maka ia hidup dalam kesejahteraan dan kebahagiaan

Fathul muin doa setelah solat


(وَ) سُنَّ (ذِكْرٌ وَ دُعَاءٌ سِرًّا عَقِبَهَا) أَيِ الصَّلَاةِ. أَيْ يُسَنُّ الْإِسْرَارُ بِهِمَا لِمُنْفَرِدٍ وَ مَأْمُوْمٍ وَ إِمَامٍ لَمْ يُرِدْ تَعْلِيْمَ الْحَاضِرِيْنَ وَ لَا تَأْمِيْنَهُمْ لِدُعَائِهِ بِسَمَاعِهِ. وَ وَرَدَ فِيْهِمَا أَحَادِيْثٌ كَثِيْرَةٌ ذَكَرْتُ جُمْلَةً مِنْهَا فِيْ كِتَابِيْ إِرْشَادُ الْعِبَادِ فَاطْلُبْهُ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ. وَ رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: “قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ أَيْ أَقْرَبُ إِلَى الْإِجَابَةِ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ، وَ دُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ”. وَ رَوَى الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِيْ مُوْسَى قَالَ: “كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَ كَبَّرُنَا وَ ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ: يَأَيُّهَا النَّاسُ اِرْبِعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَ لَا غَائِبًا، إِنَّهُ حَكِيْمٌ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ”. اِحْتَجَّ بِهِ الْبَيْهَقِيُّ وَ غَيْرُهُ لِلْإِسْرَارِ بِالذِّكْرِ وَ الدُّعَاءِ. وَ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ: أَخْتَارُ لِلْإِمَامِ وَ الْمَأْمُوْمِ أَنْ يَذْكُرَا اللهَ تَعَالَى بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ، وَ يُخْفِيَا الذِّكْرَ، إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ إِمَامًا يُرِيْدُ أَنْ يُتَعَلَّمَ مِنْهُ فَيَجْهَرُ حَتَّى يَرَى أَنَّهُ قَدْ تُعَلِّمَ مِنْهُ ثُمَّ يُسِرُّ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: {وَ لَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَ لَا تُخَافِتْ بِهَا} يَعْنِيْ  وَ اللهُ أَعْلَمُ الدُّعَاءُ، وَ لَا تَجْهَرْ حَتَّى تُسْمِعَ غَيْرَكَ، وَ لَا تُخَافِتْ حَتَّى لَا تُسْمِعَ نَفْسَكَ. اِنْتَهَى.

(Disunnahkan berdzikir dan berdoa dengan pelan setelah shalat).  Maksudnya disunnahkan untuk melakukan keduanya dengan pelan bagi seorang yang shalat sendiri, ma’mūm dan imām yang tidak ingin mengajarkan ma’mūm yang hadir dan juga tidak ingin bacaan amin dari ma’mūm sebab mendengar doa dari sang imām. Dalam dzikir dan doa ini terdapat beberapa hadits yang banyak yang telah saya sebutkan sebagian darinya dalam kitabku yang bernama Irsyād-ul-‘Ibād, maka carilah kitab tersebut sebab kitab itu sangat penting. Imām Tirmidzī meriwayatkan dari Abū Umāmah yang berkata: Rasūl s.a.w. ditanya: Doa manakah yang lebih cepat dikabulkan? Rasūl menjawab: Doa di tengah malam dan setelah shalat fardhu Dua guru kita Imām Bukhārī (dan) Muslim meriwayatkan dari Abū Mūsā yang berkata: Kami bersama Nabi s.a.w., lalu sesampainya kami di dekat jurang, maka kami membaca tahlīl dan bertakbīr dan suara-suara kami sangat lantang, lantas Rasūl s.a.w. bersabda: Wahai manusia, kasihanilah diri kalian, sungguh kalian tidak berdoa terhadap Dzāt yang tuli dan Dzāt yang tidak hadir. Sesungguhnya Allah adalah Maha Bijaksana, Maha Mendengar dan Maha Dekat. Hadits itu dijadikan dasar oleh Imām Baihaqī dan selainnya untuk melirihkan suara terhadap dzikir dan doa. Imām Syāfi‘ī menyatakan dalam kitab al-Umm: Saya memilih bagi seorang imām dan ma’mūm untuk berdzikir kepada Allah setelah salām dari shalat dan melirihkan terhadap dzikir kecuali ia menjadi imām yang menghendaki untuk mengajari ma’mūm, maka imām mengeraskan suaranya sampai imām melihat bahwa ma’mūm telah mengikutinya lantas imām melirihkan suaranya, sesungguhnya Allah telah berfirman yang artinya: Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah melirihkannya. Maksudnya adalah doa, janganlah kamu mengeraskan doa sampai terdengar orang lain dan jangan melirihkannya sampai tidak terdengar olehmu. – selesai – Maqālah Imām Syāfi‘ī.

 

[فَائِدَةٌ]: قَالَ شَيْخُنَا: أَمَّا الْمُبَالَغَةُ فِي الْجَهْرِ بِهِمَا فِي الْمَسْجِدِ بِحَيْثُ يَحْصَلُ تَشْوِيْشٌ عَلَى مُصَلٍّ فَيَنْبَغِيْ حُرْمَتُهَا.

(Fā’idah) Guru kita berkata: Terlalu keras dalam berdzikir dan berdoa di dalam masjid sekira mengganggu terhadap orang yang shalat sebaiknya hukumnya haram.

 

[فُرُوْعٌ]: يُسَنُّ اِفْتِتَاحُ الدُّعَاءِ بِالْحَمْدِ للّهِ وَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ، وَ الْخَتْمُ بِهِمَا وَ بِآمِيْنَ. وَ تَأْمِيْنُ مَأْمُوْمٍ سَمِعَ دُعَاءِ الْإِمَامِ، وَ إِنْ حَفَظَ ذلِكَ. وَ رَفْعُ يَدَيْهِ الطَّاهِرَتَيْنِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِمَا بَعْدَهُ. وَ اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ حَالَةَ الذِّكْرِ أَوِ الدُّعَاءِ، إِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا أَوْ مَأْمُوْمًا. أَمَّا الْإِمَامُ إِذَا تَرَكَ الْقِيَامَ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِيْ هُوَ أَفْضَلُ لَهُ فَالْأَفْضَلُ جَعْلُ يَمِيْنِهِ إِلَى الْمَأْمُوْمِيْنَ وَ يَسَارِه إِلَى الْقِبْلَةِ. قَالَ شَيْخُنَا: وَ لَوْ فِي الدُّعَاءِ. وَ انْصِرَافُهُ لَا يُنَافِيْ نَدْبُ الذِّكْرِ لَهُ عَقِبَهَا لِأَنَّهُ يَأْتِيْ بِهِ فِيْ مَحَلِّهِ الَّذِيْ يَنْصَرِفُ إِلَيْهِ، وَ لَا يَفُوْتُ بِفِعْلِ الرَّاتِبَةِ، وَ إِنَّمَا الْفَائِتُ بِهِ كَمَالُهُ لَا غَيْرُهُ. وَ قَضِيَّةُ كَلَامِهِمْ حُصُوْلُ ثَوَابُ الذِّكْرِ وَ إِن جَهَلَ مَعْنَاهُ، وَ نَظَرَ فِيْهِ الْأَسْنَوِيُّ. وَ لَا يَأْتِيْ هذَا فِي الْقُرْآنِ لِلتَّعَبُّدِ بِلَفْظِهِ فَأُثِيْبَ قَارِئُهُ وَ إِنْ لَمْ يَعْرِفْ مَعْنَاهُ، بِخِلَافِ الذِّكْرِ لَا بُدَّ أَنْ يَعْرِفَهُ وَ لَوْ بِوَجْهٍ. اِنْتَهَى.

(Cabangan Masalah). Disunnahkan untuk mengawali doa dengan memuji Allah dan shalawat atas Nabi s.a.w. dan mengakhiri dengan keduanya dan dengan amin. Sunnah membaca amin bagi ma’mūm yang mendengar doa sang imām walaupun ma’mūm hafal dengan doa tersebut. Sunnah mengangkat kedua tangan yang suci sejajar dengan kedua pundaknya, mengusap wajah dengan keduanya setelah berdoa, menghadap qiblat saat berdzikir dan doa, jika shalat sendiri atau menjadi seorang ma’mūm. Sedangkan imam, jika tidak beranjak dari tempat shalatnya, maka yang lebih utama baginya adalah menjadikan sisi tubuh sebelah kanannya menghadap ma’mūm dan sisi kirinya menghadap qiblat.Guru kita berkata: Walaupun pada waktu berdoa. Beranjaknya imām tidak menghilangkan kesunnahan dari dzikir baginya setelah itu sebab imām dapat mengerjakan dzikir tersebut di tempat yang dituju. Dzikir tidak hilang kesunnahannya dengan melakukan shalat rawātib, sedang yang hilang hanyalah kesempurnaannya, bukan selain itu. Komentar dari para ‘ulamā’ memberikan pemahaman bahwa pahala dzikir dapat didapat walaupun tidak mengerti ma‘nanya. Imām Asnawī membuat penyamaan hukum dalam masalah ini dan penyamaan ini tidak akan terjadi dalam kasus membaca al-Qur’ān sebab al-Qur’ān memang difungsikan untuk dibuat ibadah bagi pembacanya walaupun tidak mengerti ma‘nanya berbeda dengan masalah dzikir yang diharuskan mengetahui ma‘nanya, walaupun dari satu sisi.  – Selesai.

 

وَ يُنْدَبُ أَنْ يَنْتَقِلَ لِفَرْضٍ أَوْ نَفْلٍ مِنْ مَوْضِعِ صَلَاتِهِ لِيَشْهَدَ لَهُ الْمَوْضِعُ حَيْثُ لَمْ تُعَارِضْهُ فَضِيْلَةٌ، نَحْوِ صَفٍّ أَوَّلٍ، فَإِنْ لَمْ يَنْتَقِلْ فَصَلَ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ. وَ النَّفْلُ لِغَيْرِ الْمُعْتَكِفِ فِيْ بَيْتِهِ أَفْضَلُ إِنْ أَمِنَ فَوْتَهُ، أَوْ تَهَاوُنًا بِهِ، إِلَّا فِيْ نَافِلَةِ الْمُبْكِرِ لِلْجُمْعَةِ، أَوْ مَا سُنَّ فِيْهِ الْجَمَاعَةُ، أَوْ وَرَدَ فِي الْمَسْجِدِ كَالضُّحَى، وَ أَنْ يَكُوْنَ انْتِقَالُ الْمَأْمُوْمِ بَعْدَ انْتِقَالِ إِمَامِهِ.

Disunnahkan untuk berpindah tempat karena melaksanakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah dari tempat shalatnya supaya tempat tersebut menjadi saksi baginya sekira tidak menghilangkan fadhīlah semacam shaf awal. Jika tidak mau berpindah tempat, maka pisahlah dengan menggunakan ucapan manusia. Shalat sunnah di rumah bagi selain orang yang i‘tikāf lebih utama – dibanding dilaksanakan di masjid – jika tidak khawatir habisnya waktu atau mengabaikannya, kecuali shalat yang disunnahkan untuk berada di awal waktu di hari Jum‘at,  yang disunnahkan berjamā‘ah atau shalat yang Nabi s.a.w. laksanakan di masjid seperti shalat Dhuḥā. Disunnahkan berpindahnya ma’mūm setelah berpindahnya imām.

 

(وَ نُدِبَ) لِمُصَلٍّ (تَوَجُّهٌ لِنَحْوُ جِدَارٍ) أَوْ عَمُوْدٍ مِنْ كُلِّ شَاخِصٍ طُوْلُ ارْتِفَاعِهِ ثُلُثَا ذِرَاعٍ فَأَكْثَرَ. وَ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ عَقِبِ الْمُصَلِّيْ ثَلَاثَةُ أَذْرُعٍ فَأَقَلَّ، ثُمَّ إِنْ عَجِزَ عَنْهُ (فَــــ) لِنَحْوِ (عَصًا مَغْرُوْزَةً) كَمَتَاعٍ، (فَـــــ) إِنْ لَمْ يَجِدْهُ نُدِبَ (بَسْطُ مُصَلًّى) كَسَجَّادَةٍ، ثُمَّ إِنْ عَجِزَ عَنْهُ خَطَّ أَمَامَهُ خَطًّا فِيْ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ عَرْضًا أَوْ طُوْلًا، وَ هُوَ أَوْلَى، لِخَبَرِ أَبِيْ دَاودَ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ أَمَامَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ”. وَ قِيْسَ بِالْخَطِّ الْمُصَلَّى، وَ قُدِّمَ عَلَى الْخَطِّ لِأَنَّهُ أَظْهَرُ فِي الْمُرَادِ. وَ التَّرْتِيْبُ الْمَذْكُوْرُ هُوَ الْمُعْتَمَدُ، خِلَافًا لِمَا يُوْهِمهُ كَلَامُ ابنُ الْمُقْرِيِّ. فَمَتَى عَدَلَ عَنْ رُتْبَةٍ إِلَى مَا دُوْنَهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا كَانَتْ كَالْعَدَمِ. وَ يُسَنُّ أَنْ لَا يَجْعَلَ السُّتْرَةَ تَلْقَاءَ وَجْهِهِ بَلْ عَنْ يَمِيْنِهِ أَوْ يَسَارِهِ، وَ كُلُّ صَفٍّ سُتْرَةٌ لِمَنْ خَلْفَهُ إِنْ قَرُبَ مِنْهُ. قَالَ الْبَغَوِيُّ: سُتْرَةُ الْإِمَامِ سُتْرَةُ مَنْ خَلْفَهُ. اِنْتَهَى.

(Disunnahkan) bagi seorang yang shalat (untuk menghadap sejenis dinding) atau tiang ya‘ni dari setiap perkara yang tampak dengan tinggi 2/3 hasta lebih, dan jarak antara dinding dengan tumit orang shalat 3 hasta ke bahwa. Lantas jika tidak mampu dari sejenis dinding, maka dengan sejenis tongkat yang ditancapkan seperti perkakas. Jika tidak menemukannya, maka disunnahkan membentangkan tempat shalat seperti sajadah, lantas jika tidak mampu maka menggaris di depannya dengan panjang dan lebar 3 hasta. Menggaris dengan memanjang ini lebih utama dibanding melebar sebab hadits yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd: Ketika salah satu di antara kalian shalat, maka jadikanlah di depan wajah kalian sesuatu, jika tidak ditemukan, maka tegakkanlah tongkat, jika ia tidak membawa tongkat, maka garislah, kemudian tidak akan membahayakan sesuatu yang melintas di depannya. Disamakan dengan garis adalah tempat shalat, dan ia lebih didahulukan dari pada garis sebab tempat shalat seperti sajadah tersebut lebih jelas dari yang dikehendaki. Tartib yang telah disebutkan adalah pendapat yang mu‘tamad, berbeda dengan pendapat dari pemahaman komentar Imām Ibn-ul-Muqrī.  Jika seseorang beralih dari penggunaan tingkat teratas menuju tingkat sebawahnya besertaan mampu untuk tingkat teratas tersebut, maka penggunaan itu dianggap seperti tidak ada. Disunnahkan untuk tidak menjadikan sutrah atau penghalang tepat di depan wajahnya, namun jadikanlah di samping kanan atau kirinya. Setiap barisan merupakan sutrah bagi orang yang berada di belakangnya jika jaraknya dekat. Imām Baghawī menyatakan: Sutrah-nya imām adalah sutrah-nya ma’mūm yang ada di belakangnya. – Selesai – .

 

وَ لَوْ تَعَارَضَتِ السُّتْرَةُ وَ الْقُرْبُ مِنَ الْإِمَامِ أَوِ الصَّفِّ الْأَوَّلِ فَمَا الَّذِيْ يُقَدَّمُ؟ قَالَ شَيْخُنَا: كُلٌّ مُحْتَمَلٌ وَ ظَاهِرُ قَوْلِهِمْ يُقَدَّمُ الصَّفُّ الْأَوَّلُ فِيْ مَسْجِدِهِ وَ إِنْ كَانَ خَارِجَ مَسْجِدِهِ الْمُخْتَصِّ بِالْمُضَاعَفَةِ تَقْدِيْمُ نَحْوِ الصَّفِّ الْأَوَّلِ. اِنْتَهَى.

Jikalau terjadi pertentangan di antara sutrah dengan dekat terhadap imām atau dengan barisan awal maka manakah yang harus didahulukan? Guru kita mengatakan: Semuanya masih mungkin benar dan kejelasan komentar para ‘ulamā’ yang lebih mendahulukan barisan awal di masjid Nabi s.a.w., walaupun barisan awal itu berada di luar masjid yang ditertentukan dengan berlipat pahalanya menyimpulkan lebih didahulukannya semacam barisan awal. – Selesai – .

وَ إِذَا صَلَّى إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا فَيُسَنُّ لَهُ وَ لِغَيْرِهِ دَفْعُ مَارٍّ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ السُّتْرَةِ الْمُسْتَوْفِيَةِ لِلشُّرُوْطِ، وَ قَدْ تَعَدَّى بِمُرُوْرِهِ لِكَوْنِهِ مُكَلَّفًا. وَ يَحْرُمُ الْمُرُوْرُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ السُّتْرَةِ حِيْنَ يُسَنُّ لَهُ الدَّفْعُ، وَ إِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَارُّ سَبِيْلًا مَا لَمْ يُقَصِّرْ بِوُقُوْفٍ فِيْ طَرِيْقٍ أَوْ فِيْ صَفٍّ مَعَ فُرْجَةٍ فِيْ صَفٍّ آخَرَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلِدَاخِلٍ خَرْقَ الصُّفُوْفِ وَ إِنْ كَثُرَتْ حَتَّى يَسُدَّهَا.

Ketika seseorang shalat dengan sesuatu dari sutrah tersebut, maka disunnahkan baginya untuk mencegah orang yang lewat di antara dirinya dan sutrah yang memenuhi persyaratan,  dan orang tersebut telah ceroboh dengan lewat di depan orang yang shalat sebab dirinya adalah orang mukallaf.  Haram untuk lewat di antara orang yang shalat dan sutrah-nya saat disunnahkan baginya untuk menolak yang lewat walaupun tidak menemukan jalan selama ia tidak ceroboh dengan shalat di jalan atau berada di barisan padahal masih ada tempat kosong di barisan lain atau di depannya. Maka bagi seorang yang masuk boleh untuk menerobos barisan walaupun sangat banyak sampai ia menutup tempat kosong 

(وَ كُرِهَ فِيْهَا) أَيِ الصَّلَاةِ، (اِلْتِفَاتٌ) بِوَجْهٍ بِلَا حَاجَةٍ. وَ قِيْلَ: يَحْرُمُ. وَ اخْتِيْرَ لِلْخَبِرِ الصَّحِيْحِ: “لَا يَزَالُ اللّهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِيْ مُصَلَّاهُ أَيْ بِرَحْمَتِهِ وَ رِضَاهُ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا الْتَفَتَ أَعْرَضَ عَنْهُ”. فَلَا يُكْرَهُ لِحَاجَةٍ، كَمَا لَا يُكْرَهُ مُجَرَّدُ لَمْحِ الْعَيْنِ (وَ نَظَرٌ نَحْوِ سَمَاءٍ) مِمَّا يُلْهِيْ، كَثَوْبٍ لَهُ أَعْلَامٌ لِخَبَرِ الْبُخَارِيِّ: “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِيْ صَلَاتِهِمْ”. فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِيْ ذلِكَ حَتَّى قَالَ: “لِيَنْتَهُنَّ عَنْ ذلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارَهُم”. وَ مِنْ ثَمَّ كُرِهَتْ أَيْضًا فِيْ مُخَطَّطٍ أَوْ إِلَيْهِ أَوْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ يَخِلُّ بِالْخُشُوْعِ.

(Dimakruhkan) di dalam shalat (menolehkan) wajah tanpa ada hajat, sebagian pendapat menghukumi haram dan pendapat tersebut dipilih sebab ada sebuah hadits yang shaḥīḥ: Allah akan selalu memperhatikan terhadap hamba-Nya di tempat shalat – maksudnya dengan rahmat dan ridha-Nya. – selama hamba tersebut tidak menoleh, maka jika hamba tersebut menoleh, maka Allah-pun akan berpaling dari hamba tersebut. Tidak dimakruhkan bila ada hajat seperti tidak dimakruhkannya sekedar lirikan mata. (Makruh melihat semacam langit) ya‘ni dari setiap hal yang dapat melupakan seperti baju yang bergambar sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imām Bukhārī: “Bagaimana keadaan para kaum yang mengangkat pandangan matanya ke langit saat shalat!” lantas Rasūl s.a.w. mempertajam sabdanya itu sampai Rasūl bersabda: “Sebaiknya mereka menghentikan hal itu atau ingin disambar matanya.” Oleh karena itu, dimakruhkan juga baju yang bergaris-garis di depannya atau yang digunakan untuk shalat sebab hal itu dapat mengganggu kekhusyū‘an.

 

(وَ بُصَقٌ) فِيْ صَلَاتِهِ، وَ كَذَا خَارِجِهَا، (أَمَامًا) أَيْ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْ هُوَ خَارِجِهَا مُسْتَقْبِلًا، كَمَا أَطْلَقَهُ النَّوَوِيُّ (وَ يَمِيْنًا) لَا يَسَارً، لِخَبَر الشَّيْخَيْنِ: “إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِيْ رَبَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ، فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ لَا عَنْ يَمِيْنِهِ، بَلْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى أَوْ فِيْ ثَوْبٍ مِنْ جِهَةِ يَسَارِهِ”. وَ هُوَ أَوْلَى. قَالَ شَيْخُنَا: وَ لَا بُعْدَ فِيْ مَرَاعَاةِ مَلَكِ الْيَمِيْنِ دُوْنَ مَلَكِ الْيَسَارِ إِظْهَارًا لِشَرَفِ الْأَوَّل، وَ لَوْ كَانَ عَلَى يَسَارِهِ فَقَطْ إِنْسَانٌ بَصَقَ عَنْ يَمِيْنِهِ، إِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ أَنْ يُطَأْطِىءَ رَأْسَهُ، وَ يَبْصُقَ لَا إِلَى الْيَمِيْنِ وَ لَا إِلَى الْيَسَارِ. وَ إِنَّمَا يَحْرُمُ الْبِصَاقُ فِي الْمَسْجِدِ إِنْ بَقِيَ جُرْمُهُ لَا إِنِ اسْتُهْلِكَ فِيْ نَحْوِ مَاءِ مَضْمَضَةٍ وَ أَصَابَ جُزْءًا مِنْ أَجْزَائِهِ دُوْنَ هَوَائِهِ. وَ زَعْمُ حُرْمَتِهِ فِيْ هَوَائِهِ وَ إِنْ لَمْ يُصِبْ شَيْئًا مِنْ أَجْزَائِهِ بَعِيْدٌ غَيْر مُعَوَّلٍ عَلَيْهِ، وَ دُوْنَ تُرَابٍ لَمْ يَدْخُلْ فِيْ وَقْفِهِ. قِيْلَ: وَ دُوْنَ حُصُرِهِ، لكِنْ يَحْرُمُ عَلَيْهَا مِنْ جِهَةِ تَقْذِيْرِهَا كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ. اه. وَ يَجِبُ إِخْرَاجُ نَجَسٍ مِنْهُ فَوْرًا عَيْنِيًّا عَلَى مَنْ عَلِمَ بِهِ، وَ إِنْ أَرْصَدَ لِإِزَالَتِهِ مَنْ يَقُوْمَ بِهَا بِمَعْلُوْمٍ، كَمَا اقْتَضَاهُ إِطْلَاقُهُمْ. وَ يَحْرُمُ بَوْلٌ فِيْهِ وَ لَوْ فِيْ نَحْوِ طِشْتٍ. وَ إِدْخَالُ نَعْلٍ مُتَنَجِّسَةٍ لَمْ يَأْمَنِ التَّلْوِيْثَ. وَ رَمْيُ نَحْوِ قَمْلَةٍ فِيْهِ مَيْتَةٍ وَ قَتْلُهَا فِيْ أَرْضِهِ وَ إِنْ قَلَّ دَمُهَا، وَ أَمَّا إِلْقَاؤُهَا أَوْ دَفْنُهَا فِيْهِ حَيَّةً، فَظَاهِرُ فَتَاوِي النَّوَوِيِّ حِلُّهُ، وَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْجَوَاهِرِ تَحْرِيْمُهُ، وَ بِهِ صَرَّحَ ابْنُ يُوْنُسٍ. وَ يُكْرَهُ فَصْدٌ وَ حِجَامَةٌ فِيْهِ بِإِنَاءٍ، وَ رَفْعُ صَوْتٍ، وَ نَحْوُ بَيْعٍ وَ عَمْلُ صِنَاعَةٍ فِيْهِ.

(Makruh meludah) di dalam shalat begitu pula di luar shalat (ke arah depan), walaupun orang yang berada di luar shalat tidak menghadap qiblat seperti yang telah dimutlakkan oleh Imām Nawawī (dan ke arah kanan) bukan arah kiri sebab hadits yang diriwayatkan oleh dua guru kita Imām Bukhārī (dan) Muslim: Ketika salah satu di antara kalian berada dalam shalat, maka sungguh ia adalah orang yang sedang berbisik dengan Tuhannya yang Maha Mulia dan Agung, maka janganlah meludah ke arah depan atau kanannya, namun ke arah kiri atau di bawah telapak kaki kiri atau pada baju dari sisi kirinya. Meludah pada baju dari arah kirinya lebih utama. Guru kita berkata: Tidak jauh dari kebenaran dalam menjaga malaikat yang berada di arah kanannya, bukan malaikat arah kiri sebab untuk memperlihatkan kemuliaan malaikat yang awal. Jika manusia hanya berada di arah kirinya, maka meludahlah ke arah kanan ketika tidak mungkin untuk menundukkan kepala dan meludah tidak ke arah kanan dan tidak ke arah kiri. Diharamkannya meludah di masjid hanyalah terjadi jika bentuk ludah itu masih ada, bukan bila telah larut di dalam semacam air berkumur, dan ketika mengenai bagian dari masjid bukan langit-langitnya. Praduga keharaman meludah pada langit-langit masjid walaupun tidak mengenai bagian dari masjid sangat jauh dari kebenaran yang tidak berarti. Tidak haram meludah pada debu yang tidak masuk dalam pewakafan masjid, sebagian pendapat menyatakan: Tidak haram pada tikar masjid, namun hal itu haram dari sisi mengotori masjid seperti yang telah jelas. – Selesai – . Wajib ‘ain hukumnya untuk mengeluarkan najis dari masjid dengan segera bagi orang yang mengetahui najis tersebut walaupun telah ada petugas khusus yang digaji untuk membersihkan najis seperti komentar para ‘ulamā’. Haram kencing di dalam masjid walaupun di dalam semacam wadah, memasukkan sandal yang terkena najis yang tidak aman dari mengenai masjid, melempar semacam kutu yang mati dan membunuh kutu di tanah masjid walaupun darahnya sedikit. Sedangkan melempar kutu atau menguburnya dalam keadaan hidup di dalam masjid dalam Fatāwā Nawawī hukumnya halal, sedang dalam kitab Jawāhir hukumnya haram. Keharaman ini juga telah dijelaskan oleh Imām Yūnus. Dimakruhkan untuk tusuk jarum dan bekam di dalam masjid dengan menggunakan wadah,  mengeraskan suara, melakukan transaksi semacam berdagang dan melakukan pertukangan di dalamnya.

 

(وَ كَشْفُ رَأْسٍ وَ مَنْكِبٍ) وَ اضْطِبَاعٌ وَ لَوْ مِنْ فَوْق الْقَمِيْصَ. قَالَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ: لَا يَرُدُّ رِدَاءَهُ إِذَا سَقَطَ، أَيْ إِلَّا لِعُذْرٍ، وَ مِثْلُهُ الْعَمَامَةَ وَ نَحْوُهَا. (وَ) كُرِهَ (صَلَاةٌ بِمُدَافَعِةِ حَدَثٍ) كَبَوْلٍ وَ غَائِطٍ وَ رِيْحٍ، لِلْخَبَرِ الْآتِيْ، وَ لِأَنَّهَا تُخِلُّ بِالْخُشُوْعِ. بَلْ قَالَ جَمْعٌ: إِنْ ذَهَبَ بِهَا بَطَلَتْ. وَ يُسَنُّ لَهُ تَفْرِيْغُ نَفْسِهِ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَ إِنْ فَاتَتِ الْجَمَاعَةُ، وَ لَيْسَ لَهُ الْخُرُوْجُ مِنَ الْفَرْضِ إِذَا طَرَأَتْ لَهُ فِيْهِ، وَ لَا تَأْخِيْرُهُ إِذَا ضَاقَ وَقْتُهُ. وَ الْعِبْرَةُ فِيْ كَرَاهَةِ ذلِكَ بِوُجُوْدِهَا عِنْدَ التَّحَرُّمِ. وَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُلْحِقَ بِهِ مَا لَوْ عَرَضَتْ لَهُ قَبْلَ التَّحَرُّمِ فَزَالَتْ وَ عَلِمَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهَا تَعُوْدُ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ. وَ تُكْرَهُ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ يُشْتَاقُ إِلَيْهِ، لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: “لَا صَلَاةَ أَيْ كَامِلَةً بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَ لَا صَلَاةَ وَ هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ أَيِ الْبَوْلُ وَ الْغَائِطُ”.

(Di waktu shalat makruh hukumnya membuka penutup kepala dan pundak), memakai selendang walaupun dari atas baju kurung. Imām Ghazālī mengatakan dalam kitab Iḥyā’-nya: Jangan mengembalikan selendang ketika jatuh. Maksudnya ketika tidak ada ‘udzur. Seperti halnya selendang adalah serban dan sejenisnya. (Dimakruhkan shalatnya seseorang yang menahan hadats) seperti kencing, berak dan kentut sebab hadits Nabi yang akan dipaparkan nanti dan sebab hal itu dapat mengganggu kekhusyū‘an bahkan sebagian ‘ulamā’ mengatakan jika kekhusyū‘an hilang sebab menahan hadats, maka shalatnya batal. Disunnahkan untuk mengosongkan dirinya dari hadats sebelum melaksanakan shalat walaupun kehilangan shalat jamā‘ah. Tidak diperkenankan keluar dari shalat fardhu  jika hadats tersebut tiba-tiba terasa akan keluar dan juga tidak boleh mengakhirkan shalat jika waktu shalat hampir habis. Tolok-ukur dimakruhkannya hal itu adalah adanya hadats sebelum takbīrat-ul-iḥrām dan sebaiknya disamakan dengan waktu itu adalah jikalau hadats tersebut ada sebelum takbīrat-ul-iḥrām kemudian hilang dan secara adat hadats tersebut diketahui akan kembali lagi di waktu shalat. Dimakruhkan shalat di hadapan makanan dan minuman yang disukai sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim: Tidaklah sempurna shalat di hadapan makanan, dan tidaklah sempurna shalat sedang orang yang shalat menahan dua hadats. Maksudnya kencing dan berak.

 

(وَ) كُرِهَ صَلَاةٌ فِيْ طَرِيْقِ بُنْيَانٍ لَا بَرِّيَّةٍ، وَ مَوْضِعِ مَكْسٍ، وَ (بِمَقْبَرَةٍ) إِنْ لَمْ يَتَحَقَّقْ نَبْشَهَا، سَوَاءٌ صَلَّى إِلَى الْقَبْرِ أَمْ عَلَيْهِ أَمْ بِجَانِبِهِ، كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْأُمِّ. وَ تَحْرُمُ الصَّلَاةُ لِقَبْرِ نَبِيٍّ أَوْ نَحْوَ وَلِيٍّ تَبَرُّكًا أَوْ إِعْظَامًا. وَ بَحَثَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ عَدَمَ كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ فِيْ مَسْجِدٍ طَرَأَ دَفْنُ النَّاسِ حَوْلَهُ وَ فِيْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ. وَ تَصِحُّ بِلَا ثَوْبِ كَمَا فِيْ ثَوْبٍ مَغْصُوْبٍ، وَ كَذَا إِنْ شَكَّ فِيْ رِضَا مَالِكِهِ لَا إِنْ ظَنَّهُ بِقَرِيْنَةٍ. وَ فِي الْجِيْلِيِّ: لَوْ ضَاقَ الْوَقْتُ وَ هُوَ بِأَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ أَحْرَمَ مَاشِيًا. وَ رَجَّحَهُ الْغَزِّيُّ. قَالَ شَيْخُنَا: وَ الَّذِيْ يَتَّجِهُ أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ لَهُ صَلَاةُ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ التَّرْكُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهَا، كَمَا لَهُ تَرْكُهَا لِتَخْلِيْصِ مَالِهِ لَوْ أُخِذَ مِنْهُ، بَلْ أَوْلَى.

(Dimakruhkan) shalat di tengah jalan ramai bukan jalan di hutan,  di tempat menarik pajak, (di pemakaman). Jika tidak jelas telah digali, baik shalat menghadap maqam, di atasnya atau di sampingnya seperti yang telah dijelaskan dalam al-Umm. Haram shalat di pemakaman Nabi atau semacam wali untuk mencari barakah atau mengagungkan. Imām Zain-ud-Dīn al-‘Irāqī membahas tentang tidak dimakruhkannya shalat di masjid yang di sekitarnya dibangun pemakaman setelah berdirinya masjid, di bumi yang dighashab, namun hukumnya sah tanpa pahala seperti sahnya shalat menggunakan baju ghashaban, begitu pula jika masih ragu kerelaan dengan adanya pertanda. Dalam kitab al-Jailī disebutkan: Jikalau waktu shalat hampir habis sedang dirinya masih berada di tanah yang dighashab, maka baginya harus takbīrat-ul-iḥrām dengan berjalan, dan ini diunggulkan oleh Imām Ghazālī. Guru kita berkata: Yang lebih unggul adalah tidak diperbolehkan shalat dengan cara shalat syiddat-ul-khauf dan wajib baginya untuk meninggalkan shalat sampai ia keluar dari tempat ghashaban tersebut seperti halnya diperbolehkan untuk meninggalkan shalat untuk menyelamatkan harta jikalau harta tersebut diambil darinya bahkan meninggalkan shalat di tanah yang dighasab lebih utama.


Selanjutnya klik disini


1 | 2 |3 |4 |5  |6 |7  | 8 | 

Terjemah kitab kuning

Taqrib tengah Safinatun naja   Fathul muin Nashoihul ibad Syarah sittin Jurumiah Riyadul badiah Ta'limul muta...