Sabtu, 05 September 2020

Akhlak3

24. حَامِدٌ وَ جِيْرَانُهُ

حَامِدُ وَلَدٌ طَيِّبُ الْقَلْبِ، حَسَنُ اْلْآدَابِ، مَحْبُوْبٌؤعِنْدَ أُسْرَتِهِ وَجِيْرَانِهِ، لِأَنَّهُ مَا يُؤْذِى أَوْلَادَهُمْ وَلَا يَتَخَاصَمُ أَوْيَتَشَاتَمُ مَعَهُمْ، وَلَا يُقَاطِعُ أَحَدًا مَنْهُمْ. وَكَانَ يَتَعَلَّمُ مَعَ أَوْلَادِ جِيْرَانِهِ، فِي مَدْرَسَةٍ وَاحِدَةٍ، وَكُلَّ يَوْمٍ يَمْشِى مَعَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسِيْرَ إِلَى الْمَدْرَسَةِ، وَكَذَالِكَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ، وَفِي وَقْتِ اللَّعِبِ يَلْعَبُ مَعَهُمْ، وَكَانَ يُحِبَّ أَنْ يُسَاعِدَ الْمُحْتَاجِيْنَ مِنْهُمْ، وَإِذَا لَمْ يَرَ أَحَدَهُمْ، سَأَلَ عَنْهُ، وَإِذَا مَرِضَ زَارَهُ فِي بَيْتِهِ. وَهَكَذَا عَاشَ حَامِدٌ، مَعَ أَوْلَادِ جِيْرَانِهِ فِي أُنْسٍ وَسُرُوْرٍ، وَاتِّحَادٍ وَتَوَادٍّ، بِحُسْنِ آدَابِهِ، وَطِيْبِ قَلْبِهِ

حامد و جيرانهُ

Hamid  dan tetangganya

● Hamid adalah anak yang baik hati lagi baik adabnya, dicintai keluarga dan tetangganya. Karena dia tidak menyakiti anak-anak mereka, tidak berkelahi dan tidak mencela mereka, begitu juga ia tidak menyakiti seorangpun dari anak-anak mereka.

● Ia pun belajar bersama-sama dengan anak-anak tetangganya disekolah yang sama. Dan setiap hari ia berjalan bersama-sama dengan mereka, apabila ia hendak pergi kesekolah. Begitu juga ketika ia hendak pulang, dan ketika diwaktu bermain ia pun bermain  bersama mereka. Ia juga suka membantu orang-orang yang sedang memiliki hajat diantara mereka. Apabila ia tidak melihat anak-anak tetangganya itu ia pun menanyakannya. Apabila salah seorang dari mereka sakit ia pun berkunjung kerumahnya (untuk menjenguk).

● Demikian kehidupan hamid bersama anak-anak tetangganya dalam kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan, persatuan dan rasa cinta, dengan baiknya adab dan baiknya hati.

قبل الذهاب إلى المدرسةِ

1. يَجِبُ عَلَى التِّلْمِيْذِ أَنْ يُحِبَّ التَّرْتِيْبَ وَالنَّظَافَةَ دَائِمًا: يَقُوْمُ مِنْ نَوْمِهِ كُلَّ صَبَاحٍ مُبَكِّرًا، فًيَغْتَسِلُ بِالصَّابُوْنِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى الصُّبْحَ جَمَاعَةً، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ بُصَافِحُ وَالِدَيْهِ، ثُمَّ يَلْبَسُ مَلَابِسَ الْمَدْرَسَةِ، نَظِيْفَةً مُرَتَّبَةً، ثُمَّ يَنْظُرُ دُرُوْسَهُ، الَّتِى قَدْ طَالَعَهَا قَبْلَ النَّوْمِ. 2. وَبَعْدَ أَنْ يُفْطِرَ، يُرَتِّبُ أَدَوَاتِهِ فِي الْمَحْفَظَةِ، فَيَسْتَأْذِنُ وَالِدَيْهِ، لِلذَّهَابِ إِلَى الْمَدْرَسَةِ

Sebelum berangkat kesekolah

●Wajib bagi seorang murid untuk selalu menyukai kerapian dan kebersihan.  bangun dari tidurnya setiap pagi lebih cepat, kemudian ia mandi dengan sabun, kemudian ia berwudhu’ dan shalat subuh berjamaah, dan setelah shalat ia bersalaman dengan kedua orang tuanya. Kemudian ia memakai pakaian sekolah yang bersih dan rapi, kemudian ia memperhatikan pelajaran-pelajarannya yang ia telah pelajari sebelum tidur.
●Dan setelah ia sarapan dan merapikan alat-alat tulisnya ditas, kemudian ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berangkat kesekolah.

آدب المشي في الطريقِ

1.يَنْبَغِى لِلتِّلْمِيْذِ أَنْ يَمْشِيَ مُسْتَقِيْمًا: لَايَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلَاشِمَالًا بِغَيْرِ حَاجَةٍ، وَلَا يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَةٍ لَاتَلِيْقُ بِهِ، وَلَايُسْرِعُ جِدًّا فِي مَشْيِهِ وَلَايُبْطِئُ، وَلَايَأْكُلُ أَوْيُغَنِّى، أَوْ يَقْرَأُ كِتَابَهُ وَهُوُيَمْشِى.
2.وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ الْوَحَلِ وَاْلْأَوْسَاخِ، لِكَيْلَا يَسْقُطَ أَوْ يَتَوَسَّخَ ثَوْبُهُ، وَيَبْتَعِدَ أَيْضًا عَنِ الزِّحَامِ، لِكَيْلَا يَصْطَدِمَ بِأَحَدٍ، أَوْيَضِيْعَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَدَوَاتِهِ، وَأَنْ لَايَقِفَ فِي الطَّرِيْقِ، لِأَجْلِ الْفُضُوْلِ،أَوْيَسْتَوْقِفَ أَحَدَ زُمَلَائِهِ، حَتَّى لَا يَتَأَخَّرَ عَنْ مِيْعَادِ الْمَدْرَسَةِ.
3.إِذَا مَشَى مَعَ زُمَلَائِهِ، فَلَا يَمْزَحْ مَعَهُمْ، وَلَا يَرْفَعْ صَوْتَهُ إِذَاتَكَلَّمَ، أَوْضَحِيْكَ، وَلَايَسْتَهْزِئْ بِأَحَدٍ، فَكُلُّ ذَالِكَ قَبِيْحٌ جِدًّا، وَلَا يَلِيْقُ بِالتِّلْمِيْذِ الْمُهَذَّبِ.
4.وَلَا يَنْسَ السَّلَامَ عَلَى مَنْ يُصَادِفُهُ فِي طَرِيْقِهِ وَخُصُوْصًا إِذَا كَانَ وَالِدَهُ أَوْ أُسْتَاذَهُ
Adab berjalan dijalanan

●Selayaknya bagi seorang pelajar ia berjalan dengan lurus artinya ia tidak menoleh kekanan dan kekiri jika tidak ada keperluannya. tidak bergerak dengan gerakan yang tidak pantas. Tidak mempercepat jalannya dan tidak pula lamban . Juga ia tidak makan (sambil berjalan) ataupun bernyanyi-nyanyi atau  membaca bukunya sedangkan ia sedang berjalan.

●Hendaknya ia menjauhi lumpur dan kotoran agar ia tidak terjatuh ataupun akan mengotori pakaiannya, hendaknya pula ia menjauhi dari berdesak-desakan agar tidak terjadi tabrakan atau benturan dengan seorangpun atau kehilangan sesuatu dari peralatan-peralatan sekolahnya. Hendaknya seorang pelajar juga tidak berdiri ditengah jalan karena perkara yang sia-sia atau tidak bermanfaat (fudhul). Atau memberhentikan salah seorang kawannya sehingga ia terlambat dari waktu yang telah ditetapkan sekolah.

●Jika seorang pelajar berjalan bersama kawan-kawannya maka jangannya ia mengajak bercanda mereka, atau mengeraskan suaranya ketika berbicara atau tertawa, dan janganlah ia mengolok-olok seorang pun karena semua itu adalah perbuatan yang buruk dan tidak pantas hal itu bagi seorang murid yang terdidik.

●Janganlah juga ia lupa mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya dijalan, lebih khususnya lagi jika yang ditemuinya adalah orang tuanya atau gurunya.
آداب التلميذ في المدرسةِ

1.إِذَاوَصَلَ التِّلْمِيْذُ إِلَى مَدْرَسَتِهِ يَمْسَحُ حِذَاءَهُ بِالْمِمْسَحَةِ، ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى قِسْمِهِ، فَيَفْتَحُ بَابَهُ بِلُطْفٍ، وَيَدْخُلُ بِأَدَبٍ، وَيُسَلِّمُ عَلَى زُمَلَائِهِ وَيُصَافِحُهُمْ، وَهُوَ مُبْتَسِمٌ، قَائِلًا: صَبَاحُ الْخَيْرِوَالسُّرُوْرِ، ثُمَّ يَضَعُ مَحْفَظَتَهُ فِي دُرْجِ مَقْعَدِهِ، وَإِذَاجَاءَ أُسْتَاذُهُ، يَقُوْمُ مِنْ مَحَلِّهِ، وَيَسْتَقْبِلُهُ بِكُلِّ أَدَبٍ وَاْحْتِرَامِ، وَيُصَافِحُهُ. 2.وَإِذَا دَقَّ الْجَرَسُ وَقَفَ مَعَ إِخْوَانِهِ فِي الصَّفِّ مُعْتَدِلًا، وَلَايَتَكَلَّمُ أَوْ يَلْعَبُ مَعَهُمْ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَصْلَهُ بَعْدَ إِشَارَةِ الْمُعَلِّمِ، بِكُلِّ هُدُوْءٍ وَسُكُوْنٍ، فَيَقْصِدُ مَقْعَدَهُ وَيَجْلِسُ جِلْسَةً طَيِّبَةً: بِأَنْ يَسْتَقِيْمَ، وَلَا يُعَوِّجَ ظَهْرَهُ، وَلَايُحَرِّكَ رِجْلَيْهِ، وَلَا يُزَاحِمَ غَيْرَهُ، وَلَا يَضَعَ رِجْلًا عَلَى رِجْلٍ، وَلَايَبْعَثَ بِيَدَيْهِ، وَلَايَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ. 3.وَأَنْ يُنْصِتَ لِلدَّرْسِ، وَلَايَلْتَفِتَ يَمِيْنًا وَلَاشِمَالًا، بَلْ يُقَابِلَ أُسْتَاذَهُ، وَلَايُكَلِّمَ أَحَدًا أَوْيُضْحِكَهُ، لِأَنَّ ذَالِكَ يَمْنَعُهُ عَنْ فَهْمِ الدَّرْسِ، وَيَمْنَعُ غَيْرَهُ أَيْضًا عَنْ فَهْمِهِ، فَيَغْضَبُ عَلَيْهِ الْأُسْتَاذُ، وَإِذَا لَمْ يَفْهَمْ دُرُوْسَهُ، فَلَابُدَّ أَنْ يَسْقُطَ فِي الْإِمْتِحَانِ

Adab seorang pelajar disekolah

●Apabila seorang pelajar telah sampai kesekolahnya, ia akan membersihkan sepatunya dengan alat pembersih, kemudian ia pergi ke kelasnya, dan ia membuka pintu dengan perlahan, masuk dengan penuh adab dan memberi salam kepada kawan-kawannya dan bersalaman dengan mereka semua dan wajahnya dalam keadaan tersenyum. Seraya berkata, “ Pagi gembira dan penuh bahagia” , kemudian ia meletakkan tasnya di laci tempat duduknya. Dan apabila gurunya datang ia berdiri dari tempatnya dan menghadap kearahnya dengan penuh adab dan penghormatan, serta bersalaman dengan gurunya.

●Dan apabila bel telah berbunyi ia berdiri bersama saudara-saudaranya di barisan secara lurus dan rapi, dan tidak berbicara ataupun bercanda dengan mereka, kemudian ia masuk kedalam kelas setelah ada isyarat (aba-aba) dari pengajarnya, ia masuk dengan sangat perlahan dan tenang. Kemudian ia mengarah ke tempat duduknya dan duduk dengan cara duduk yang baik, yaitu dengan tegak dan tidak membengkokkan punggungnya (ini adalah cara duduk yang salah) dan tidak menggerak-gerakkan kakinya dan tidak berdesakd-desakan dengan orang lain, dan tidak meletakkan kakinya diatas kaki orang lain (yang dimaksud adalah menginjak), dan tidak mendorong-dorong (orang lain) dengan tangannya. Dan tidak meletakkan tangannya dipipinya.

●Hendaknya seorang pelajar itu tenang dan memperhatikan pelajaran, tidak menoleh kekanan maupun kiri, akan tetapi ia harus  menghadap kegurunya, dan tidak mengajak berbicara siapapun atau menertawainya karena yang demikian itu akan menahannya dari memahami pelajaran (membuatnya tak paham pelajaran), dan mencegah yang lain juga untuk memahami pelajaran. Sehingga gurunya akan marah, ketika ia tidak paham akan pelajarannya, maka mengakibatkan ia tidak lulus ketika ujian.
كيف يحافظ التلميذ على أدواته؟

1.يَجِبُ أَنْ يُحَافِظَ التِّلْمِيْذُ عَلَى أَدَوَاتِهِ:  بِأَنْ يُرَتِّبَهَا جَمِيْعًا فِي مَحَلِّهَا، كَيْلَا تَتَغَيَّرَ، أَوْتَضِيْعَ، أَوْتَتَوَسَّخَ، وَإِذَالَمْ يُرَتِّبْهَا، فَلَابُدَّ أَنْ يَتْعَبَ إِذَا أَرَادَ شَيْئًامِنْهَا، وَيَذْهَبَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ فِي التَّفْتِيْشِ، وَيَنْبَغِى لَهُ أَنْ يُغَلِّفَ كُتُبَهُ وَدَفَاتِرَهُ، حَتَّى لَاتَتَمَزَّقَ أَوْ تَتَوَسَّخَ، وَلْيَحْذَرْ أَنْ يَلْحَسَ أَصَابِعَهُ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقَلِّبَ أَوْرَاقَ كُتُبِهِ وَدَفَاتِرِهِ، فَإِنْ ذَالِكَ عَادَةٌ قَبِيْحَةٌ، مُخَالِفَةٌ لِلْأَدَبِ، وَمُضِرَّةٌ بِالصِّحَّةِ. 2.وَيَلْزَمُ التِّلْمِيْذَ أَيْضًا أَنْ يُحَافِظَ عَلَى مِرْسَمِهِ، حَتَّى لَايَسْقُطَ فَيَنْكَسِرَ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسُنَّهُ، فَلَا يَسُنَّهُ بِالْمَقْعَدِ أَوِالْقَاعَةِ، أَوْ بِغِلَافِ دَفْتَرِهِ وَكِتَابِهِ، وَلَكِنْ يَسْتَعْمِلَ الْمِقْلَمَةَ أَوِالْمِبْرَاةَ، وَالْيَحْذَرْ أَنْ يَمَصَّ الْقَلَمَ بِشَفَتَيْهِ، أَوْ يَمْسَحَ كِتَابَتَهُ بِرِيْقِهِ، وَلَكِنْ بِالْمِمْسَحَةِ، أَوْ يُنَشِّفَ الْحِبْرَ بِثَوْبِهِ، بَلْ يَسْتَعْمِلَ الْمِنْشَفَةَ

Bagaimana seorang pelajar menjaga peralatan sekolahnya?

●Wajib bagi seorang pelajar menjaga peralatan sekolahnya, dengan merapikan semuanya ditempatnya yang benar, agar tidak berubah (mungkin yang dimaksud adalah tercecer), atau hilang atau kotor. Dan jika ia tidak merapikannya maka kelak ia harus berletih-letih (mencarinya) ketika menginginkan sesuatu dari peralatan tersebut. Sehingga hilanglah waktu (sia-sialah waktu) untuk mencari (barang tersebut). Dan selayaknya bagi pelajar itu memberi sampul pada kitab-kitabnya dan buku tulisnya agar tidak mudah robek ataupun kotor. Dan hendaknya seorang pelajar itu berwaspada jangan sampai ia menjilat jari-jemarinya ketika ia hendak membolak-balik lembaran kitab atau buku tulisnya, karena hal tersebut merupakan kebiasaan yang buruk, berlawanan dengan adab yang baik dan berbahaya bagi kesehatan.

●Dan seorang pelajar wajib atasnya juga menjaga pensilnya, sehingga tidak jatuh dan hancur. Dan apabila ia ingin menajamkannya maka jangan menajamkannnya dengan kursi ataupun dilantai, atau juga dengan sampul buku dan kitabnya, akan tetapi hendaknya ia menggunakan gunting atau rautan. Dan hendaknya ia selalu waspada dari menghisap pulpen dengan kedua bibirnya atau ia mengusap kitabnya dengan air keringatnya, akan tetapi hendaklah ia menggunakan alat untuk mengelap (sarung tangan), atau (waspadalah juga dari) mengeringkan tinta dengan pakaiannya, akan tetapi hendaknya ia menggunakan handuk.

كيف يحافظ التلميذ على أدوات المدرسةِ

1.كَمَا يَجِبُ عَلَى التِّلْمِيْذِ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى أَدَوَاتِهِ، كَذَالِكَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى اَدَوَاتِ الْمَدْرَسَةِ: بِأَنْ لَا يُغَيِّرَ أَوْ يُوَسِّخَ شَيْئًا مِنَ الْمَقَاعِدِ وَالطَّاوِلَاتِ وَالْكَرَاسِيِّ، وَلَا يَكْتُبَ عَلَى جُدْرَانِ الْمَدْرَسَةِ وَأَبْوَابِهَا، وَلَايَكْسِرَ زُجَاجَاتِهَا، وَأَنْ لَا يُوَسِّخَ الْقَاعَةِ: بِأَنْ يَبْصُقَ أَوْ يَتَمَخَّطَ عَلَيْهَا، أَوْيَرْمِيَ بُرَايَةَ الْمِرْسَمِ، وَقِطَعَ الْأَوْرَاقِ عَلَيْهَا، وَلَكِنْ يَطْرَحَهَا فِي السَّلَّةِ الْخَاصَّةِ بِهَا، وَأَنْ لَا يَلْعَبَ بِجَرَسِ الْمَدْرَسَةِ، وَلَايَكْتُبَ فِي سَبُّوْرَتِهَا، أَوْيُغَيِّرَ مِمْسَحَتَهَا
Bagaimana seorang pelajar menjaga peralatan milik sekolahnya

Sebagaimana wajib bagi seorang pelajar menjaga peralatan-peralatannya, begitu juga wajib atasnya menjaga peralatan-peralatan milik sekolahnya, dengan tidak merusaknya atau mengotori sesuatu darinya seperti tempat duduk, meja-meja dan kursi-kursi. Dan juga selayaknya ia tidak mencoret-coret tembok sekolah dan pintu-pintunya, tidak menghancurkan kaca sekolah, tidak mengotori lantai dengan berludah dan membuang ingus diatasnya, atau melempar sampah rautan pensilnya, memotong dedaunan diatas lantai, akan tetapi ia harus membuangnya di keranjang sampah yang khusus. Hendaknya juga ia tidak bermain bel sekolah, tidak menulis-nulis dipapan tulisnya dan merusah penghapusnya.

آداب التلميذ مع أستاذهِ

1.أَيُّهَا التِّلْمِيْذُ الْأَدِيْبُ: إِنَّ أُسْتَاذَكَ يَتْعَبُ كَثِيْرًا فِي تَرْبِيَتِكَ: يُهَذِّبُ أَخْلَاقَكَ، وَيُعَلِّمُكَ الْعِلْمَ الَّذِي يَنْفَعُكَ، وَيَنْصَحُكَ بِنَصَائِحَ مُفِيْدَةٍ، وَكُلُّ ذَالِكَ لِأَنّهُ يُحِبُّكَ كَثِيْرًا، كَمَا يُحِبُّكَ أَبُوْكَ وَأُمُّكَ، وَيَرْجُوْ أَنْ تَكُوْنَ فِي مُسْتَقْبَلِكَ، رَجُلًا عَالِمًا مُهَذَّبًا. 2.فَاحْتَرِمْ أُسْتَاذَكَ، كَمَا تَحْتَرِمُ وَالِدَيْكَ: بِأَنْ تَجْلِسَ أَمَامَهُ بِأَدَبٍ، وَتَتَكَلَّمَ مَعَهُ بِأَدِبٍ، وَإِذَاتَكَلَّمَ فَلَا تَقْطَعَ كَلَامَهُ، وَلَكِنِ اْنْتَظِرْ إِلَى أَنْ يَفْرُغَ مِنْهُ، وَاْسْتَمِعْ إِلَى مَايُلْقِيْهِ مِنَ الدُّرُوْسِ، وَإِذَا لَمْ تَفْهَمْ شَيْئًا مِنْ دُرُوْسِكَ، فَاسْأَلْهُ بِلُطْفٍ وَاحْتِرَامِ: بِأَنْ تَرْفَعَ أُصْبُعَكَ أَوَّلًا، حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ فِي السُّؤَالِ، وَإِذَا سَأَلَكَ عَنْ شَيْءٍ، فَقُمْ وَأَجِبْ عَلَى سُؤَالِهِ بِجَوَابٍ حَسَنٍ، وَلَا يَجُوْزُ أَنْ تُجِيْبَ إِذَا سَأَلَ غَيْرَكَ، فَهَذَا لَيْسَ مِنَ الْأَدَبِ. 3.إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ أُسْتَاذُكَ، فَقُمْ بِوَاجِبَاتُكَ، وَهِيَ: أَنْ تُوَاظِبَ عَلَى الْحُضُوْرِ كُلَّ يَوْمٍ فِي الْوَقْتِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا تَغِيْبَ أَوْ تَجِئَ مُتَأَخِّرًا إِلَّا لِعُذْرٍ صَحِيْحٍ، وَأَنْ تُبَادِرَ أَيْضًا إِلَى الدُّخُوْلِ فِي الْفَصْلِ بَعْدَ الْإِسِتِرَاحَةِ، وَاْحْذَرْ أَنْ تُحِبَّ التَّأَخُّرَ فَإِذَا عَاتَبَكَ الْأُسْتَاُذ تَعْتَذِرُ أَمَامَهُ بِأَعْذَارٍ بَاطِلَةٍ، وَأَنْ تَفْهَمَ دُرُوْسَكَ كُلَّهَا، وَتُدَاوِمَ عَلَى حِفْظِهَا وَمُطَالَعَتِهَا، وَتَعْتَنِيَ بِنَظَافَةِ كُتُبِكَ وَأَدَوَاتِكَ وَتَرْتِيْبِهَا، وَتَخْضَعَ لِأَوَامِرِالْأُسْتَاذِ مِنْ قَبْلِكَ، لَاخَوْفًا مِنَ الْعِقَابِ، وَأَنْ لَاتَغْضَبَ إِذَا أَدَّبَكَ، لِأَنَّهُ مَايُؤَدِّبُكَ إِلَّا لِتُؤَدِّيَ وَاجِبَاتِكَ، وَسَوْفَ تَشْكُرُهُ عَلَى ذَالِكَ، إِذَا كَبِرْتَ. 4.وَأُسْتَاذُكَ مَعَ تَأْدِيْبِهِ لَكَ يُحِبُّكَ، وَيَرْجُوْ أَنْ يُفِيْدَكَ هَذَا التَّأْدِيْبُ، وَلِذَالِكَ فَاشْكُرْهُ عَلَى إِخْلَاصِهِ فِي تَرْبِيَتِكَ، وَلَا تَنْسَ جَمِيْلَهُ أَبَدًا، وَأَمَّا التِّلْمِيْذُ الْفَاسِدُ الْأَخْلَاقِ، فَإِنَّهُ يَغْضَبُ إِذَا أَدَّبَهُ أُسْتَاذُهُ، وَقَدْ يَشْتَكِى ذَالِكَ إِلَى وَالِدِهِ.

Adab seorang pelajar kepada gurunya
●Wahai murid yang beradab,  sesungguhnya gurumu sangat lelah dalam mendidikmu, ia didik akhlaqmu, dan mengajarkanmu ilmu yan yang bermanfaat bagimu, dan menasehatimu dengan nasihat yang bermanfaat, dan kesemuanya itu dilakukan karena ia sangat mencintaimu, sebagaimana ayah dan ibumu mencintaimu. Gurumu berharap kelak engkau dimasa yang akan datang menjadi seorang lelaki yang pintar dan terdidik.

●Maka hormatilah gurumu, sebagaimana kau menghormati kedua orang tuamu, dengan engaku duduk didepannya dengan penuh adab, dan berbicara dengannya dengan adab, dan apabila ia berkata maka jangan potong pembicaraannya, akan tetapi tunggulah sampai ia telah selesai berbicara, dan dengarkanlah dengan seksama sesuatu yang disampaikannya dari pelajaran-pelajaran. Dan apabila engkau tidak memahami sesuatu dari pelajaran-pelajaranmu, maka bertanyalah kepadanya dengan lembut dan penuh rasa hormat, dengan cara kau angkat jarimu pertama-tama, sampai ia mengizinkanmu untuk bertanya, dan apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu maka berdirilah dan jawablah semua pertanyaannya dengan jawaban yang baik, dan tidak boleh ia menjawab apabila gurunya bertanya kepada yang lain, karena perbuatan itu bukanlah adab  (yang baik).

●Apabila engkau ingin guru mencintaimu, maka kerjakanlah kewajiban-kewajibanmu, yaitu kau tekun untuk hadir seitap hari diwaktu yang telah ditentukan, maka janganlah engkau ghaib ataupun datang terlambat kecuali dengan udzur yang benar, hendaknya engkau juga harus bersegera masuk kedalam kelas setelah jam istirahat (berlalu), dan berhati-hatilah jangan sampai engkau suka terlambat, maka apabila gurumu menyalahkanmu maka engkau meminta udzu dengan udzur-udzur yang batil, dan engkau pahami seluruh pelajaranmu, kau harus konsisten dalam menghapal dan belajar, kau perhatikan kebersihan kitab, peralatan, dan kerapiannya. Kau tunduk atas perintah guru, bukan karena takut hukumannya. Dan hendaknya engkau tak marah apabila gurumu mendidikmu, karena bahwasanya tidaklah ia mendidikmu kecuali agar engkau menunaikan kewajiban-kewajibanmu, dan kelak kau akan bersyukur atas hal itu apabila engkau telah dewasa.

●Dan gurumu bersama didikannya untukmu ia mencintaimu, ia mengharapkan pendidikan itu kelak akan bermanfaat bagimu, oleh sebab itulah bersyukurlah atas keikhlasannya dalam mendidikmu. Jangan kau lupakan kebaikannya selamanya. Adapun pelajar yang buruk akhlaqnya, ia akan selalu marah apabila dididik oleh gurunya, dan mengeluhkannya kepada orang tuanya.

آداب التلميذ مع زملا ئهِ

1.أَيُّهَا التِّلْمِيْذُ النَّجِيْبُ: أَنْتَ تَتَعَلَّمُ مَعَ زُمَلَائِكَ فِي مَدْرَسَةٍ وَاحِدَةٍ، كَمَا أَنَّكَ تَعِيْشُ مَعَ إِخْوَاتِكَ فِي بَيْتٍ وَاحِدٍ، فَلِذَالِكَ أَحِبَّهُمْ كَمَا تُحِبُّ إِخْوَاتَكَ، وَاْحْتَرِمْ مِنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْكَ، وَاْرْحَمْ مَنْ هُوَ أَصْغَرُ مِنْكَ، وَتَسَاعَدْ مَعَ زُمَلَائِكَ وَقْتَ الدَّرْسِ، عَلَى اْسْتِمَاعِ كَلَامِ الْأُسْتَاذِ، وَعَلَى حِفْظِ النِّظَامِ، وَالْعَبْ مَعَهُمْ فِي وَقْتِ الْإِسْتِرَاحَةِ فِي السَّاحَةِ، لَافِي الْقِسْمِ، وَاْبْتَعِدْ عَنِ الْمُقَاطَعَةِ وَالْمُنَازَعَةِ، وَالصِّيَاحِ، وَعَنِ اللَّعَبِ الَّذِي لَايَلِيْقُ بِكَ. 2.إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُوْنَ مَحْبُوْبًا بَيْنَ زُمَلَائِكَ، فَلَا تَبْخَلْ عَلَيْهِمْ، إِذَا اْسْتَعَارُوا مِنْكَ شَيْئًا، لِأَنَّ الْبُخْلَ قَبِيْحٌ جِدًّا، وَلَا تَتَكَبَّرْ عَلَيْهِمْ، إِذَا كُنْتَ ذَكِيًّا، أَوْمُجْتَهِدًا، أَوْ غَنِيًّا، لِأَنَّ الْكِبْرَ لَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَوْلَادِ الطَّيِّبِيْنَ، وَلَكِنْ إِذَا رَأَيْتَ تِلْمِيْذًا كَيْلَانْ، فَانْصَحْهُ لِيَجْتَهِدَ، وَيَتْرُكَ الْكَسَلَ، أَوْبَلِيْدًا، فَسَاعِدْهُ عَلَى فَهْمِ دُرُوْسَهُ، أَوْ فَقِيْرًا فَاْرْحَمْهُ، وَسَاعِدْهُ بِمَا قَدَرْتَ مِنَ الْمُسَاعَدَةِ. 3.لَا تُؤْذِ زَمِيْلَكَ: بِأَنْ تُضَايِقَهُ فِي مَكَانِهِ، أَوْتَخْبَأَ بَعْدَ أَدَوَاتِهِ، أَوْتُصَعِّرَلَهُ خَدَّكَ، أَوْتَنْظُرَ إَلَيْهِ بِعَيْنٍ حَادَّةٍ، أَوْتُسِئَ الظَّنَّ بِهِ، وَلَا تُؤْذِهِ أَيْضًا: بِأَنْ تَصِيْحَ عَلَيْهِ مِنَ الْوَرَاءِ، لِكَيْ يَنْدَهِشَ، أَوْ تَنْفُخَ فِي أُذَنِهِ، أَوْتُصَوِّتَ فِيْهَا، وَإِذَا اْسْتَعَرْتَ مِنْهُ شَيْئًا، فَلَا تُغَيِّرْهُ، أَوْتُضَيِّعْهُ، أَوْتُوَسِّخْهُ، وَأَرْجِعْهُ إِلَيْهِ بِسُرْعَةٍ، وَاْشْكُرْهُ عَلَى إِحْسَانِهِ. 4.إِذَاتَكَلَّمْتَ مَعَ زَمِيْلِكَ، فَتَكَلَّمْ بِلُطْفٍ وَاْبْتِسَامٍ، وَلَا تَرْفَعْ صَوْتَكَ، أَوْتُعَبِّسْ بِوَجْهِكَ، وَاْحْذَرْ مِنَ الْغَضَبِ وَالْحَسَدِ، وَالْكَلَامِ الْقَبِيْحِ، وَمِنَ الْكَذِبِ وَالشَّتْمِ وَالنَّمِيْمَةِ، وَلَا تَحْلِفْ فِي كَلَامِكَ، وَلَوْكُنْتَ صَادِقًا

●Wahai murid yang mulia, engkau belajar bersama kawan-kawanmu disekolah yang sama. Sebagaimana engkau hidup bersama saudara-saudaramu dirumah yang sama. Oleh karena itu cintailah mereka sebagaimana engkau mencintai saudara-saudaramu, dan hormatilah orang yang lebih tua darimu, dan sayangilah orang yang lebih muda darimu, saling bantu membantulah kamu bersama kawan-kawanmu diwaktu belajar, untuk mendengarkan perkataan guru dan untuk menghapal aturan dan bermainlah bersama mereka diwaktu istirahat dihalaman, bukan didalam kelas, jauhilah dari saling menyakiti dan berkelahi, berteriak dan dari bermain akan suatu hal yangtidak layak bagimu.

●Jika engkau ingin menjadi orang yang dicintai diantara kawanmu maka jangan pelit kepada mreka, apabila mereka meminjam sesuatu kepadamu. Karena pelit adalah perbuatan yang sangat buruk sekali. Dan juga jangan sombong kepada mereka, apabila engkau pintar atau bersungguh-sungguh atau kaya, karena perbuatan sombong bukanlah termasuk dari prilakunya anak-anak yang baik. Akan tetapi ketika engkau melihat seorang murid malas maka nasihatilah ia agar ia bersungguh-sungguh, agar ia meninggalkan kemalasannya, atau kebodohannya, bantulah ia untuk memahami pelajaran atau dia itu faqir, maka sayangilah ia, dan bantulah ia dengan apa yang kau mampu dari bantuan.

●Janganlah engkau menyakiti temanmu, dengan engkau mempersempit tempatnya, atau engkau menyembuunyikan sebagian peralatan sekolahnya, atau engkau atau kau memandangnya dengan pandangan yang tajam , atau kamu berburuk sangka dengannya , dan jangan lah kamu menyakitinya juga : dengan berteriak kepadanya dari belakang agar ia terkejut atau kau meniup di telinganya , atau bersuara di telinganya , dan jika kamu meminjam sesuatu darinya , maka jangan lah kamu rubah , atau kamu hilangkan , atau kamu mengotorinya , dan kembalikan itu kepadanya dengan segerab, dan berterima kasihlah atas kebaikannya ..

●dan jika kau berbicara dengan temanmu , maka berbicarlah dengan lembut dan senyuman , dan janganlah kamu meninggikan suaramu , atau memasamkan wajahmu , dan hati hatilah dari kemarahan dan Hasad , dan perkataan yang jelek , dan berbohong menghina dan adu domba , dan jangan lah kamu bersumpa di perkataanmu meskipun kamu jujur.
(نصائح عامة (1

1.أَيُّهَا الْوَلَدُ النَّجِيْبُ: إِذَا طَلَبْتَ مِنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَلَا تَقُلْ لَهُ: هَاتِ ذَالِكَ، إِفْعَلْ كَذَا، مَثَلًا، وَلَكَنِ اسْتَعْمِلِ الْأَدَبَ وَقُلْ: تَفَضَّلْ، أَوْمِنْ فَضْلِكَ افْعَلْ كَذَا، ثُمَّ اشْكُرْهُ عَلَى مُسَاعَدَتِهِ لَكَ، قَائِلًا: مُتَشَكِّرُ، أَوْأَشْكُرُكَ، أَوْجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. 2.إِذَا كَلَّمَكَ أَحَدٌ فَأَصْغِ إِلَيْهِ، وَلَا تَقْطَعْ عَلَيْهِ كَلَامَهُ، وَلَكِنِ انْتَظِرْ إِلَى أَنْ يَفْرُغَ مِنْهُ، وَإِذَا أَتَى لَكَ بِكَلَامٍ أَوْحِكَايَةٍ، قَدْ سَمِعْتَهَا، فَلَا تَقُلْ لَهُ: إِنِّى قَدْ سَمِعْتُ هَذِهِ الْحِكَايَةِ، كَيْلَا يَنْكَسِرَ قَلْبُهُ. 3.حَافِظْ عَلَى نَظَافَةِ أَسْنَانِكَ: بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ السِّوَاكَ أَوْالْفُرْشَاةَ، كُلَّ يَوْمٍ، حَتَّى تَبْقَى نَظِيْفَةً، لَا تَتَغَيَّرُ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَمَصَّ أُصْبُعَكَ، أَوْ تَقْرِضَ أَظْفَارَكَ بِأَسْنَانِكَ، أَوْ تُدْخِلَ أُصْبُعَكَ فِي أَنْفِكَ، أَوْفِي أُذُنِكَ، وَلَا سِيَّمَا أَمَامَ النَّاسِ. 4.مِنَ الْعَادَاتِ الْقَبِيْحَةِ: أَنْ يَتَطَلَّعَ الْوَلَدُ إِلَى أَسْرَارِ غَيْرِهِ، فَإِذَا رَآى رِسَالَةً لَيْسَتْ لَهُ قَرَأَهَا، أَوْنَظَرَ أَحَدًا يَقْرَأُ رِسَالَةً، سَأَلَهُ: مِنْ أَيْنَ جَاءَتْ هَذِهِ الرِّسَالَةُ، وَمَاذَافِيْهَا؟ أَوْوَجَدَ اثْنَيْنِ يَتَكَلَّمَانِ، قَرُبَ مِنْهُمَا، لِيَسْمَعَ كَلَامَهُمَا

●Duhai anak yang Mulia : jika kamu meminta sesuatu dari seseorang .. Maka jangan lah engkau berkata kepadanya : "Ambilkan itu" , atau "lakukan ini" contohnya , akan gunakanlah etika mu dan katakan : silahkan , atau mungkin kah kamu melakukan ini, kemudian berterima kasihlah atas bantuannya untukmu. dengan berkata : Aku berterima kasih , atau Allah membalasmu dengan kebaikan.

●jika seseorang berbicara kepadamu maka dengarkan lah dengan baik kepadanya, dan jangan kau potong pembicaraannya , akan tetapi tunggulah sampai ia selesai berbicara , dan jika ia datang kepadamu dengan perkataan atau cerita yang sudah engkau dengar maka jangan katakan padanya : "aku sudah mendengar cerita ini agar tak patah hatinya .

●Jagalah atas kebersihan gigimu : dengan menggunakan siwak atau sikat gigi , setiap hari sehingga ia selalu bersih dan tidak berubah . dan janganlah engkau menghisap jarimu atau memotong kukumu dengan gigimu atau memasukkan jarimu kehidungmu atau telingamu apalagi didepan manusia

●dan diantara kebiasaan yang buruk adalah : adanya seseorang mencari cari rahasia orang lain , jika ia melihat surat yang bukan miliknya ia membacanya atau jika melihat seseorang membaca surat ia bertanya : dari mana datangnya surat ini , dan apa isinya ? atau menemukan 2 orang sedang berbicara maka ia mendekati mereka agar mendengar pembicaraan mereka

(نصائح عامة (2

5.وَمِنْ قَبَائِحِ الْعَادَاتِ أَيْضًا: أَنْ يَسْتَعْمِلَ التِّلْمِيْذُ كِتَابَ غَيْرِهِ أَوْمِرْسَمَهُ، بِغَيْرِإِذْنِهِ، أَوْيَجِدَ فِي الطَّرِيْقِ شَيْئًا ضَائِعًا، فَيَتَمَلَّكَهُ، وَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى مَالِكِهِ، وَأَيْضًا أَنْ يَسْتَعِيْرَ شَيْئًا، فَيُغَيِّرَهُ، أَوْلَايُحِبَّ أَنْ يُعِيْدَهُ إِلَى صَاحِبِهِ. 6.وَمِنَ الْعَادَتِ الْمَكْرُوْهَةِ أَيْضًا: إِذَا سُئِلَ الْوَلَدُ أَنْ يُجِيْبَ بِتَحْرِيْكِ رَأْسِهِ أَوْكَتِفِهِ، أَوْيُسَارِعَ إِلَى الْجَوَابِ، وَالْمَسْئُوْلُ غَيْرُهُ. 7.مِنَ الْعَيْبِ أَنْ يُهْمِلَ الْوَلَدُ قَضَّ شَعْرِهِ، أَوْحَلْقَهُ، أَوْتَمْشِيْطَهُ، حَتَّى يَطُوْلَ وَيَكُوْنَ مَنْظَرُهُ قَبِيْحًا، وَأَيْضًا أَنْ لَايُقَلِّمَ أَظْفَارَهُ، حَتَّى تَتَرَاكَمَ تَحْتَهَا الْأَوْسَاخُ، وَأَنْ لَا يَغْتَسِلَ، أَوْ لَا يُبَدِّلَ ثِيَابَهُ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْهُ رَائِحَةُ كَرِيْهَةٌ. 8.إِحْذَرْمِنَ اللَّعَبِ بِشَيْءٍ يَضُرُّكَ، كَاالتُّرَابِ وَالنَّارِ وَالْأَوْسَاخِ، فَقَدْ يَلْعَبُ الْوَلَدُ بِالثِّقَابِ (الشَّخْتِ) فَتَشْتَعِلُ النَّارُفِي مَلَابِسِهِ، وَيَحْتَرِقُ جِسْمُهُ، أَوْيَلْعَبُ بِالْأَوْسَاخِ فَيُصِيْبُهُ الْجَرَبُ وَالْحِكَّةُ، وَاحْذَرْ أَيْضًا أَنْ تَتَزَحْلَقَ فَوْقَ حَاجِزِ السُّلَّمِ، أَوْتَطْلَعَ الْقِرْمِيْدَ، أَوِالشَّجَرَةَ، حَتَّى لَا تَسْقُطَ، فَيَنْكَسِرَشَيْءٌ مِنْ أَعْضَائِكَ، أَوْيُجْرَحَ. 9.حَافِظْ عَلَى صِحَّتِكَ: بِأَنْ تَتَرَيَّضَ فِي الْهَوَاءِ النَّقِيِّ كُلَّ صَبَاحٍ لِيَصِحَّ جِسْمُكَ، فَالْعَقْلُ السَّلِيْمُ فِي الْجِسْمِ السَّلِيْمِ، وَاسْتَنْشِقِ الْهَوَاءَ بِأَنْفِكَ لَا بِفَمِكَ، وَابْتَعِدْ عَنِ الْهَوَاءِ الْوَخِيْمِ، وَلَاتَأْكُلْ طَعَامًا مَكْشُوْفًا، فَرُبَّمَا دَبَّتْ عَلَيْهِ وَزَغَةٌ أَوْ فَأْرَةٌ أَوْ غَيْرُهُمَا مِنَ الْحَشَرَاتِ، وَلَاتَأْكُلْ فَاكِهَةً فِجَّةً أَوْعَفِنَةً، وَكُلِ الْفَاكِهَةَ النَّاضِجَةَ بَعْدَ غَسْلِهَا جَيِّدًا، وَلَاتَشْرَبْ مَاءً كَدِرًا، وَلَا تَدَعِ الْبَعُوْضَ يَقْرِصُكَ، وَابْتَعِدْ عَنِ الذُّبَابِ، وَاطْرُدْهُ عَنْ وَجْهِكَ، وَلَا تَأْكُلْ طَعَامًا حَطَّ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُنْ مِثْلَ الْأَوْلَادِ الشَّرِهِيْنَ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ مِنَ الْأَطْعِمَةِ الَّتِى تُبَاعُ فِي الطُّرُقَاتِ، فِي آنِيَةٍ قَذِرَةٍ مُعَرَّضَةٍ لِلْأَتْرِبَةِ وَالذُّبَابِ. 10.وَمِنَ الْعَادَتِ الْمُضِرَّةِ أَيْضًا: اْلإِسْرَافُ وَالتَّبْذِيْرُ، فَمَثَلًا إِذَا أَعْطَى الْوَالِدُ وَلَدَهُ دَرَاهِمَ، اْشْتَرَى بِهَا أَشْيَاءَ لَا تُفِيْدُهُ، أَوْلَايَحْتَاجُ إِلَيْهَا حَاجَةً شَدِيْدَةً، فَيُضْطَرُّ إِلَى أَنْ يَسْتَدِيْنَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِذَا حْتَاجَ إِلَى شَيْءٍ، وَيَتَعَوَّدَ الدَّيْنَ مِنْ صِغَرِهِ. وَأَمَّا الْوَلَدُ الْعَاقِلُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ التَّوْفِيْرَ وَاْلْإِدِّخَارَ، وَلِذَالِكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى الدَّيْنِ فَيَعِيْشُ فِي هَنَاءٍ وَسُرُوْرٍ

●dan juga diantara adat yang buruk adalah : seorang murid menggunakan kitab orang lain atau pensilnya tanpa izin orang tersebut , atau menemukan barang hilang dijalan lalu ia memilikinya dan yang wajib adalah ia mengembalikannya pada pemiliknyaa atau meminjam sesuatu lalu ia merubahnya atau tidak mau mengembalikannya kepada pemiliknya
●dan kebiasaan yang makruh adalah jika seorang anak ditany lalu ia menjawab dengan menggerakkan kepala atau pundaknya , atau terburu buru dalam menjawab padahal yang ditanya orang lain.

●dan diantara keburukan adalah seorang anak menunda dalam memotong rambutnya atau mencukur dan menyisirnya , sampai memanjang dan menjadi pandangan yang jelek dan juga tidak menggunting kukunya hingga bertumpuk kotoran dibawahnya , dan tidak mandi atau tidak mengganti baju sehingga keluar dari nya bau yang tak sedap

●jauhilah dari bermain dengan sesuatu yang membahayakanmu sepertin debu,api dan kotoran .. maka terkadang seorang anak bermain dengan korek api maka api menyala di bajunya dan terbakar badannya , atau bermain dengan kotoran maka ia terserang dengan kudis dan rasa gatal , dan hindarilah kamu meluncur di atas pangkal tangga atau engkau memanjat tembok bata , atau pohon sehingga engkau tak terjatuh dan patah sesuatu dari badan mu atau terluka.

●9jagalah atas kesehatanmu dengan engkau berolahraga di udara yang bersih dipagi hari untuk menyrhatkan badanmu , karena otak yang sehat berada pada tubuh yang sehat , dan hiruplah udara dengan hidungmu tidak dengan mulutmu , dan menjauhlah dari udara yang berbahaya dan janganlah engkau makan makanan yang terbuka , karena barangkali terinjak oleh cicak atau tikus atau selainnya dari macam macam serangga , dan jangan lah kamu memakan buah yang belum matang atau busuk , dan makanlah buah yang matang setelah dicuci dengan baik , dan jangan meminum air yang keruh , dan jangan biarkan nyamuk menggigitmu dan menjauhlah dari lalat dan usir ia dari wajahmu , dan jangan memakan makanan yang dihinggapinya , dan jangan lah engkau seperti anak anak yang rakus yanh memakan semua makanan yang dijual dijalan di wadah yang kotor yang bisa terkena debu dan lalat

●dan dari kebiasaan yang membahayakan juga adalah : berlebihan dan mebuang buang , maka contohnya jika seorang ayah memberikan anaknya uang , maka ia membeli dengannya sesuatu yang tidak bermanfaat baginya atau ia tidak sangat membutuhkannya maka memaksanya untuk berhutang kepada temannya jika ia membutuhkan sesuatu dan terbiasa berhutang dari sejak kecil .

●adapun anak yang berakal maka sesungguhnya ia menyukai Menabung dan menyimpan , oleh karena itu ia tidak membutuhkan kepada berhutang maka ia hidup dalam kesejahteraan dan kebahagiaan

Fathul muin doa setelah solat


(وَ) سُنَّ (ذِكْرٌ وَ دُعَاءٌ سِرًّا عَقِبَهَا) أَيِ الصَّلَاةِ. أَيْ يُسَنُّ الْإِسْرَارُ بِهِمَا لِمُنْفَرِدٍ وَ مَأْمُوْمٍ وَ إِمَامٍ لَمْ يُرِدْ تَعْلِيْمَ الْحَاضِرِيْنَ وَ لَا تَأْمِيْنَهُمْ لِدُعَائِهِ بِسَمَاعِهِ. وَ وَرَدَ فِيْهِمَا أَحَادِيْثٌ كَثِيْرَةٌ ذَكَرْتُ جُمْلَةً مِنْهَا فِيْ كِتَابِيْ إِرْشَادُ الْعِبَادِ فَاطْلُبْهُ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ. وَ رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: “قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ أَيْ أَقْرَبُ إِلَى الْإِجَابَةِ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ، وَ دُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ”. وَ رَوَى الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِيْ مُوْسَى قَالَ: “كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَ كَبَّرُنَا وَ ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ: يَأَيُّهَا النَّاسُ اِرْبِعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَ لَا غَائِبًا، إِنَّهُ حَكِيْمٌ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ”. اِحْتَجَّ بِهِ الْبَيْهَقِيُّ وَ غَيْرُهُ لِلْإِسْرَارِ بِالذِّكْرِ وَ الدُّعَاءِ. وَ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ: أَخْتَارُ لِلْإِمَامِ وَ الْمَأْمُوْمِ أَنْ يَذْكُرَا اللهَ تَعَالَى بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ، وَ يُخْفِيَا الذِّكْرَ، إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ إِمَامًا يُرِيْدُ أَنْ يُتَعَلَّمَ مِنْهُ فَيَجْهَرُ حَتَّى يَرَى أَنَّهُ قَدْ تُعَلِّمَ مِنْهُ ثُمَّ يُسِرُّ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: {وَ لَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَ لَا تُخَافِتْ بِهَا} يَعْنِيْ  وَ اللهُ أَعْلَمُ الدُّعَاءُ، وَ لَا تَجْهَرْ حَتَّى تُسْمِعَ غَيْرَكَ، وَ لَا تُخَافِتْ حَتَّى لَا تُسْمِعَ نَفْسَكَ. اِنْتَهَى.

(Disunnahkan berdzikir dan berdoa dengan pelan setelah shalat).  Maksudnya disunnahkan untuk melakukan keduanya dengan pelan bagi seorang yang shalat sendiri, ma’mūm dan imām yang tidak ingin mengajarkan ma’mūm yang hadir dan juga tidak ingin bacaan amin dari ma’mūm sebab mendengar doa dari sang imām. Dalam dzikir dan doa ini terdapat beberapa hadits yang banyak yang telah saya sebutkan sebagian darinya dalam kitabku yang bernama Irsyād-ul-‘Ibād, maka carilah kitab tersebut sebab kitab itu sangat penting. Imām Tirmidzī meriwayatkan dari Abū Umāmah yang berkata: Rasūl s.a.w. ditanya: Doa manakah yang lebih cepat dikabulkan? Rasūl menjawab: Doa di tengah malam dan setelah shalat fardhu Dua guru kita Imām Bukhārī (dan) Muslim meriwayatkan dari Abū Mūsā yang berkata: Kami bersama Nabi s.a.w., lalu sesampainya kami di dekat jurang, maka kami membaca tahlīl dan bertakbīr dan suara-suara kami sangat lantang, lantas Rasūl s.a.w. bersabda: Wahai manusia, kasihanilah diri kalian, sungguh kalian tidak berdoa terhadap Dzāt yang tuli dan Dzāt yang tidak hadir. Sesungguhnya Allah adalah Maha Bijaksana, Maha Mendengar dan Maha Dekat. Hadits itu dijadikan dasar oleh Imām Baihaqī dan selainnya untuk melirihkan suara terhadap dzikir dan doa. Imām Syāfi‘ī menyatakan dalam kitab al-Umm: Saya memilih bagi seorang imām dan ma’mūm untuk berdzikir kepada Allah setelah salām dari shalat dan melirihkan terhadap dzikir kecuali ia menjadi imām yang menghendaki untuk mengajari ma’mūm, maka imām mengeraskan suaranya sampai imām melihat bahwa ma’mūm telah mengikutinya lantas imām melirihkan suaranya, sesungguhnya Allah telah berfirman yang artinya: Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah melirihkannya. Maksudnya adalah doa, janganlah kamu mengeraskan doa sampai terdengar orang lain dan jangan melirihkannya sampai tidak terdengar olehmu. – selesai – Maqālah Imām Syāfi‘ī.

 

[فَائِدَةٌ]: قَالَ شَيْخُنَا: أَمَّا الْمُبَالَغَةُ فِي الْجَهْرِ بِهِمَا فِي الْمَسْجِدِ بِحَيْثُ يَحْصَلُ تَشْوِيْشٌ عَلَى مُصَلٍّ فَيَنْبَغِيْ حُرْمَتُهَا.

(Fā’idah) Guru kita berkata: Terlalu keras dalam berdzikir dan berdoa di dalam masjid sekira mengganggu terhadap orang yang shalat sebaiknya hukumnya haram.

 

[فُرُوْعٌ]: يُسَنُّ اِفْتِتَاحُ الدُّعَاءِ بِالْحَمْدِ للّهِ وَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ، وَ الْخَتْمُ بِهِمَا وَ بِآمِيْنَ. وَ تَأْمِيْنُ مَأْمُوْمٍ سَمِعَ دُعَاءِ الْإِمَامِ، وَ إِنْ حَفَظَ ذلِكَ. وَ رَفْعُ يَدَيْهِ الطَّاهِرَتَيْنِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِمَا بَعْدَهُ. وَ اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ حَالَةَ الذِّكْرِ أَوِ الدُّعَاءِ، إِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا أَوْ مَأْمُوْمًا. أَمَّا الْإِمَامُ إِذَا تَرَكَ الْقِيَامَ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِيْ هُوَ أَفْضَلُ لَهُ فَالْأَفْضَلُ جَعْلُ يَمِيْنِهِ إِلَى الْمَأْمُوْمِيْنَ وَ يَسَارِه إِلَى الْقِبْلَةِ. قَالَ شَيْخُنَا: وَ لَوْ فِي الدُّعَاءِ. وَ انْصِرَافُهُ لَا يُنَافِيْ نَدْبُ الذِّكْرِ لَهُ عَقِبَهَا لِأَنَّهُ يَأْتِيْ بِهِ فِيْ مَحَلِّهِ الَّذِيْ يَنْصَرِفُ إِلَيْهِ، وَ لَا يَفُوْتُ بِفِعْلِ الرَّاتِبَةِ، وَ إِنَّمَا الْفَائِتُ بِهِ كَمَالُهُ لَا غَيْرُهُ. وَ قَضِيَّةُ كَلَامِهِمْ حُصُوْلُ ثَوَابُ الذِّكْرِ وَ إِن جَهَلَ مَعْنَاهُ، وَ نَظَرَ فِيْهِ الْأَسْنَوِيُّ. وَ لَا يَأْتِيْ هذَا فِي الْقُرْآنِ لِلتَّعَبُّدِ بِلَفْظِهِ فَأُثِيْبَ قَارِئُهُ وَ إِنْ لَمْ يَعْرِفْ مَعْنَاهُ، بِخِلَافِ الذِّكْرِ لَا بُدَّ أَنْ يَعْرِفَهُ وَ لَوْ بِوَجْهٍ. اِنْتَهَى.

(Cabangan Masalah). Disunnahkan untuk mengawali doa dengan memuji Allah dan shalawat atas Nabi s.a.w. dan mengakhiri dengan keduanya dan dengan amin. Sunnah membaca amin bagi ma’mūm yang mendengar doa sang imām walaupun ma’mūm hafal dengan doa tersebut. Sunnah mengangkat kedua tangan yang suci sejajar dengan kedua pundaknya, mengusap wajah dengan keduanya setelah berdoa, menghadap qiblat saat berdzikir dan doa, jika shalat sendiri atau menjadi seorang ma’mūm. Sedangkan imam, jika tidak beranjak dari tempat shalatnya, maka yang lebih utama baginya adalah menjadikan sisi tubuh sebelah kanannya menghadap ma’mūm dan sisi kirinya menghadap qiblat.Guru kita berkata: Walaupun pada waktu berdoa. Beranjaknya imām tidak menghilangkan kesunnahan dari dzikir baginya setelah itu sebab imām dapat mengerjakan dzikir tersebut di tempat yang dituju. Dzikir tidak hilang kesunnahannya dengan melakukan shalat rawātib, sedang yang hilang hanyalah kesempurnaannya, bukan selain itu. Komentar dari para ‘ulamā’ memberikan pemahaman bahwa pahala dzikir dapat didapat walaupun tidak mengerti ma‘nanya. Imām Asnawī membuat penyamaan hukum dalam masalah ini dan penyamaan ini tidak akan terjadi dalam kasus membaca al-Qur’ān sebab al-Qur’ān memang difungsikan untuk dibuat ibadah bagi pembacanya walaupun tidak mengerti ma‘nanya berbeda dengan masalah dzikir yang diharuskan mengetahui ma‘nanya, walaupun dari satu sisi.  – Selesai.

 

وَ يُنْدَبُ أَنْ يَنْتَقِلَ لِفَرْضٍ أَوْ نَفْلٍ مِنْ مَوْضِعِ صَلَاتِهِ لِيَشْهَدَ لَهُ الْمَوْضِعُ حَيْثُ لَمْ تُعَارِضْهُ فَضِيْلَةٌ، نَحْوِ صَفٍّ أَوَّلٍ، فَإِنْ لَمْ يَنْتَقِلْ فَصَلَ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ. وَ النَّفْلُ لِغَيْرِ الْمُعْتَكِفِ فِيْ بَيْتِهِ أَفْضَلُ إِنْ أَمِنَ فَوْتَهُ، أَوْ تَهَاوُنًا بِهِ، إِلَّا فِيْ نَافِلَةِ الْمُبْكِرِ لِلْجُمْعَةِ، أَوْ مَا سُنَّ فِيْهِ الْجَمَاعَةُ، أَوْ وَرَدَ فِي الْمَسْجِدِ كَالضُّحَى، وَ أَنْ يَكُوْنَ انْتِقَالُ الْمَأْمُوْمِ بَعْدَ انْتِقَالِ إِمَامِهِ.

Disunnahkan untuk berpindah tempat karena melaksanakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah dari tempat shalatnya supaya tempat tersebut menjadi saksi baginya sekira tidak menghilangkan fadhīlah semacam shaf awal. Jika tidak mau berpindah tempat, maka pisahlah dengan menggunakan ucapan manusia. Shalat sunnah di rumah bagi selain orang yang i‘tikāf lebih utama – dibanding dilaksanakan di masjid – jika tidak khawatir habisnya waktu atau mengabaikannya, kecuali shalat yang disunnahkan untuk berada di awal waktu di hari Jum‘at,  yang disunnahkan berjamā‘ah atau shalat yang Nabi s.a.w. laksanakan di masjid seperti shalat Dhuḥā. Disunnahkan berpindahnya ma’mūm setelah berpindahnya imām.

 

(وَ نُدِبَ) لِمُصَلٍّ (تَوَجُّهٌ لِنَحْوُ جِدَارٍ) أَوْ عَمُوْدٍ مِنْ كُلِّ شَاخِصٍ طُوْلُ ارْتِفَاعِهِ ثُلُثَا ذِرَاعٍ فَأَكْثَرَ. وَ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ عَقِبِ الْمُصَلِّيْ ثَلَاثَةُ أَذْرُعٍ فَأَقَلَّ، ثُمَّ إِنْ عَجِزَ عَنْهُ (فَــــ) لِنَحْوِ (عَصًا مَغْرُوْزَةً) كَمَتَاعٍ، (فَـــــ) إِنْ لَمْ يَجِدْهُ نُدِبَ (بَسْطُ مُصَلًّى) كَسَجَّادَةٍ، ثُمَّ إِنْ عَجِزَ عَنْهُ خَطَّ أَمَامَهُ خَطًّا فِيْ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ عَرْضًا أَوْ طُوْلًا، وَ هُوَ أَوْلَى، لِخَبَرِ أَبِيْ دَاودَ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ أَمَامَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ”. وَ قِيْسَ بِالْخَطِّ الْمُصَلَّى، وَ قُدِّمَ عَلَى الْخَطِّ لِأَنَّهُ أَظْهَرُ فِي الْمُرَادِ. وَ التَّرْتِيْبُ الْمَذْكُوْرُ هُوَ الْمُعْتَمَدُ، خِلَافًا لِمَا يُوْهِمهُ كَلَامُ ابنُ الْمُقْرِيِّ. فَمَتَى عَدَلَ عَنْ رُتْبَةٍ إِلَى مَا دُوْنَهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا كَانَتْ كَالْعَدَمِ. وَ يُسَنُّ أَنْ لَا يَجْعَلَ السُّتْرَةَ تَلْقَاءَ وَجْهِهِ بَلْ عَنْ يَمِيْنِهِ أَوْ يَسَارِهِ، وَ كُلُّ صَفٍّ سُتْرَةٌ لِمَنْ خَلْفَهُ إِنْ قَرُبَ مِنْهُ. قَالَ الْبَغَوِيُّ: سُتْرَةُ الْإِمَامِ سُتْرَةُ مَنْ خَلْفَهُ. اِنْتَهَى.

(Disunnahkan) bagi seorang yang shalat (untuk menghadap sejenis dinding) atau tiang ya‘ni dari setiap perkara yang tampak dengan tinggi 2/3 hasta lebih, dan jarak antara dinding dengan tumit orang shalat 3 hasta ke bahwa. Lantas jika tidak mampu dari sejenis dinding, maka dengan sejenis tongkat yang ditancapkan seperti perkakas. Jika tidak menemukannya, maka disunnahkan membentangkan tempat shalat seperti sajadah, lantas jika tidak mampu maka menggaris di depannya dengan panjang dan lebar 3 hasta. Menggaris dengan memanjang ini lebih utama dibanding melebar sebab hadits yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd: Ketika salah satu di antara kalian shalat, maka jadikanlah di depan wajah kalian sesuatu, jika tidak ditemukan, maka tegakkanlah tongkat, jika ia tidak membawa tongkat, maka garislah, kemudian tidak akan membahayakan sesuatu yang melintas di depannya. Disamakan dengan garis adalah tempat shalat, dan ia lebih didahulukan dari pada garis sebab tempat shalat seperti sajadah tersebut lebih jelas dari yang dikehendaki. Tartib yang telah disebutkan adalah pendapat yang mu‘tamad, berbeda dengan pendapat dari pemahaman komentar Imām Ibn-ul-Muqrī.  Jika seseorang beralih dari penggunaan tingkat teratas menuju tingkat sebawahnya besertaan mampu untuk tingkat teratas tersebut, maka penggunaan itu dianggap seperti tidak ada. Disunnahkan untuk tidak menjadikan sutrah atau penghalang tepat di depan wajahnya, namun jadikanlah di samping kanan atau kirinya. Setiap barisan merupakan sutrah bagi orang yang berada di belakangnya jika jaraknya dekat. Imām Baghawī menyatakan: Sutrah-nya imām adalah sutrah-nya ma’mūm yang ada di belakangnya. – Selesai – .

 

وَ لَوْ تَعَارَضَتِ السُّتْرَةُ وَ الْقُرْبُ مِنَ الْإِمَامِ أَوِ الصَّفِّ الْأَوَّلِ فَمَا الَّذِيْ يُقَدَّمُ؟ قَالَ شَيْخُنَا: كُلٌّ مُحْتَمَلٌ وَ ظَاهِرُ قَوْلِهِمْ يُقَدَّمُ الصَّفُّ الْأَوَّلُ فِيْ مَسْجِدِهِ وَ إِنْ كَانَ خَارِجَ مَسْجِدِهِ الْمُخْتَصِّ بِالْمُضَاعَفَةِ تَقْدِيْمُ نَحْوِ الصَّفِّ الْأَوَّلِ. اِنْتَهَى.

Jikalau terjadi pertentangan di antara sutrah dengan dekat terhadap imām atau dengan barisan awal maka manakah yang harus didahulukan? Guru kita mengatakan: Semuanya masih mungkin benar dan kejelasan komentar para ‘ulamā’ yang lebih mendahulukan barisan awal di masjid Nabi s.a.w., walaupun barisan awal itu berada di luar masjid yang ditertentukan dengan berlipat pahalanya menyimpulkan lebih didahulukannya semacam barisan awal. – Selesai – .

وَ إِذَا صَلَّى إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا فَيُسَنُّ لَهُ وَ لِغَيْرِهِ دَفْعُ مَارٍّ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ السُّتْرَةِ الْمُسْتَوْفِيَةِ لِلشُّرُوْطِ، وَ قَدْ تَعَدَّى بِمُرُوْرِهِ لِكَوْنِهِ مُكَلَّفًا. وَ يَحْرُمُ الْمُرُوْرُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ السُّتْرَةِ حِيْنَ يُسَنُّ لَهُ الدَّفْعُ، وَ إِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَارُّ سَبِيْلًا مَا لَمْ يُقَصِّرْ بِوُقُوْفٍ فِيْ طَرِيْقٍ أَوْ فِيْ صَفٍّ مَعَ فُرْجَةٍ فِيْ صَفٍّ آخَرَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلِدَاخِلٍ خَرْقَ الصُّفُوْفِ وَ إِنْ كَثُرَتْ حَتَّى يَسُدَّهَا.

Ketika seseorang shalat dengan sesuatu dari sutrah tersebut, maka disunnahkan baginya untuk mencegah orang yang lewat di antara dirinya dan sutrah yang memenuhi persyaratan,  dan orang tersebut telah ceroboh dengan lewat di depan orang yang shalat sebab dirinya adalah orang mukallaf.  Haram untuk lewat di antara orang yang shalat dan sutrah-nya saat disunnahkan baginya untuk menolak yang lewat walaupun tidak menemukan jalan selama ia tidak ceroboh dengan shalat di jalan atau berada di barisan padahal masih ada tempat kosong di barisan lain atau di depannya. Maka bagi seorang yang masuk boleh untuk menerobos barisan walaupun sangat banyak sampai ia menutup tempat kosong 

(وَ كُرِهَ فِيْهَا) أَيِ الصَّلَاةِ، (اِلْتِفَاتٌ) بِوَجْهٍ بِلَا حَاجَةٍ. وَ قِيْلَ: يَحْرُمُ. وَ اخْتِيْرَ لِلْخَبِرِ الصَّحِيْحِ: “لَا يَزَالُ اللّهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِيْ مُصَلَّاهُ أَيْ بِرَحْمَتِهِ وَ رِضَاهُ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا الْتَفَتَ أَعْرَضَ عَنْهُ”. فَلَا يُكْرَهُ لِحَاجَةٍ، كَمَا لَا يُكْرَهُ مُجَرَّدُ لَمْحِ الْعَيْنِ (وَ نَظَرٌ نَحْوِ سَمَاءٍ) مِمَّا يُلْهِيْ، كَثَوْبٍ لَهُ أَعْلَامٌ لِخَبَرِ الْبُخَارِيِّ: “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِيْ صَلَاتِهِمْ”. فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِيْ ذلِكَ حَتَّى قَالَ: “لِيَنْتَهُنَّ عَنْ ذلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارَهُم”. وَ مِنْ ثَمَّ كُرِهَتْ أَيْضًا فِيْ مُخَطَّطٍ أَوْ إِلَيْهِ أَوْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ يَخِلُّ بِالْخُشُوْعِ.

(Dimakruhkan) di dalam shalat (menolehkan) wajah tanpa ada hajat, sebagian pendapat menghukumi haram dan pendapat tersebut dipilih sebab ada sebuah hadits yang shaḥīḥ: Allah akan selalu memperhatikan terhadap hamba-Nya di tempat shalat – maksudnya dengan rahmat dan ridha-Nya. – selama hamba tersebut tidak menoleh, maka jika hamba tersebut menoleh, maka Allah-pun akan berpaling dari hamba tersebut. Tidak dimakruhkan bila ada hajat seperti tidak dimakruhkannya sekedar lirikan mata. (Makruh melihat semacam langit) ya‘ni dari setiap hal yang dapat melupakan seperti baju yang bergambar sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imām Bukhārī: “Bagaimana keadaan para kaum yang mengangkat pandangan matanya ke langit saat shalat!” lantas Rasūl s.a.w. mempertajam sabdanya itu sampai Rasūl bersabda: “Sebaiknya mereka menghentikan hal itu atau ingin disambar matanya.” Oleh karena itu, dimakruhkan juga baju yang bergaris-garis di depannya atau yang digunakan untuk shalat sebab hal itu dapat mengganggu kekhusyū‘an.

 

(وَ بُصَقٌ) فِيْ صَلَاتِهِ، وَ كَذَا خَارِجِهَا، (أَمَامًا) أَيْ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْ هُوَ خَارِجِهَا مُسْتَقْبِلًا، كَمَا أَطْلَقَهُ النَّوَوِيُّ (وَ يَمِيْنًا) لَا يَسَارً، لِخَبَر الشَّيْخَيْنِ: “إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِيْ رَبَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ، فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ لَا عَنْ يَمِيْنِهِ، بَلْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى أَوْ فِيْ ثَوْبٍ مِنْ جِهَةِ يَسَارِهِ”. وَ هُوَ أَوْلَى. قَالَ شَيْخُنَا: وَ لَا بُعْدَ فِيْ مَرَاعَاةِ مَلَكِ الْيَمِيْنِ دُوْنَ مَلَكِ الْيَسَارِ إِظْهَارًا لِشَرَفِ الْأَوَّل، وَ لَوْ كَانَ عَلَى يَسَارِهِ فَقَطْ إِنْسَانٌ بَصَقَ عَنْ يَمِيْنِهِ، إِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ أَنْ يُطَأْطِىءَ رَأْسَهُ، وَ يَبْصُقَ لَا إِلَى الْيَمِيْنِ وَ لَا إِلَى الْيَسَارِ. وَ إِنَّمَا يَحْرُمُ الْبِصَاقُ فِي الْمَسْجِدِ إِنْ بَقِيَ جُرْمُهُ لَا إِنِ اسْتُهْلِكَ فِيْ نَحْوِ مَاءِ مَضْمَضَةٍ وَ أَصَابَ جُزْءًا مِنْ أَجْزَائِهِ دُوْنَ هَوَائِهِ. وَ زَعْمُ حُرْمَتِهِ فِيْ هَوَائِهِ وَ إِنْ لَمْ يُصِبْ شَيْئًا مِنْ أَجْزَائِهِ بَعِيْدٌ غَيْر مُعَوَّلٍ عَلَيْهِ، وَ دُوْنَ تُرَابٍ لَمْ يَدْخُلْ فِيْ وَقْفِهِ. قِيْلَ: وَ دُوْنَ حُصُرِهِ، لكِنْ يَحْرُمُ عَلَيْهَا مِنْ جِهَةِ تَقْذِيْرِهَا كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ. اه. وَ يَجِبُ إِخْرَاجُ نَجَسٍ مِنْهُ فَوْرًا عَيْنِيًّا عَلَى مَنْ عَلِمَ بِهِ، وَ إِنْ أَرْصَدَ لِإِزَالَتِهِ مَنْ يَقُوْمَ بِهَا بِمَعْلُوْمٍ، كَمَا اقْتَضَاهُ إِطْلَاقُهُمْ. وَ يَحْرُمُ بَوْلٌ فِيْهِ وَ لَوْ فِيْ نَحْوِ طِشْتٍ. وَ إِدْخَالُ نَعْلٍ مُتَنَجِّسَةٍ لَمْ يَأْمَنِ التَّلْوِيْثَ. وَ رَمْيُ نَحْوِ قَمْلَةٍ فِيْهِ مَيْتَةٍ وَ قَتْلُهَا فِيْ أَرْضِهِ وَ إِنْ قَلَّ دَمُهَا، وَ أَمَّا إِلْقَاؤُهَا أَوْ دَفْنُهَا فِيْهِ حَيَّةً، فَظَاهِرُ فَتَاوِي النَّوَوِيِّ حِلُّهُ، وَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْجَوَاهِرِ تَحْرِيْمُهُ، وَ بِهِ صَرَّحَ ابْنُ يُوْنُسٍ. وَ يُكْرَهُ فَصْدٌ وَ حِجَامَةٌ فِيْهِ بِإِنَاءٍ، وَ رَفْعُ صَوْتٍ، وَ نَحْوُ بَيْعٍ وَ عَمْلُ صِنَاعَةٍ فِيْهِ.

(Makruh meludah) di dalam shalat begitu pula di luar shalat (ke arah depan), walaupun orang yang berada di luar shalat tidak menghadap qiblat seperti yang telah dimutlakkan oleh Imām Nawawī (dan ke arah kanan) bukan arah kiri sebab hadits yang diriwayatkan oleh dua guru kita Imām Bukhārī (dan) Muslim: Ketika salah satu di antara kalian berada dalam shalat, maka sungguh ia adalah orang yang sedang berbisik dengan Tuhannya yang Maha Mulia dan Agung, maka janganlah meludah ke arah depan atau kanannya, namun ke arah kiri atau di bawah telapak kaki kiri atau pada baju dari sisi kirinya. Meludah pada baju dari arah kirinya lebih utama. Guru kita berkata: Tidak jauh dari kebenaran dalam menjaga malaikat yang berada di arah kanannya, bukan malaikat arah kiri sebab untuk memperlihatkan kemuliaan malaikat yang awal. Jika manusia hanya berada di arah kirinya, maka meludahlah ke arah kanan ketika tidak mungkin untuk menundukkan kepala dan meludah tidak ke arah kanan dan tidak ke arah kiri. Diharamkannya meludah di masjid hanyalah terjadi jika bentuk ludah itu masih ada, bukan bila telah larut di dalam semacam air berkumur, dan ketika mengenai bagian dari masjid bukan langit-langitnya. Praduga keharaman meludah pada langit-langit masjid walaupun tidak mengenai bagian dari masjid sangat jauh dari kebenaran yang tidak berarti. Tidak haram meludah pada debu yang tidak masuk dalam pewakafan masjid, sebagian pendapat menyatakan: Tidak haram pada tikar masjid, namun hal itu haram dari sisi mengotori masjid seperti yang telah jelas. – Selesai – . Wajib ‘ain hukumnya untuk mengeluarkan najis dari masjid dengan segera bagi orang yang mengetahui najis tersebut walaupun telah ada petugas khusus yang digaji untuk membersihkan najis seperti komentar para ‘ulamā’. Haram kencing di dalam masjid walaupun di dalam semacam wadah, memasukkan sandal yang terkena najis yang tidak aman dari mengenai masjid, melempar semacam kutu yang mati dan membunuh kutu di tanah masjid walaupun darahnya sedikit. Sedangkan melempar kutu atau menguburnya dalam keadaan hidup di dalam masjid dalam Fatāwā Nawawī hukumnya halal, sedang dalam kitab Jawāhir hukumnya haram. Keharaman ini juga telah dijelaskan oleh Imām Yūnus. Dimakruhkan untuk tusuk jarum dan bekam di dalam masjid dengan menggunakan wadah,  mengeraskan suara, melakukan transaksi semacam berdagang dan melakukan pertukangan di dalamnya.

 

(وَ كَشْفُ رَأْسٍ وَ مَنْكِبٍ) وَ اضْطِبَاعٌ وَ لَوْ مِنْ فَوْق الْقَمِيْصَ. قَالَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ: لَا يَرُدُّ رِدَاءَهُ إِذَا سَقَطَ، أَيْ إِلَّا لِعُذْرٍ، وَ مِثْلُهُ الْعَمَامَةَ وَ نَحْوُهَا. (وَ) كُرِهَ (صَلَاةٌ بِمُدَافَعِةِ حَدَثٍ) كَبَوْلٍ وَ غَائِطٍ وَ رِيْحٍ، لِلْخَبَرِ الْآتِيْ، وَ لِأَنَّهَا تُخِلُّ بِالْخُشُوْعِ. بَلْ قَالَ جَمْعٌ: إِنْ ذَهَبَ بِهَا بَطَلَتْ. وَ يُسَنُّ لَهُ تَفْرِيْغُ نَفْسِهِ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَ إِنْ فَاتَتِ الْجَمَاعَةُ، وَ لَيْسَ لَهُ الْخُرُوْجُ مِنَ الْفَرْضِ إِذَا طَرَأَتْ لَهُ فِيْهِ، وَ لَا تَأْخِيْرُهُ إِذَا ضَاقَ وَقْتُهُ. وَ الْعِبْرَةُ فِيْ كَرَاهَةِ ذلِكَ بِوُجُوْدِهَا عِنْدَ التَّحَرُّمِ. وَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُلْحِقَ بِهِ مَا لَوْ عَرَضَتْ لَهُ قَبْلَ التَّحَرُّمِ فَزَالَتْ وَ عَلِمَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهَا تَعُوْدُ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ. وَ تُكْرَهُ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ يُشْتَاقُ إِلَيْهِ، لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: “لَا صَلَاةَ أَيْ كَامِلَةً بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَ لَا صَلَاةَ وَ هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ أَيِ الْبَوْلُ وَ الْغَائِطُ”.

(Di waktu shalat makruh hukumnya membuka penutup kepala dan pundak), memakai selendang walaupun dari atas baju kurung. Imām Ghazālī mengatakan dalam kitab Iḥyā’-nya: Jangan mengembalikan selendang ketika jatuh. Maksudnya ketika tidak ada ‘udzur. Seperti halnya selendang adalah serban dan sejenisnya. (Dimakruhkan shalatnya seseorang yang menahan hadats) seperti kencing, berak dan kentut sebab hadits Nabi yang akan dipaparkan nanti dan sebab hal itu dapat mengganggu kekhusyū‘an bahkan sebagian ‘ulamā’ mengatakan jika kekhusyū‘an hilang sebab menahan hadats, maka shalatnya batal. Disunnahkan untuk mengosongkan dirinya dari hadats sebelum melaksanakan shalat walaupun kehilangan shalat jamā‘ah. Tidak diperkenankan keluar dari shalat fardhu  jika hadats tersebut tiba-tiba terasa akan keluar dan juga tidak boleh mengakhirkan shalat jika waktu shalat hampir habis. Tolok-ukur dimakruhkannya hal itu adalah adanya hadats sebelum takbīrat-ul-iḥrām dan sebaiknya disamakan dengan waktu itu adalah jikalau hadats tersebut ada sebelum takbīrat-ul-iḥrām kemudian hilang dan secara adat hadats tersebut diketahui akan kembali lagi di waktu shalat. Dimakruhkan shalat di hadapan makanan dan minuman yang disukai sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim: Tidaklah sempurna shalat di hadapan makanan, dan tidaklah sempurna shalat sedang orang yang shalat menahan dua hadats. Maksudnya kencing dan berak.

 

(وَ) كُرِهَ صَلَاةٌ فِيْ طَرِيْقِ بُنْيَانٍ لَا بَرِّيَّةٍ، وَ مَوْضِعِ مَكْسٍ، وَ (بِمَقْبَرَةٍ) إِنْ لَمْ يَتَحَقَّقْ نَبْشَهَا، سَوَاءٌ صَلَّى إِلَى الْقَبْرِ أَمْ عَلَيْهِ أَمْ بِجَانِبِهِ، كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْأُمِّ. وَ تَحْرُمُ الصَّلَاةُ لِقَبْرِ نَبِيٍّ أَوْ نَحْوَ وَلِيٍّ تَبَرُّكًا أَوْ إِعْظَامًا. وَ بَحَثَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ عَدَمَ كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ فِيْ مَسْجِدٍ طَرَأَ دَفْنُ النَّاسِ حَوْلَهُ وَ فِيْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ. وَ تَصِحُّ بِلَا ثَوْبِ كَمَا فِيْ ثَوْبٍ مَغْصُوْبٍ، وَ كَذَا إِنْ شَكَّ فِيْ رِضَا مَالِكِهِ لَا إِنْ ظَنَّهُ بِقَرِيْنَةٍ. وَ فِي الْجِيْلِيِّ: لَوْ ضَاقَ الْوَقْتُ وَ هُوَ بِأَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ أَحْرَمَ مَاشِيًا. وَ رَجَّحَهُ الْغَزِّيُّ. قَالَ شَيْخُنَا: وَ الَّذِيْ يَتَّجِهُ أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ لَهُ صَلَاةُ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ التَّرْكُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهَا، كَمَا لَهُ تَرْكُهَا لِتَخْلِيْصِ مَالِهِ لَوْ أُخِذَ مِنْهُ، بَلْ أَوْلَى.

(Dimakruhkan) shalat di tengah jalan ramai bukan jalan di hutan,  di tempat menarik pajak, (di pemakaman). Jika tidak jelas telah digali, baik shalat menghadap maqam, di atasnya atau di sampingnya seperti yang telah dijelaskan dalam al-Umm. Haram shalat di pemakaman Nabi atau semacam wali untuk mencari barakah atau mengagungkan. Imām Zain-ud-Dīn al-‘Irāqī membahas tentang tidak dimakruhkannya shalat di masjid yang di sekitarnya dibangun pemakaman setelah berdirinya masjid, di bumi yang dighashab, namun hukumnya sah tanpa pahala seperti sahnya shalat menggunakan baju ghashaban, begitu pula jika masih ragu kerelaan dengan adanya pertanda. Dalam kitab al-Jailī disebutkan: Jikalau waktu shalat hampir habis sedang dirinya masih berada di tanah yang dighashab, maka baginya harus takbīrat-ul-iḥrām dengan berjalan, dan ini diunggulkan oleh Imām Ghazālī. Guru kita berkata: Yang lebih unggul adalah tidak diperbolehkan shalat dengan cara shalat syiddat-ul-khauf dan wajib baginya untuk meninggalkan shalat sampai ia keluar dari tempat ghashaban tersebut seperti halnya diperbolehkan untuk meninggalkan shalat untuk menyelamatkan harta jikalau harta tersebut diambil darinya bahkan meninggalkan shalat di tanah yang dighasab lebih utama.


Selanjutnya klik disini


1 | 2 |3 |4 |5  |6 |7  | 8 | 

Senin, 03 Agustus 2020

Nashoihul ibad3

Bab bagian tiga macam nasihat

 وفيه خمس وخمسون موعظة، سبعة أخبار والباقى آثار، 
المقالة الأولى 
روى عن النبي صلى الله عليه وسلم
مَنْ اَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُوْ ضِيْقَ الْمَعَاشِ فَكَأَنَّمَا يَشْكُوْ رَبَّهُ وَمَنْ اَصْبَحَ لِاُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ اَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَثَ ثُلُثَا دِيْنِهِ.

Didalamnya ada 55 nasihat, 7 hadits sisanya perkataan para sahabat nabi, makalah pertama dari nabi SAW

``Barangsiapa yang dipagi hari sudah mengadukan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), maka berarti ia telah mengeluh kepada Tuhannya. Dan barangsiapa yang di pagi hari sudah merasa susah dengan urusan duniawinya, maka berarti ia telah membenci allah saat itu juga. Dan barangsiapa yang merendahkan dirinya di depan orang kaya lantaran melihat hartanya, maka sesungguhnya telah hilang dua pertiga agamanya (dari dirinya). 

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas`ud sebagai berikut :


اَلَا اُعَلِّمُكُمُ الْكَلِمَات ِالَّتِى تَكَلَّمَ بِهَا مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ جَاوَزَ الْبَحْرَ مَعَ بَنِى اِسْرَائِيْلَ ؟ فَقُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ : قُوْلُوْا : اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِى الْعَظِيْمِ.

 Bukankah aku belum mengajarkan kepada kalian kalimat yang (pernah) diucapkan oleh Nabi Musa as. Ketika menyebrangi lautan bersama Bani Israil ? `` maka kami menjawab, ``Begitulah wahai Rasulallah. `` Beliau bersabda, ``Ucapkanlah ``Allahumma lakal hamdu…..dst. `` (Wahai Tuhanku, hanya bagimu segala puji, hanya kepadaMu lah tempat mengadu. Engkaulah tempat meminta pertolongan, dan tiada daya dan upaya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.``

Al A`masy berkata, ``Setelah aku menerima kalimat kalimat itu dari Saqiq Al Asadi yang berkebangsaan Kufah, yang ia juga memperolehnya dari Abdullah ra. maka akupun tidak pernah meninggalkannya lagi.``Kemudian ia berkata, ``Salam mimpiku aku melihat seseorang yang datang kepadaku, seraya berkata, : `` Wahai Sulaiman, tambahkanlah kalimat kalimat itu dengan bacaan :


وَنَسْتَعِيْنُكَ عَلَى فَسَادٍ فِيْنَا وَنَسْئَلُكَ صَلاَحَ اَمْرِنَا  كُلِّهِ.

dan kami mohon pertolongan kepadaMu atas kehancuran yang telah menimpa kami, dan kami mohon kepadaMu kebaikan segala urusanku.``

Keterangan :

Tidak boleh mengagungkan manusia karena hartanya. Sebab, sesungguhnya orang yang memuliakan harta akan menghinakan ilmu dan kemaslahatan. Manusia dianjurkan untuk menghormati sesamanya.

a. Karena ilmunya

b. Karena lebih tua umurnya.

c. Karena keislamannya di dalam batas-batas kemanusiaan.

Syekh Abdul Qadir Al Jaelani berkata:

لَابُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِى سَائِرِ اَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ : اَمْرٌ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٌ يَجْتَنِبُهُ وَقَدَرٌ يَرْضَى بِهِ 

Setiap mukmin harus senantiasa berada dalam 3 keadaan, yaitu :

a. Melasanakan perintah Allah.

b. Menjauhi larangan Allah.

c. Rela akan Qadha dan Qadhar.

2. Tiga Hal Akan Terwujud Dengan Tiga Cara - Atsar Abu Bakar ra.


ثَلَاثٌ لَا تُدْرَكُ بِثَلَاثٍ : اَلْغِنَى بِالْمُنَى وَالشَّبَابُ بِالْخِضَابِ وَالصِّحَّةُ بِالْاَدْوِيَةِ.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq ra. berikut ini :``Tiga perakara yang tidak dapat tecapai dengan hanya tiga cara, yaitu kekayaan tidak akan tercapai hanya dengan lamunan, keremajaan tidak akan tercapai hanya dengan menyemir rambut, dan kesehatan itu (juga) tidak akan tercapai hanya dengan minum obat obatan.``

3. Bagian Dari Akal, Ilmu dan Penghidupan - Hadits 1


حُسْنَ التَّوَدُّدِ إِلَى النَّاسِ نِصْفُ الْعَقْلِ وَحُسْنُ السُؤَالِ نِصْفُ الْعِلْمِ وَحُسْنَ التَّدْبِيْرِ نِصْفُ الْمَعِيْشَةِ.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar ra. berikut ini :`` Perbuatan baik kepada sesama manusia itu adalah bagian daripada akal, pertanyaan yang baik itu adalah bagian daripada ilmu dan kebaikan pengaturan itu adalah bagian dari penghidupan. ``

3. Bagian Dari Akal, Ilmu dan Penghidupan - Hadits 2


مَدَارَةُ النَّاسِ صَدَقَةٌ.

Tentang perbuatan yang baik ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Thabrani, dan Baihaqi yang bersumber dari Abdullah ra. bahwa Rasulullah bersabda sebagai berikut :`` Lemah lembut kepada sesama manusia itu adalah termasuk sedekah. ``

4. Agar Dicintai Allah, Malaikat, dan Manusia - Hadits 1


مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا اَحَبَّهُ اللهُ وَمَنْ تَرَكَ الذُّنُوْبَ أَحَبَّهُ الْمَلَائِكَةُ وَمَنْ حَسَمَ الطَّمَعَ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ اَحَبَّهُ الْمُسْلِمُوْنَ.

Sebagaimana yang diriwayatkan Utsman ra. sebagai berikut :`` Barangsiapa yang meninggalkan urusan duniawinya, maka ia akan dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang menjauhi perbuatan dosa, maka ia akan disenangi oleh Malaikat. Dan barangsiapa menjauhkan sifat tamak dalam dirinya, ia pasti akan dicintai oleh manusia pada umumnya.(kaum muslimin) ``

5. Islam, Ketaatan, dan Kematian - Hadits 1


إِنَّ مِنْ نَعِيْمِ الدُّنْيَا يَكْفِيْكَ الْاِسْلَامُ نِعْمَةً وَاِنَّ مِنَ الشُّغْلِ يَكْفِيْكَ الطَّاعَةُ شُغْلًا وَاِنَّ مِنَ الْعِبْرَةِ يَكْفِيْكَ الْمَوْتُ عِبْرَةً.

diriwayatkan dari Ali ra. sebagai berikut :``Sesugguhnya dari kenikmatan kenikmatan dunia, itu sudah cukup dengan kenikmatan Islam. Dan sesungguhnya dari kesibukan kesibukan (dunia), maka cukuplah bagimu sibuk dalam berbuat ketaatan. Dan sesungguhnya sebagian dari contoh contoh (dalam kehidupan manusia), maka cukuplah kematian sebagai contoh (suri tauladan) bagimu. ``

5. Islam, Ketaatan, dan Kematian - Penjelasan


فَإِنَّ اَعْظَمِ نِعَمِ اللهِ لِلْعَبْدِ اِخْرَاجُهُ لَهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوُجُوْدِ وَاِخْرَاجُهُ مِنْ ظُلُمَاتِ الْكُفْرِ اِلَى نُوْرِ اْلإِسْلَامِ .

Sesungguhnya nikmat Allah yang paling besar manusia ialah Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada dan membebaskan manusia dari kekufuran (yang diibaratkan dengan gelapnya malam) kepada agama islam (yang diibaratkan dengan cahaya). ``

6. Tipu Daya Kenikmatan, Sanjungan, Dan Aib Yang Terselubung - Hadits 1


كَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ بِالنِّعْمَةِ عَلَيْهِ وَكَمْ مِنْ مَفْتُوْنٍ بِالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَكَمْ مِنَ مَغْرُوْرٍ بِالسِّتْرِ عَلَيْهِ.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud ra. berikut ini :
`` Tak terhitung orang  yang hanyut terbuai dengan kenikmatan, tak terhitung orang yang termakan fitnah oleh sanjungan, dan tak terhitung pula orang yang tertipu dengan selubung keaiban.``
Keterangan :
a. Manusia rugi lahir batin jika tidak mensyukuri nikmat , bahkan nikmat yang telah ada bisa lenyap karena tidak mensyukuri nikmat yang baru. 
b. Kadang-kadang orang memuji untuk menjatuhkan.
c. Jangan terlena dan jangan mempunyai anggapan, bahwa jika ia berbuat dosa Allah tidak menurunkan malapetaka didunia. Sadarilah bahwa pahala dan dosa diberikan Allah di akhirat. 

7. Hak hak Orang Yang Berakal - Perkataan Nabi Daud as. dalam KItab Zabur

حَقٌ عَلَى الْعَاقِلِ اَنْ لَا يَشْتَغِلَ اِلَّا بِثَلَاثٍ : تَزَوُّدٌ لِمَعَادٍ وَمُؤْنَةٌ لِمَعَاشٍ وَطَلَبِ لَذَّةٍ بِحَلَالٍ.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Daud as. ``Telah diwahyukan di kitab zabur sebagai berikut :
Hak bagi orang yang berakal itu adalah jangan terlalu disibukan, kecuali tiga perkara, yaitu mengumpulkan bekal untuk di akhirat, berusaha (bekerja) untuk biaya hidup (di dunia), dan mencari kenikmatan dengan cara yang halal. ``
Keterangan :
Berusaha secara halal hukumnya wajib. 
وَلَا تَكُوْنُوْا كَلَّا عَلَى النَّاسِ .
Janganlah kamu menjadi beban orang lain (jadi pengemis)

8. Tiga Perkara Yang Menentukan - Hadits 1

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ وَثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَثَلَاثٌ دَرَجَاتٌ وَثَلَاثٌ كَفَّارَتٌ , اَمَّا الْمُنْجِيَاتُ : فَحَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِى السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَالْقَصْدُ فِى الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِى الرِّضَاءِ وَالْغَضَبِك . وَاَمَّا الْمُهْلِكَاتُ : فَشُحٌّ شَدِيْدٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَاِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ . وَاَمَّا الدَّرَجَاتُ : فَاِفْشَاءُ السَّلَامِ وَاِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ . وَاَمَّاالْكَفَّارَتُ : فَاِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِى السَّبَرَاتِ وَنَقْلُ الْاَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاةِ وَاْنتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ .


Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Shakhr dan Abu Hurairah ra. mereka berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda sebagai berikut :
`` Tiga perkara dapat menyebabkan selamat, tiga perkara dapat menyebabkan rusak, tiga perkara dapat mengangkat derajat dan tiga perkara sebagai penebus dosa. Adapun tiga perkara yang menentukan keselamatan (seseorang) itu adalah : Takwa kepada Allah SWT, baik dalam keadaan sepi maupun ramai, penuh kesederhanaan, baik ketika dalam keadaan fakir maupun berkecukupan, dan bersikap adil, baik pada waktu senang maupun ketika sedang marah. Dan tiga perkara yang dapat menyebabkan rusak itu adalah : Bakhil yang berlebihan, memperturutkan hawa nafsu dan membanggakan diri sendiri. Adapun tiga perkara yang dapat mengangkat derajat (seseorang) itu adalah : Membiasakan salam, memberi makan orang yang butuh makan, dan mengerjakan sholat malam ketika orang orang sedang tidur. Dan adapun tiga perkara sebagai penebus dosa itu adalah : Menyempurnakan wudhu ketika cuaca sangat dingin, berangkat mengerjakan sholat berjamaah, dan (tetap duduk) menanti sholat berikutnya setelah mengerjakan sholat. ``
Keterangan :
Menunggu salat sesudah salat ialah menunggu untuk melaksanakan salat fardhu berjamaah sesudah melakukan salat sunah atau melaksanakan kebaikan.

9. Hidup, Perpisahan, dan Imbalan - Perkataan Malaikat Jibril as.

يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَاِنَّكَ مَيِّتٌ وَاَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَاِنَّكَ مُفَارِقَهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَاِنَّكَ مَجْزِيٌ بِهِ.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut ini :
``Wahai Muhammad, hiduplah semaumu, karna sesungguhnya engkau akan mati, dan cintailah orang yang kamu hendaki, karna sesungguhnya engkaupun akan berpisah dengannya, dan kerjakanlah apa apa yang kamu inginkan, karna sesungguhnya engkau pasti akan mendapatkan imbalannya. ``
Keterangan :
Amal baik dibalas dengan kebaikan (pahala). Amal jelek dibalas dengan kejelekan (siksa). 

10. Orang orang Yang Mendapat Pertolongan Allah Pada Hari Kiamat - Hadits 1

ثَلَاثَةُ نَفَرٍ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلَّاظِلُّهُ : الْمُتَوَضِّئُ فِى الْمَكَارِهِ وَالْمَاشِى إِلَى الَمَسْجِدِ فِى الظُّلَمِ وَمُطْعِمُ الْجَائِعِ .

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Sebagai berikut :
``Tiga golongan berada dalam naungan Allah dibawah `Arsy Nya pada hari tidak ada naungan, kecuali naunganNya, yaitu orang yang tetap berwudhu meskipun dalam keadaan dingin, orang yang pergi ke masjid meskipun dalam keadaan gelap, dan memberi makan kepada orang yang kelaparan. ``
Keterangan :
Kerjakanlah salat dan sempurnakanlah wudhu walaupun banyak halangan dan rintangan, serta salatlah dengan berjamaah sekalipun dalam keadaan gelap, dan tolonglah orang yang lemah. 

11. Tiga Cara Mencapai Cinta Allah SWT. - Hadits 1

لِاَيِّ شَىْءٍ اِتَّخَذَكَ اللهُ خَلِيْلًا ؟ قَالَ : بِثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ : اِخْتَرْتُ اَمْرَاللهِ تَعَالَى عَلَى اَمْرِ غَيْرِهِ وَمَا اهْتَمَمْتُ بِمَا تَكَفَّلَ اللهُ لِى وَمَا تَعَشَّيْتُ وَمَا تَغَدَّيْتُ إِلَّا مَعَ الْضَّيْفِ .

.
Dalam sebuah riwayat diterangkan, bahwa Nabi Ibrahim as. Pernah ditanya sebagai berikut :
``Apakah gerangan yang menyebabkan engkau dijadikan kekasih Allah ? `` Beliau menjawab, `` Yang menyebabkan demikian ada tiga perkara, yaitu : saya lebih mengutamakan kepentingan Allah daripada yang lainnya, saya tidak pernah (khawatir) terhadap apa yang telah ditentukan oleh Allah bagiku, dan saya tidak pernah makan malam atau siang, kecuali ketika bersama tamu.``
Keterangan :
Menurut satu riwayat apabila hendak makan Nabi Ibrahim suka mencari teman buat makan berjamaah sejauh 1 mil atau 2 mil. 

12. Cara Praktis Menghilangkan Pikiran Stres - Perkataan Hukama

ثَلَاثَةُ اَشْيَاءَ تُفَرِّجُ الْغُصَصَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَلِقَاءُ اَوْلِيَائِهِ وَكَلاَمُ الْحُكَمَاءِ .

Sebagaimana yang diriwayatkan dari sebagian hukama berikut ini :
`` Tiga perkara yang dapat menghilangkan kegundahan (pikiran stres) yaitu dzikir (mengingat) kepada Allah SWT. Silaturrahim kepada para wali Allah dan memperhatikan perkataan hukama. ``
Keterangan :
Macam-macam zikir :
a. Membaca tasbih = سُبْحَانَ اللهِ
b. Membaca tahmidاَلْحَمْدُ لِلَّهِ = 
c. Membaca tahlilلَآ اِلَهَ اِلَّا اللهُ = 
d. Membaca takbirاَللهُ اَكْبَرُ = 
e. Dan membacaلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ =  

Berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan membaca tahlil, hauqalah, atau dengan bermunajat kepadaNya. 


- Doa

يَا مُغِيْثَ كُلِّ مَهْلُوْفٍ نَادَاهُ  وَيَا مُجِيْبَ كُلِّ مُضْطَرٍّدَعَاهُ وَيَا حَلِيْمًا عَلَى كُلِّ ذِىْ هَفْوَةٍ عَصَاهُ وَيَا قَائِمًا بِاْلكِفَايَةِ لِمَنْ آثَرَهُ عَلَى دُنْيَاهُ اَسْئَلُكَ الْوُصُوْلَ إِلَى مَالَا اَصِلُ اِلَيْهِ اِلَّا بِمَعُوْنَتِكَ وَدَفْعَ مَالَا اَطِيْقُ دَفْعَهُ إِلَّا بِقُوَّتِكَ وَاَسْئَلُكَ خَيْرَةً فِيْهَا عَافِيَةٌ وَعَافِيَةً فِيْهَا خَيْرَةٌ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Bermunajat kepada Allah dapat dilakukan misalnya dengan cara membaca doa sebagai berikut :
``Wahai Dzat Yang Maha Penolong setiap orang merana, yang menyeru kepadaNya. Wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa orang yang sengsara. Wahai Dzat Yang Maha Bijaksana terhadap setiap orang yang bersalah dan durhaka. Wahai Dzat Yang mencukupi setiap orang yang mementingkanMu daripada dunianya. Aku memohon kepadaMu untuk dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat aku gapai tanpa pertolonganMu, dapat menolak sesuatu yang tidak dapat aku menolaknya melainkan dengan kekuatanMu dan aku memohon kepadaMu kebaikan yang penuh sejahteradan kesejahteraaan yang penuh denga kebaikan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di atas semua yang berbelas kasih. ``
Keterangan :
 صِحَّةٌ= sehat jasmani
 عَافِيَةٌ= sehat rohani
Yang dimaksud dengan wali-wali di sini adalah para ulama dan orang-orang saleh. Sedangkan yang dimaksud dengan ucapan para ahli hikmah ialah penjelasan atau keterangan para ulama yang menunjukkan kebaikan dunia dan 
akhirat 

Selanjutnya klik disini

Sabtu, 25 Juli 2020

Durotunashihin bag4

وفي الخبر » إذا هل هلال رمضان صاح العرش والکرسی وامللائكة ومادونهم يقولون طوبي لأمة محمد عليه الصلاة والسلام بما عند الله تعالي لهم من الكرامة واستغفرت لهم الشمس والقمر والكواكب والطيور في الهواء والسمك في الماء وكل ذي روح على وجه الأرض في الليل والنهار إلا الشياطين عليهم اللعنة فاذا أصبحوا لايترك الله تعالى أحدا منهم إلا يغفر له. ويقول الله تعالى للملائكة : اجعلوا  صلاتكم وتسبيحكم فى رمضان لأمة محد عليه الصلاة والسلام.

Dalam hadits: Apabila telah masuk tanggal bulan Romadon maka bergemuruhlah Arasy, kursi, para malaikat dan yang sebawah mereka, mereka berkata: kebahagian bagi umat muhammad SAW dengan apa yang ada disisi Allah bagi mereka (umat muhammad) yaitu dari kemuliaan. matahari, bulan, bintang-bintang, burung-burung diudara, ikan diair, semua yang bernyawa dimuka bumi pada malam dan siang memintakan ampunan untuk mereka, kecuali syetan alaihilaknat yang tidak memintakan ampunan. apabila telah masuk waktu subuh Allah tidak meninggalkan seorang pun dari mereka kecuali mengampuninya, Allah berkata kepada para malaikat : jadikanlah solatmu (memintakan ampunan) tasbihmu (bacaan subhanallh) untuk umat muhammad SAW.

حكي أن رجلا اسمه محمد كان لا يصلى قط فاذا دخل رمضان يزين نفسه بالثياب والطيب ويصلى ويقضى مافاته . قيل له لم تفعل ذلك ؟ قال هذا شهر التوبة والرحمة والبركة عسى الله
أن يتجاوز عنى بفضله ، فمات فرؤى في النام قيل له مافعل الله بك ؟ قال غفر لي ربی بحرمة تعظیمی رمضان. 

Diceritakan, bahwa seorang lelaki bernama Muhammad, sama sekali tak pernah melakukan shalat. Tetapi, apabila masuk bulan Ramadhan, maka dia menghiasi dirinya dengan pakaian dan minyak wangi, lalu melunasi shalat yang ia lewatkan. Dia ditanya: "Kenapakah kamu melakukan seperti itu?" Maka jawabnya: "Ini adalah bulan taubat, rahmat dan berkat. Semoga Allah mengampuni aku dengan karunia-Nya." Orang itu meninggal dunia, lalu seseorang bermimpi melihatnya. Dia ditanya: "Apakah yang telah Allah lakukan terhadapmu?" Dia menjawab: "Tuhanku telah mengampuni aku, karena terhormatnya pengagunganku terhadap Ramadhan."


وعن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه عن النبى عليه الصلاة والسلام أنه قال » إذا استيقظ أحدكم من نومه في شهر رمضان وتحرك في فراشه وتقلب من جانب إلى حانب يقول له ملك قم بارك الله فيك ورحمك الله ، فاذا قام بنية الصلاة يدعو له الفراش ويقول اللهم أعطه الفرش المرفوعة ، وإذا لبس ثوبه يدعو له الثوب ويقول اللهم أعطه من حلل الجنة ، وإذا لبس نعليه تدعو له نعلاه وتقولان اللهم ثبت قدميه على الصراط ، وإذا تناول الإناء يدعو له الإناء ويقول اللهم أعطه من أكواب الجنة ، وإذا توضا يدعو له الماء ويقول: اللهم طهره من الذنوب والخطايا، وذا قام إلى الصلاة يقوله البيت ويقول: اللهم وسع قبره ونور خفرته وزد رحمته، وينظر الله تعالي اليه بالرحمة، ويقول عند الدعاء: يا عبدي منك الدعاء ومنا الإجابة، ومنك السؤال ومنا النوال، ومنك الاستغفار ومنا الغفران ( زبدة الواعظين )

Dan diriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab ra, dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda: "Apabila seseorang dari kamu sekalian bangun dari tidurnya pada bulan Ramadhan, lalu bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain, maka berkatalah seorang malaikat kepadanya: "Bangkitlah, semoga Allah memberkati kamu dan semoga Allah mengasihi kamu." Apabila orang itu bangkat dengan berniat melakukan shalat, maka tempat tidurnya itu mendoakan dia, seraya mengucapkan: "Ya Allah, berilah dia kasur-kasur yang tinggi." Dan apabila dia mengenakan pakaiannya, maka pakaiannya mendoakannya dia seraya mengucapkan: "Ya Allah, berilah dia pakaian-pakaian surga." Dan apabila dia mengenakan kedua sandalnya, maka sandalnya itu mendoakan dia, seraya mengucapkan: "Ya Allah, mantapkanlah kedua kakinya pada Shirath." Dan apabila dia mengambil bejana, maka bejana itu mendoakan dia, seraya meng-ucapkan: "Ya Allah, berilah dia piala-piala surga." Dan apabila dia berwudhu', maka air mendoakan dia, seraya mengucapkan: "Ya Allah, bersihkanlah dia dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan." Dan apabila dia berdiri untuk memulai shalatnya, maka rumahnya mendoakan dia, seraya mengucapkan: "Ya Allah, tambahlah rahmat untuknya." Sedang Allah Ta'ala memandang kepadanya dengan penuh rahmat, lalu berfirman ketika orang itu berdoa: "Hai hambaku, darimu doa, sedang dari Kami perkenan. Darimu permintaan, sedang dari Kami pemberian. Dan darimu permohonan ampun, sedang dari Kami ampunan." (Zubdatul Wa'izhin)

وفي الخبر ان رمضان يجى يوم القيامة في أحسن صورة فيسجد بين يدي الله تعالی فيقول الله تعالى: يا رمضان، سل حاجتك فخذ بيد من عرف حقاك، فيدور في العرصات فيأخد بيد من عرف حقه، فيقف بين يدي الله تعالی فيقول الله تعالی : یا رمضان ماذا تريد؟ فيقول: أريد أن تتوجه بتاج الوقار، فيوجه الله تعالى بألف تاج، ثم يشفع في سبعين ألفا من أهل الكبائر ، ثم يزوج بألف حوراء، مع كل حوراء سبعون ألف وصيفة. ثم يركبه على البراق، فيقول الله تعالى: ماذا تريد يا رمضان؟ فيقول: أنزله بجوار نبيك،
، فنزله الله الفردوس، فقول الله: يا رمضان ماذا تريد؟ فيقول: قضت حاجتی یا رب اين كرامتك؛ فيعطي مائة مدينة من ياقوتة حمراء وزبرة خضراء، وفي كل مدينة ألف قصر، ( زهرة الرياض )

Menurut sebuah klhbuar Bahwa Ramadan pada  hari kiamat datang dalam rupa yang paling indah. Maka bersujudlah ia di hadapan Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala berfirman: "Hai Ramadhan, mintalah apa hajatmu, lalu ambillah tangan orang yang mengetahui kewajiban terhadapmu. "Maka Ramadan itu pun berputar-putar di pelataan kiamat, Ialu mengambil tangan orang yang mengetahui kewajiban terhadapnya. Maka berdirilah ia di hadapan Allah Ta'ala. Kemudian Allah berfirman: "Hai Ramadhan, apa yang engkau inginkan?" Jawab Ramadhan: "Hamba ingin agar Engkau memahkotai orang ini dengan mahkota kebesaran. "Maka Allah Ta'ala pun memahkota orang itu dengan seribu mahkota, kemudian orang itu memberi syafaat untuk tujuh puluh ribu orang yang telah melakukan dosa-dosa besar. Kemudian dijodohkan dengan seribu bidadari, yang setiap bidadari disertai tujuh puluh ribu dayang-dayang, dan romadon pun menaikan orang itu ke punggung buraq Selanjutnya , Allah Ta'ala berfirman: "Apa yang engkau inginkan, hai Ramadhan?" Maka Ramadhan menjawab: "Tempatkanlah dia di sisi Nabi-Mu.." Oleh Allah, orang itu pun ditempatkan dalam surga Firdaus. Lalu Allah berfirman lagi: "Hai Ramadhan, apa yang engkau inginkan lagi?" Jawabnya: "Engkau telah memenuhi keperluanku ya Rabbi. Tetapi manakah kemuliaan-Mu?" Maka Allah memberikan seratus kota, terbuat dari permata yakut merah dan zabarjad hijau, sedang pada setiap kota terdapat seribu istana

Zuhrotur riyad

وعن ابن مسعود رضی الله تعالی عنه عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال: إن أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم على صلاة.

Bersumber dari Ibnu Mas'ud ra, dari Nabi SAW, bahawa beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling Utama di sisiku pada hari kiamat, ialah orang yang paling banyak membaca shalawat untukku."


وعن زيد بن رفيع عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال: من صلى على مائة في كل يوم جمعة غفر الله له ولو كانت ذنوبه مثل زبد البحر (زبدة الواعظين )

Bersumber dari Zaid bin Rafi', dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa bersholawat untuk ku seratus kali pada hari Jum'at, maka Allah mengampuninya, sekalipun dosa-dosanya bagaikan buih di laut."(Zubdatul Wa'idhin)


خ: أبو هريرة: أى روى البخاري عنه:( من قام رمضان،) اى احيا ليالياه بالعبادة غير ليلة القدر 
(تقديرا أو معناه أدى التراويح فيه ( إيمانا 
اى تصديقا بثوابه (واحتسابا) أى إخلاصا نصبهما على الحالية او انهما مفعولان له ( غفر له ما تقدم من ذنبه) ( مشارق )

Imam bukhori meriwayatkan hadits dari Abu hurairoh: barangsiapa menegakkan solat romadhon (yakni menghidupkan malam-malam romadon dengan beribadah selain malam lailatul qadar begitulah kiranya, atau maknanya menunaikan solat tarawih dibulan romadon) karena iman (yakni membenarkan akan pahala solat romadon) dan karena Allah (yakni ikhlas, keadaan nasob keduanya "imanan wa ihtisaban" sebagai haal, atau sesungguhnya keduanya itu jadi maf'ul lah) maka di ampunilah dosanya yang telah lalu. (Msyariq)

Dan bersumber dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda:

اذا كان أول يوم من رمضان هبت ريح من تحت العرش يقال لها المثيرة وتتجرك أوراق أشجار الجنة، فسمع من ذلك صدى لم  يسمع السامعون أحسن منه، فنظر الحور العين إلى ذلك فيقلن: اللهم اجعل لنا في هذا الشهر من عبادك أزواجا، فما من عبد صام رمضان إلا زوجه الله تعالى زوجة من تلك الحور في الخيمة كما قال الله تعالى في كلامه القديم (حور مقصورات في الخيام) وعلى كل حوراء منهن سبعون حلة ليست على لون واحد، ولكل امرأة سرير من ياقوتة حمراء منسوج بالدر، وعلى كل سرير سبعون فراشا وسبعون مائده من ألوان الطعام هذا لمن صام رمضان سوى ما عمل من الحسنات .

"Apabila tiba hari pertama bulan Ramadhan, maka bertiuplah angin dari bawah 'Arsy yang disebut angin Mutsirah, dan bergerak-geraklah daun-daun pohon dalam surga, sehingga terdengarlah oleh karena itu suatu suara, yang orang tidak pernah mendengar suara yang lebih indah dari itu. Maka para bidadari pun memperhatikan itu, lalu berkata: "Ya Allah, jadikanlah untuk kami pada bulan ini suami-saumi di antara hamba-hamba-Mu." Maka tidak seorang pun hamba Allah yang berpuasa pada bulan Ramadan, kecuali dijodohkan oleh Allah Ta'ala dengan seorang istri dari bidadari-bidadari itu dalam rumah, sebagaimana Allah Ta'ala mengatakan dalam firman-Nya yang dalulu: (Bidadari-bidadari jelita yang putih bersih dipingit dalam rumah). Sedang setiap bidadari mengenakan tujuh puluh pakaian yang warnanya tidak sama. Dan untuk setiap wanita ada sebuah tahta terbuat dari permata yaqut merah bertahtakan mutiara, dan pada setiap tahta, terdapat tujuh puluh kasur dan tujuh puluh hidangan dari berbagai macam-macam makanan. Ini semua untuk orang yang berpuasa pada bulan Ramadan, selain (pahala) kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya. Maka seyogyanyalah bagi seorang mukmin, menghormati bulan Ramadhan, dan memelihara diri dari kemungkaran-kemungkaran, dan sibuk dengan ketaatan-ketaatan, yang berupa shalat, tasbih, dzikir dan membaca al-Qur'an.


قال الله تعالى لموسى عليه الصلاة والسلام 

Allah Ta'ala pernah berfirman kepada Musa as..


 إني أعطيت أمة محمد نورين كيلا يضرهم ظلمتان، فقال موسى ما النوران یا رب؟ فقال الله تعالى: نور رمضان ونور القرآن. فقال موسى: وما الظلمتان یا رب؟ قال الله تعالى: ظلمة القبر وظلمة يوم القيامة 

( ذرة الواعظين)

"Sesungguhnya Aku memberikan kepada umat Muhammad dua cahaya, supaya mereka tidak terkena bahaya dari dua kegelapan." Musa bertanya: "Apakah kedua cahaya itu, ya Rabbi?" Allah Ta'ala menjawab: "Cahaya Ramadhan dan cahaya al-Qur'an." Musa bertanya lagi: "Dan apakah kedua kegelapan itu, ya Rabbi?" Allah Ta'ala menjawab: "Kegelapan kubur dan kegelapan hari kiamat."

(Durratul Wa'izhin)

Dan bersumber dari Anas bin Malik r.a., dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda:

من حضر مجلس العلم في رمضان كتب الله تعالى له بكل قدم عبادة سنة ويكون معي تحت العرش، ومن داوم على الجماعة في
رمضان أعطاه الله تعالى بكل ركعة مدينة تملأ من نعم الله تعالی،

ومن بر والديه في رمضان ينال الله نظر الله تعالى بالرحمة وانا كفيل في الجنة، وما من امرأة تطلب رضا زوجها في رمضان الا ولها ثواب مريم وأسية، ومن قضى حاجة أخيه المسلم في رمضان قضى الله تعالی له ألف حاجة يوم القيامة .

"Barangsiapa menghadiri majlis ilmu pada bulan Ramadhan, maka Allah Ta'ala menetapkan baginya untuk setiap langkah, ibadah satu tahun, sedang ia akan ada bersamaku di bawah 'Arsy. Dan barangsiapa senantiasa berjama'ah pada bulan Ramadan, maka Allah Ta'ala memberinya untuk setiap raka'at, sebuah kota yang penuh dengan nikmat-nikmat Allah Ta'ala. Dan barangsiapa berbuat baik kepada ibu bapaknya pada bulan Ramadan, maka ia mendapat perhatian Allah Ta'ala dengan penuh nahmat, sedang aku menjamin dia masuk surga Dan tidak ada seorang wanita pun yeng memohon rido dari suaminya pada bulan Ramadon, kecuali dia mendapatkan pahala Maryam dan 'Asiya dan barangsiapa memenuhi hajat saudaranya yang muslim pada bulan Ramadhan, maka Allah Ta'ala memenuhi seribu hajatnya pada hari kiamat."

Bersumber dari Abu Hurairah ra, bahwa dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

من أسرج في مسجد من مساجد الله تعالى في رمضان كان له نور  فى قبره وكتب له ثواب المصلين فى ذلك المسجد، وصلت عليه الملائكة واستغفر له حملة العرش ما دام في ذلك المسجد. (ذخيرة العابدين )

Barangsiapa memasang lampu pada salah satu masjid Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan, maka dia akan memperoleh caaya dalam kuburnya, dan ditetapkan baginya pahala orang-orang yang melakukam shalat di dalam masjid itu, didoakan oleh para malaikat, dan dimohonkan ampunan oleh para malaikat Pemikul 'Arsy selagi lampu itu masih berada dalam masjid.

(Dzakhiratul 'Abidin)

Diriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda 

إذا كان أول ليلة من رمضان صدقت الشياطين ومردة الجن، وغلقت أبواب النيران ولم يفتح باب منها، وفتحت أبواب الجنان ولم يغلق
باب منها، ويقول الله تعالى في كل ليلة من رمضان تلاث مرات: هل من سائل فأعطيه سؤاله؟ هل من تائب فأتوب عليه؟ هل من
مستغفر فأغفر له؟ وعتق الله تعالى بكل يوم من رمضان ألف ألف

 هل من تائب فأتوب عليه؟ هل من مستغفر فأغفر له؟ وعتق الله تعالى بكل يوم من رمضان ألف ألف عتيق من النار قد استوجب العذاب، واذا كان يوم الجمعة عتق في كل ساعة ألف ألف عتيق من النار، فاذا كان آخر يوم من رمضان يعتق بعدد من أعتق من اول الشهر ( زبدة الواعظين )

"Apabila tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka setan-setan dan jin- jin Marid diikat, sedang pintu-pintu nerakan ditutup, tidak ada satu pintu pun di antaranya yang dibuka. Dan pintu-pintu surga pun dibukas, tidak ada satu pintu pun di antaranya yang ditutup. Sedang Allah Ta'ala pada malam hari setiap bulan Ramadhan, berfirman tiga kali: "Apakah ada orang yang meminta, maka akan Aku beri permintaannya? Apakah ada orang yang bertaubat, maka akan Aku terima taubatnya? Apakah ada orang yang memohon ampunan, maka aku ampuni dia?" dan Allah memerdekakan pada setiap hari dari bulan Ramadhan sejuta tahanan dari nerakan, yang selarusnya diazab. Dan apabila tiba hari Jum'at, Allah membebaskan setiap jam sejuta hukuman dari neraka. Dan apabila tiba hari terakhiir dari bulan Ramadan, maka Allah membebaskan sebanyak orang yang ditebesiun sejak awal bulan

 (Zubdatul Wa'izhin)


صوم يوم الشك على سبعة اوجه : ثلاثة منها جائزة مع الكراهة. وثلاثة بغير كراهة، 

Berpuasa pada hari yang meragukan ada tujuh macam: tiga di antaranya boleh tetapi makruh, dan yang tiga lagi boleh tanpa makruh, sedang yang satu sama sekali tidak boleh. Adapun tiga macam puasa yang boleh tetapi makruh: Pertama, bila seorang yang berpuasa pada hari yang meragukan dengan niat puasa Ramadhan. Kedua, bila dengan puasanya itu, berniat menunaikan kewajiban yang lain. Dan ketiga, bila dia berpuasa pada hari itu dengan niat ragu-ragu, yakni bila hari itu termasuk bulan Ramadhan, maka dia berniat puasa Ramadhan. Sedang bila termasuk bulan Sya'ban, maka dia berpuasa Sya'ban. Semua ini boleh. Adapun tiga macam yang boleh tanpa makruh, adalah apabila orang itu berpuasa pada hari yang meragukan dengan niat puasa Tathawwu (sunnah), atau dengan niat puasa Sya'ban, atau dengan niat puasa mutlak, Adapun satu lagi yang sama sekali tidak boleh ialah, apabila dia berpuasa pada hari yang meragukan dengan syarat, bila hari itu termasuk bulan Ramadhan, maka saya berpuasa sedang kalau tidak, maka tidak berpuasa. Berpuasa seperti ini sama sekali tidak boleh. (Qadhikhan)


المجلس الثانى فى فضيلة الصوم

Majlis kedua tentang keutamaan puasa



بسم الله الرحمن الرحيم

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ 

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.  (QS. Al-Baqarah: 183-184) Tafsir :

(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu), yakni para nabi dan umat-umat lain sejak Adam as. Ayat ini merupakan penguat hukum, penggembira supaya melakukan (puasa) dan penyenang hati. Sedang puasa menurut bahasa, ialah menahan diri dari apa yang dirindukan nafsu. Adapun menurut Syara', ialah menahan diri dari tiga hal yang membatalkan puasa sepanjang hari karena ketiga-tiganya adalah yang paling disukai oleh nafsu. ( agar kamu bertakwa,/ Agar kamu takut) terhadap kemaksiatan-kemaksiatan Karera puasa itu mematahkan syahwat yang merupakan pangkal kemaksiatan, sebagaimana disabdakan Nabi Saw: "Hai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu telah mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu memelihara kemaluan  Dan barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu mengendurkan (syahwat)-nya." atau menyusutkannya, karena dia melakukan pokok dan pangkal penyusutan itu.(Dalam hari-hari yang terbilang) tertentu waktunya dengan bilangan yang diketahui. Atau, dalam hari-hari yang sedikit karena harta yang sedikit pun bisa dihitung sedang harta yang banyak ditimbun begitu saja. Adapun di-nashab-kannya "Ayyaman ma'dudat” bukanlah oleh Ash-Shiyam, karena adanya fiashal/ pemisah antara keduanya, tetapi oleh kata-kata mudhmar, yaitu: Shuumuu, karena kata-kata ini ditunjukkan oleh Ash-Shiyam, sedang yang dimaksud hari-hari yang terbilang ialah selama bulan Ramadhan Atau, hari-hari yang wajib dipuasai sebelum adanya kewajiban puasa Ramadhan, yang dengan adanya puasa Ramadhan lalu dihapuskan, yakni puasa 'Asyura atau tiga hari pada setiap bulan. Atau "Ayyaaman ma'duudaat" itu di-nashob-kan sebagai zharaf dari Kamaa kutiba, atau sebagai maful tsani dari Kutiba 'alaikum, yang berarti: luas. Tapi ada juga yang mengatakan, artinya: Puasamu adalah seperti puasa mereka mengenai bilangan hari-harinya. Karena ada riwayat mengatakan, bahwa puasa Ramadhan itu telah diwajibkan pula atas umat Nasrani. Lalu bulan Ramadhan terjadi pada musim yang sangat dingin atau panas, maka mereka alihkan ke musim semi dan mereka tambah dua puluh hari sebagai penebus pengubahan itu. Dan ada pula yang mengatakan, mereka tambahi itu karena mereka terkena wabah. (Maka jika di antara kamu ada yang sakit) dengan suatu penyakit yang berbahaya, dan semakin berat bila berpuasa, (atau dalam perjalanan), atau sedang melakukan suatu perjalanan kata-kata ini memuat isyarat bahwa orang yang memulai perjalanan tengah hari, ia tidak boleh berbuka (maka wajiblah atasnya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggal-kannya itu pada hari-hari yang lain). Maksudnya, dia wajib berpuasa sebanyak hari-hari sakitnya atau perjalanannya, pada hari-hari yang lain, jika dia berbuka.

 (Qadhi Baidhawi)

Bersumber dari Abdurrahman bin 'Auf, dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda:


جاءني جبريل وقال: يا محمد لا يصلي عليك أحد الا صلى عليه سبعون ألف ملك، ومن صلت عليه الملائكة كان من أهل الجنة ( زبدة )

“Jibril telah datang kepadaku lalu berkata, 'Hai Muhammad, tidak seorang pun yang bershalawat kepadamu, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya. Dan barangsiapa didoakan para malaikat, maka dia tergolong penghuni surga'."  (Zubdah)

Dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda, menceritakan firman Tuhannya Yang Maha Tinggi:

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

"Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, selain puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasannya."

Karena puasa itu rahasia, tidak ada suatu perbuatan pun ketika itu yang disaksikan orang lain halnya pada ketaatan-ketaatan lainnya. Dan juga, karena puasa itu rahasia yang tidak diketahui seorang pun selain Allah Ta'ala. Maka Allah yang memastikan balasannya. Dan oleh karenanya, diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda:


اذا كان يوم القيامة يجيء قوم لهم أجنحة كأجنحة الطير فيطيرون بها على حيطان الجنة، فيقول لهم خازن الجنة: من أنتم؟ فيقولون:

Selanjutnya klik disini

Rabu, 22 Juli 2020

Terjemah tanqih bag 2

BAB KE 6 KEUTAMAAN  WUDLU

الباب السادس: في فضيلة الوضوء

قال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأ للصَّلاةِ فأحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ فإنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أمُّهُ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa berwudlu untuk sholat dan membagus kan wudlunya, kemudian mendirikan sholat, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya”.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاةِ وَصَلَّى كَفَّرَ الله ذُنُوبَهُ ما بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاةِ الأُخْرَى التي تليها

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa berwudlu untuk sholat kemudian dia mengerjakan sholat, maka Allah menghapus dosa-dosanya antara sholat tersebut dan sholat lain yang mengikutinya”.

وقال صلى الله عليه وسلم: مَنْ نامَ عَلَى وُضُوءٍ فَأَدْرَكَهُ الموتُ في تلكَ الليلةِ فَهُوَ عِنْدَ الله شَهِيدٌ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa tidur dalam keadaan wudlu, lalu meninggal pada malam itu, maka dia disisi Allah adalah syahid”.

وقال صلى الله عليه وسلم: النَّائَمُ الطَّاهِرُ كَالصائِمِ القَائِمِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Orang tidur yang suci itu seperti orang puasa yang beribadah malam”.

وقال صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa wudlu dalam keadaan suci maka ditulis untuknya sepuluh kebaikan”.

وقال صلى الله عليه وسلم: لاَ صَلاةَ لِمَنْ لا وُضُوءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ الله عَلَيْهِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada sholat bagi orang tidak punya wudlu dan tidak ada wudlu (yang sempurna) bagi orang yang tidak menyebut Asma Allah (baca bismillah) atas wudlu tersebut.”

وقال صلى الله عليه وسلم: الوُضُوءُ شَطْرُ الإيمان

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Wudlu itu separuh iman”.

وقال صلى الله عليه وسلم: صِبْغَةُ الوُضُوْءِ مرَّةٌ، فَمَنْ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ كانَ لَهُ كِفْلان مِنَ الأجْرِ، وَمَنْ تَوَضَّأَ ثلاثا فَهُوَ وُضُوءُ الأنْبِيَاء مِنْ قَبْلِي

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Pokoknya wudlu itu sekali, barang siapa berwudlu dua kali maka mendapat pahala dua kali lipat. Siapa berwudlu tiga kali maka itulah wudlu para nabi sebelumku”.

وقال صلى الله عليه وسلم: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أحَدِكُمْ إذا أحْدَثَ حَتَّى يَتَوضَّأَ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Allah tidak akan menerima sholat salah satu dari kalian ketika berhadats sehingga dia berwudlu”.

وقَالَ صلى الله عليه وسلم: الوُضُوءُ عَلَى الوُضُوءِ نُورٌ عَلى نُورٍ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Wudlu atas wudlu itu cahaya diatas cahaya”.

الباب السابع : في فضيلة السواك

قال النبي صلى الله عليه وسلم:  رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Dua roka`at dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh roka`at tanpa dengan siwak”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  تَسَوَّكُوا فإنَّ السِّوَاك مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Bersiwaklah kalian, karena sesungguhnya siwak itu mensucikan mulut dan diridloi oleh Allah”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  سِتَّةٌ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ الحَيَاءُ  والحِلْمُ والحِجَامَةُ والسِّواكُ والتَّعَطُّرُ وَكَثْرَةُ الأَزْوَاجِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Enam hal merupakan sunnah para Rasul: malu, bijaksana, bekam, siwak, memakai minyak wangi dan banyak istri”.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم:  ثَلاَثَةٌ واجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ والسِّواكُ وَمَسُّ الطِّيبِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal wajib atas setiap muslim (yakni mengerjakannya sunah muakad terhadap setiap muslim): mandi hari jum`at, siwak dan menyentuh wewangian”.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم:  طَيِّبُوا أفْوَاهَكُمْ بالسِّواكِ فإنَّهُ طَرِيقُ القُرْآنِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Harumkanlah mulut kalian dengan siwak karena sesungguhnya mulut adalah jalannya Al-Qur`an.”

وقال صلى الله عليه وسلم:  رَحِمَ الله المُتَخَلِّلينَ مِنْ أمَّتِي في الوُضُوءِ وَالطَّعامِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda :  “Semoga Allah merahmati umatku yang menyela-nyelai gigi dalam wudlu dan (sisa) makanan”.(dimulut)

وقال صلى الله عليه وسلم:  لاَ تَتَخَلَّلُوا بِالآسِ والرَّيحَانِ والقَصَبِ فَإنَّهُ يُورِثُ الإكلَةَ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kalian menyela-nyela gigi dengan kayu as , tumbuhan yang wangi dan bambu karena bisa menyebabkab gigi rontok.”

وقال صلى الله عليه وسلم:  صَلاَةٌ بِسِواكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ صَلاَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Satu sholat dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh sholat tanpa siwak”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصيني بالسِّواكِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ يَدْرَدْنَّ أسْنَانِي

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : Jibril selalu mewasiatiku bersiwak sehingga aku khawatir gigi-gigiku rontok”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  أمرت بالسِّوَاكِ حَتَّى خِفْتُ عَلَى أسْنَانِي

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda :  “Aku diperintahkan bersiwak sehingga aku takut gigi-gigiku rontok”.

الباب الثامن : في فضيلة الأذان

قال صلى الله عليه وسلم:  مَنْ أَذَّنَ للصَّلاَةِ سَبْعَ سِنينَ مُحْتَسِبا كَتَبَ الله لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّار

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang adzan selama tujuh tahun ikhlas karena Allah, maka Allah menetapkannya bebas dari neraka”.

وقال صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَذَّنَ ثنْتي عَشَرَة سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa adzan selama dua belas tahun maka wajb baginya surga”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  مَنْ أَذَّنَ خَمْسَ صَلَواتٍ إيمَانا واحْتِسَابا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ من ذنبه

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang adzan lima shalat dengan iman dan ikhlas karena Allah, maka diampuni dosa-dosa yang sudah terlewat”.

وقال صلى الله عليه وسلم:  ثَلاَثَةٌ يَعْصِمُهُمُ الله تَعَالَى مِنْ  عَذَابِ القِبْرِ الشَّهِيدُ والمُؤَذِّنُ والمُتَوفَّى يَوْم الجُمُعَةِ  وَلَيْلَةَ الجُمُعَةِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tiga orang yang Allah jaga dari siksa kubur: syahid, mu`adzin, dan orang yang wafat pada malam atau hari jum`at”.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم:  لَوْ يَعْلَم النَّاسُ مَا فِي النِّداءِ  والصَّفِّ الأوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ  لاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونُ ما في التَّهْجيرِ لاستبقوا إليه وَلَوْ  يَعْلَمُونَ مَا فِي العِتمَةِ والصُّبْحِ لأتوهُمَا وَلَوْ حَبْوا

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda :  “Seandainya manusia tahu apa yang ada dalam seruan (adzan) dan shaf  awal kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan mengundi,  niscaya mereka akan melakukan undian. Seandainya mereka tahu apa yang  ada dalam bersegera , niscaya mereka akan bersegera kepadanya.  Seandainya mereka tahu apa yang ada dalam shalat isya` dan subuh niscaya  mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

وقال صلى  الله عليه وسلم:  مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَقَبَّلَ إبْهَامَيْهِ فَوَضَعَ  عَلَى عَيْنيْه وَقالَ مَرْحبا بِذِكْرِ الله تَعَالى قُرة أعْيُنِنَا بِكَ  يَا رَسُولَ الله، فأنَا شَفِيعُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَقَائِدُهُ إلى  الجنَّةِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa mendengar adzan kemudian mencium kedua ibu jarinya,  kemudian meletakkan pada kedua matanya sambil membaca: marhaban  bidzikrillahi ta`ala qurratu a`yunina bika ya rasulullaah, maka akulah  pemberi syafaatnya di hari kiamat dan penutunnya ke surga”.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم:  إذَا كَانَ وَقْتُ الأَذَانِ فُتِحَتْ  أبْوَابُ السَّمَاءِ وَاسْتُجيبَ الدُّعَاءُ وإذا كَانَ وَقْتُ الإقَامَةِ  لَمْ تَرُدّ دَعْوَتُهُ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Jika waktu adzan tiba maka pintu-pintu langit dibuka dan do`a  dikabulkan. Jika datang waktu iqamat maka do`anya tidak ditolak.”

وقالَ صلى الله عليه وسلم:  مَنْ قَالَ عِنْدَ الأَذانِ مَرْحَبا  بالقَائِلينَ عَدْلاً، مَرْحَبَا بالصَّلواتِ وَأَهْلاً، كَتَبَ الله  تَعَالى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ  لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa mengucapkan ketika adzan:
مَرْحَبا  بالقَائِلينَ عَدْلاً، مَرْحَبَا بالصَّلواتِ وَأَهْلاً
“Selamat datang orang-orang  yang mengucapkan keadilan, selamat datang shalat-shalat dan keluarga”  maka Allah menetapkan baginya seribu kebaikan, menghapus seribu  kejelekan dan mengangkat seribu derajat”.

وقال صلى الله عليه  وسلم:  مَنْ سَمِعَ الأَذَانَ وَلَمْ يَقُلْ مِثْلَ مَا قَالَ المُؤَذِّنُ  فَإنَّهُ يُمْنَعُ مِنَ السُّجُودِ يَوْمَ القِيَامةِ إذَا سَجَدَ  المُؤَذِّنُونَ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa mendengar adzan kemudian tidak mengucapkan seperti yang  diucapkan mu`adzin, maka dia dihalangi bersujud di hari kiamat ketika  para muadzin bersujud”.

وَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم:   ثَلاَثَةٌ في ظِلِّ العَرْشِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إلاَّ ظِلُّهُ إمامٌ  عَادِلٌ وَمُؤَذِّنٌ حَافِظٌ وَقَارِىءُ القُرْآنِ يَقْرأ في كُلِّ  لَيْلَةٍ مائَتيْ آية

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Tiga orang dalam naungan arasy ketika tidak ada naungan kecuali  naungan-NYA : Pemimpin yang adil, muadzin yang menjaga, dan pembaca  Al-Qur`an yang membaca 200 ayat setiap malam”.


Selanjutnya klik disini

Sabtu, 18 Juli 2020

Terjemah riyadul badiah tentang solat

كتاب الصلاة

 فرض الله على هذه الأمة في كل يوم وليلة خمسة صلوات فقط، وهي: الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح، ولا تجب إلا على المسلم البالغ العاقل والطاهر من الحيض والنفاس بعد دخول وقتها، ولكل صلاة منها وقت محدود.

Kitab solat

Allah telah memfardukan terhadap umat ini dalam tiap hari dan tiap malam memfardukan lima solat saja, 5 itu ialah solat dhuhur, Asar, maghrib, isya, dan subuh. Solat yang lima itu tidak wajib kecuali terhadap orang islam yang balig, yang berakal, yang suci dari haid dan nifas, setelah masuk waktunya, bagi tiap solat dari lima tersebut terdapat waktu yang terbatas.

فوقت الظهر من زوال الشمس عن وسط السماء إلى أن يزيد ظل الشيء على مثله بعد ظل الاستواء. ووقت العصر من الزيادة على ظل المثل إلى غروب الشمس كلها. ووقت المغرب من تمام غروب الشمس حتى يغيب الشفق الأحمر. ووقت العشاء من مغيب الشفق الأحمر حتى يطلع أول الفجر الصادق. ووقت الصبح من طلوع أول الفجر الصادق حتى يطلع أول الشمس. ولا قضاء على الكافرر إذا أسلم، إلا المرتد، ولا على المجنون والمغمى عليه والسكران بعد صحوهم إلا إذا تعدوا بذلك، ولا على الصغير إذا بلغ.

Waktu solat dohor ialah mulai dari condongnya matahari dari tengah langit hingga bertambahnya bayangan sesuatu dari ukurannya, setelah bayangan istiwa /tegak (selain bayangan yang sudah condong pada saat istiwa). Waktu asar ialah dari tambahnya bayangan dengan bendanya hingga terbenamnya matahari seluruhnya. Waktu magrib ialah dari sempurnanya terbenamnya matahari hingga hilangnya mega merah. Waktu isya ialah dari hilangnya mega merah hingga munculnya fajar shodiq. Waktu subuh ialah dari munculnya awal fajar sodik hingga munculnya permulaan matahari. Orang kafir tidak wajib mengqodo solat ketika masuk islam kecuali orang murtad, tidak wajib pula orang gila , orang ayan/epilepsi, orang mabuk, setelah mereka sehat kecuali sengaja-sengaja dengan semua itu. Tidak wajib pula terhadap bocah ketika ia balig.

ويجب على الآباء والأمهات أن يأمروا أولادهم بالصلاة عند سبع سنين ويضربوهم على تركها عند عشر، والأفضل تعجيل الصلاة في أول وقتها، ويجوز تأخيرها عن أول الوقت ولو بلا عذر بشرط أن يعزم على فعلها قبل خروج الوقت، ومثل الصلاة في ذلك بقية الفروض الموسعة كالحج، ويجب على الشخص عند أول بلوغه أن يعزم على فعل جميع الواجبات والامتناع عن جميع المحرمات،

Wajib terhadap para bapa dan para ibu agar memerintahkan anak-anaknya untuk solat apabila telah berumur 7 tahun dan memukul mereka atas dasar tidak mengerjakan solat ketika telah berumur 10 tahun. Paling utamanya ialah menyegerakan solat diawal waktunya, boleh meng-akhirkan solat jauh dari awal waktu walau tanpa udzur dengan syarat berkemauan (azam) mengerjakannya sebelum waktu habis. Dan semisal solat dalam hal tersebut adalah seluruh fardu yang memiliki waktu yang luas seperti haji. Wajib terhadap seseorang ketika beranjak balig untuk berazam (bertekad) akan mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan segala yang diharamkan.

ومن جحد وجوب الصلاة عليه من المتكلفين فهو كافر مرتد، ويقتل كفراً إن لم يرجع إلى الإسلام ولا يصلى عليه ولا يدفن في قبور المسلمين فإن لم يجحد وجوبها وأخرها عن وقتها بلا عذر فهو مؤمن فاسق لكنه يقتل بشروط مذكورة في المطولات، ولا تسقط الصلاة عن أحد ولو اشتد عليه المرض إلا إذا غاب عقله بغير تعمد منه ولا عذر له في تأخيرها في الحضر عن وقتها ولو تكاثرت عليه الاشغال إلا إذا نسي بغير لعب أو نام قبل دخول وقتها ولم يتنبه إلا بعد فواتها، وإذا فاتت شخصاً فريضة بغير عذر وجب عليه قضاؤها على الفور، فإن فاتته بعذر وجب عليه قضاؤها على التراخي والأفضل له المبادرة بقضائها.

Barang siapa menyangkal (mengikari) terhadap kewajib solat kepadanya, sedangkan ia dari orang mukalaf, maka dia itu kafir dan murtad, dia dibunuh lantasan kufur bila ia tak kembali pada islam, ia (matinya) tidak disolati dan tidak dikubur dipekuburan orang islam, bila ia tidak meningkari kewajiban solat namun ia mengakhirkan solat dari waktunya (tidak mengerjakan solat) tanpa udzur maka ia itu orang mukmin yang fasik, ia tetap dibunuh dengan syarat-syarat yang disebut yang ada dalam kitab yang panjang pembahasannya. Tidaklah gugur (kewajiban) solat dari seseorang walau ia mengalami sakit keras kecuali akalnya hilang (hilang kesadarannya) tanpa disengaja-sengaja darinya. Tiada udzur bagi seseorang dalam mengahirkan (tidak mengaerjakan) solat pada waktunya pada saat hadir / mukim ditempat tinggalnya walau ia banyak kesibukan kecuali saat ia lupa tanpa main-main, atau ia tidur sebelum masuk waktu solat dan ia tidak terbangun kecuali setelah waktunya terlewat. Apabila seseorang melewatkan solat fardu tanpa udzur maka wajib ia bergegas meng-qodonya , bila melewatkannya ada udzur maka meng-qodonya tidak buru-buru waktunya, utamanya bergegas  meng-qodonya.

باب شروط الصلاة

الشروط لصحة الصلاة أربعة:
(الأول) الطهارة عن الحدثين وعن النجاسة التي لا يعفى عنها في الجسد والملبوس والمكان(والثاني) ستر العورة من أعلى البدن وجوانبه للقادر عليه ولو صلى في الظلمة منفرداً عن الناس وعورة الذكر والأمة في الصلاة ما بين السرة والركبة لكن يجب عليهما ستر السرة والركبة أيضاً، وعورة الحرة الكاملة جميع بدنها إلا الوجه والكفين، ومن عجز عن ستر عورته في الصلاة صلى عارياً ولا إعادة عليه.

Bab syarat-syarat solat

Syarat-syarat untuk sahnya solat ada empat : 1. Suci dari dua hadats dan dari najis yang tidak dimaaf darinya pada jasad/ seluruh tubuh, pakaian dan tempat. 2. Tertutupnya aurat dari atas dan samping-sampingnya bagi yang mampu menutupnya, walau ia solat dikegelapan juga sendirian jauh dari mamusia lain. Aurat laki-laki dan Amat (budak perempuan) pada solat ialah apa yang berada antara pusar dan dengkul tapi wajib menutupi atas keduanya pula pusar dan dengkul, Aurat perempuan merdeka sempurna (bukan budak) ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua tapak tangan, barangsiapa tidak mampu menutup auratnya dalam solat maka ia solatnya sambil telanjang dan ia tidak usah mengulangi solatnya.

(والثالث) دخول الوقت ولو بغلبة الظن في الصلاة المؤقتة كالفرض الأصلي وتوابعه ووجود السبب يقيناً في التي لها سبب كصلاة الخسوف فلا تصح صلاة مؤقتة حتى يدخل وقتها، ولا صلاة لها سبب حتى يوجد سببها يقيناً.(والرابع) استقبال عين الكعبة يقيناً في القرب وظناً في البعد إلا في نافلة السفر وصلاة شدة الخوف.

3. Masuk waktu walau dengan sangkaan yang kuat pada solat diwaktu-waktu, seperti solat fardu yang asli dan yang mengikutinya(rawatib), dan adanya sebab secara yakin pada solat yang memiliki sebab seperti solat gerhana. Maka tidak sah solat yang memiliki waktu hingga masuk waktunya, dan tidak sah solat yang memiliki sebab  hingga ditemukan sebabnya secara yakin.
4. Menghadap ain ka'bah secara yakin ketika dekat secara dhon (sangkaan yang kuat) ketika jauh kecuali pada sunah safar (bepergian) dan solat sidatul khauf (solat ketika perang).

باب أركان الصلاة
أركانها ثلاثة عشر:(الأول) النية مقرونة بجزء من تكبيرة الإحرام، (والثاني) القيام في الفرض للقادر عليه ومن عجز عن القيام صلى جالساً فإن عجز عن الجلوس اضطجع على جنبه واستقبل القبلة بوجهه ومقدم بدنه، ويكره أن يضطجع على الجنب الأيسر من غير عذر، فإن عجز عن الاضطجاع استلقى على ظهره، ويجب عليه أن يرفع رأسه بشيء ليستقبل القبلة بوجهه، وأن يجلس للركوع والسجود إن أمكنه ذلك، فإن عجز أشار برأسه، فإن عجز أشار بأجفانه، فإن عجز أجرى أركان الصلاة على قلبه وفي جميع ذلك لا ينقص من أجره شيء، ويجوز للقادر أن يصلي النفل قاعداً ومضطجعاً، لكن ثواب القاعد نصف ثواب القائم، وثواب المضطجع نصف ثواب القاعد.

Bab rukun-rukun solat

Rukun-rukun solat ada 13, yang pertama ialah niat sambil dibarengkan dengan sebagian dari takbiratul ihram. 2. Berdiri pada solat fardu bagi yang kuasa berdiri, barangsiapa tidak mampu berdiri maka ia solat sambil duduk, bila ia tidak kuasa duduk maka dia solat sambil tiduran miring dan menghadap qiblat dengan wajahnya dan bagian depan badannya, dimakruhkan ia tiduran miring diatas lambungnya yang kiri tanpa udzur, bila ia tidak kuasa tiduran miring maka ia tiduran terlentang diatas punggungnya (punggung dibawah perut diatas) dan wajib terhadap dia (yang solat terlentang) mengangkat kepalanya dengan sesuatu supaya menghadap kiblat, dan bahwasanya ia duduk untuk ruku' dan sujud bila itu memungkinkan, bila ia tidak kuasa (ruku dan sujud dengan duduk) maka ia isyarah dengan kepalanya, bila ia tidak kuasa maka ia isyarah dengan kelopak matanya, bila ia tidak kuasa maka ia menjalankan rukun-rukun solat dengan hatinya, pada semua itu tidak mengurangi sesuatu pun dari pahalanya. Orang yang mampu berdiri boleh melakukan solat sunah sambil duduk dan tiduran miring tetapi pahala orang yang solatnya duduk adalah separuhnya pahala orang yang solatnya berdiri dan pahala orang yang solatnya tiduran miring adalah separuhnya pahala orang yang solatnya duduk.

  
(والثالث) تكبيرة الإحرام ويتعين فيها الله أكبر فلا تصح بغير ذلك للقادر عليه والعاجز عنه يأتي بما قدر عليه ولو بغير العربية، والسنة عقب هذه التكبيرة أن يقرأ دعاء الافتتاح ثم يتعوّذ من الشيطان الرجيم.
(والرابع) قراءة الفاتحة بالبمسلة في قيام كل ركعة والمسبوق يتحملها عنه الإمام إن كان أهلاً للتحمل، ويجب ترتيب الفاتحة وموالاتها وتجويد حروفها ومراعاة تشديداتها الأربع عشرة، ومن عجز عن الفاتحة قرأ بدلها سبع آيات من القرآن، فإن عجز عن القرآن أتى بسبعة أنواع من الذكر، فإن عجز عن الذكر وقف ساكتاً بقدرها ولا يترجم عنها، والسنة أن يقرأ سورة أو شيئاً من القرآن بعد الفاتحة في كل ركعة من الصلاة الثنائية وفي الركعتين الأولتين فقط من الثلاثية والرباعية.

yang ketiga (rukun solat) ialah Takbiratulihram dan nyata pada takbiratulihram lafaz Allahu akbar ( الله اكبر ) maka tidak sah dengan selain itu bagi yang kuasa mengucapkan Allahu akbar, orang yang tidak kuasa dari berucap Allahu akbar ia melakukan dengan apa yang ia bisa terhadap Allahu akbar walau dengan selain bahasa arab, sunah selepas takbir ini untuk membaca doa iftitah kemudian bertaawud (meminta perlindungan pada Allah) dari syetan yang  dirajam/ yang terkutuk.
yang ke-empatnya ialah bacaan fatihah dengan basmalah (بسم الله  الرحمن الرحيم )
pada tiap-tiap rakaat, Makmum masbuk (makmum yang datangnya terlambat) imam yang menanggung fatihahnya dia bila keadaan imam ahli dalam menanggung, wajib tartibnya fatihah, mualatnya fatihah, membaguskan huruf-hurufnya fatihah, dan menjaga tasdid-tasdidnya fatihah yang ada 14, barangsiapa tidak bisa baca fatihah maka ia membaca pengganti fatihah yaitu 7 ayat-ayat dari Alquran, bila tidak bisa dari ayat-ayat Alquran maka ia baca tujuh macam dzikir, bila tidak bisa dari dzikir maka ia diam saja seukuran bacaan fatihah, dan ia tidak boleh menterjemahkan fatihah, Sunah membaca surat atau sesuatu dari Alquran setelah baca fatihah pada tiap-tiap rokaat dari solat yang tergolong dua rakaat dan pada dua rakaat yang awal saja dari solat yang tergolong tiga rakaat dan tergolong empat rakaat.

(والخامس) الركوع مقروناً بالطمأنينة حتى تستقر الأعضاء، والواجب فيه أن ينحني بعد الفاتحة حتى تصل كفاه إلى ركبتيه إن كان معتدل الخلقة، والسنة أن يسوي فيه ظهره وعنقه كصفيحة وينصب ساقيه ويأخذ ركبتيه بيديه مع تفريق أصابعهما ويقول فيه: سبحان ربي العظيم، وأدنى الكمال ثلاث مرات.
(والسادس) الاعتدال مقروناً بالطمأنينة حتى تستقر الأعضاء، والواجب فيه أن يعود الرافع لما كان عليه قبله، والسنة أن يقول في حال رفعه من الركوع: سمع الله لمن حمده فإذا اعتدل قال؛ ربنا لك الحمد، وإن يقنت في اعتدال الركعة الأخيرة من الصبح كل يوم ومن الوتر في النصف الثاني من رمضان.

yang kelima rukun solat ialah Ruku' dibarengkan dengan tuma'ninah hingga anggota-anggota badan tenang (tak bergerak), yang wajib pada ruku' ialah condongnya anggota badan (melengkung kedepan) hingga kedua tapak tangan mencapai kedua dengkul bila ia (orang yang solat) normal bentuk tubuhnya. Sunahnya ialah ia meratakan punggung dan leher belakangnya seperti satu papan dan ia menegakkan kedua betisnya dan kedua tangannya menggapai kedua lututnya sambil merenggangkan jari-jari kedua tangannya, dan ia berucap : سبحان ربى العظيم  SUBHAANA ROBBIYAL 'ADHIIM, mahasuci tuhanku yang agung, sedikitnya kesempurnaan adalah 3 kali baca. yang keenamnya ialah I'tidal dibarengkan dengan tuma'ninah hingga tenanglah anggota-anggota badan, yang wajib padanya ialah ia kembali setelah ruku' untuk keadaan yang sebelumnya. Sunahnya bahwasanya ia berucap ketika beranjak berdiri dari ruku': سمع الله لمن حمده  SAMI'ALLAAHULIMAN HAMIDAH Allah mendengar terhadap orang yang memujinya, yakni menerima pujian orang itu. Ketika ia (orang yang solat) sudah tegak ia berucap: ربنا لك الحمد  ROBBANA LAKAL HAMDU, ya tuhan kami bagimu segala puji, dan (sunah) untuk berdoa qunut pada itidal rakaat terahir dari solat subuh tiap hari dan dari itidal solat witir pada separuh kedua pada bulan romadon.

(والسابع) السجود مرتين مقروناً بالطمأنينة، ويشترط فيه أن يسجد على جبهته مكشوفة وعلى ركبتيه وعلى جزء من بطون يديه وجزء من بطون أصابع قدميه، وأن يرفع أسافله على أعاليه، وأن يتثاقل برأسه حتى يحس بالثقل، والسنة أن يسجد على أنفه ويقول في سجوده: سبحان ربي الأعلى وبحمده، وأدنى الكمال ثلاث وأن يكثر فيه من الدعاء.
(والثامن) الجلوس بين السجدتين مقروناً بالطمأنينة، والسنة أن يقول فيه: رب اغفر لي وارحمني وارفعني واجبرني وارزقني واهدني وعافني واعف عني.
(والتاسع) الجلوس الأخير الذي يسلم عقبه غالباً.

yang ketujuh rukun solat ialah sujud dua kali dibarengkan dengan tuma'ninah, disyaratkan dalam sujud bahwasanya ia (orang yang solat) sujud di dahinya yang terbuka (tidak tertutup peci atau mukena), pada dua lututnya, pada bagian dalam kedua tangannya dan dalamnya  jari-jari dua tapak kakinya, (wajib meletakkan anggota sujud yang tujuh ini pada tempat solat[seperti sajadah atau keramik] dalam satu waktu), dan bahwasanya ia mengangkat bawahnya dia (pantat dan sekelilingnya) melebihi atasnya dia (yakni kepala, kedua pundak, dan kedua tangannya) dan bahwasanya ia menekankan kepalanya hingga terasa berat. Sunah bahwasanya ia sujud pada hidungnya, dan berucap pada sujudnya: سبحان ربى الاعلى وبحمده  SUBHAANA ROBBIYAL 'ALAA WABIHAMDIHI, maha suci tuhan kami yang maha tinggi, sedikitnya kesempurnaan adalah tiga kali, dan bahwasanya sunah ia memperbanyak doa dalam sujud. Kedelapan rukun solat ialah duduk antara dua sujud dibarengkan dengan tuma'ninah. Sunah bahwasanya ia berucap dalam duduk itu:
رب اغفرلى وارحمنى وارفعنى واجبرنى وارزقنى واهدنى وعافنى واعف عنى 
ROBBIGFIRLII WARHAMNII WARFA'NII WAJBURNII WARZUQNII WAHDINII WA'AAFINII WA'FU 'ANNII, ya tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, angkatlah (derajat) ku, kayakanlah aku, beri rizkikan aku, tunjukilah aku, selamatkanlah aku, dan maafkanlah aku. Kesembilannya ialah duduk yang Akhir yang ia (orang yang solat) ber-uluk salam setelahnya, pada umumnya.

(والعاشر) قراءة التشهد في هذا الجلوس وهو التحيات إلي وأشهد أن محمداً رسول الله.(والحادي عشر) الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الجلوس أيضاً بعد قراءة التشهد وأقلها اللهم صلِّ على محمد وأكملها مذكور في المطولات.
(والثاني عشر) التسليمة الأولى والواجب فيه السلام عليكم، والسنة أن يزيد: ورحمة الله وأن يسلمها على اليمين وأن يسلم بعدها تسليمة ثانية على الشمال، وأن يلتفت مع كل تسليمة إلى جهتها.
(والثالث عشر) ترتيب الأركان على هذا الوجه المذكور.

Yang kesepuluh rukun solat ialah bacaan tasyahud pada duduk ini (duduk ahir) bacaan tasyahud itu ialah: التحيات  hingga lafad وأشهد أن محمداً رسول الله
{Selangkapnya}

ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ِﻟﻠﻪِ، ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ، ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺒَﺎﺩِﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ ﻵ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪُ،

yang kesebelasnya ialah bacaan solawat pada nabi SAW, dalam duduk ini juga setelah bacaan tasyahud, sedikitnya bacaan solawat ialah: اللهم صلِّ على محمد , ALLAHUMMA SHOLLI 'ALAA MUHAMMAD,  sempurnanya solawat ialah disebutkan dalam kitab yang panjang pembahasannya.  Keduabelas rukun solat ialah uluk salam pertama, yang wajib padanya ialah: السلام عليكم، ASSALAMU 'ALAIKUM, sunahnya menambahi : ورحمة الله  , WAROHMAULLOH, sunahya beruluk salam kearah kanan, dan sunah setelah beruluk salam pertama untuk beruluk salam kedua kearah kiri, sunah bahwasanya ia (orang yang solat) menoleh serta tiap salam kearahnya. yang ketiga belas rukun solat ialah tartibnya rukun terhadap rupa yang telah disibutkan ini.


Selanjutnya klik disini

Terjemah kitab kuning

Taqrib tengah Safinatun naja   Fathul muin Nashoihul ibad Syarah sittin Jurumiah Riyadul badiah Ta'limul muta...